Koran Jakarta | June 18 2018
No Comments

Yang Tampak Sepele Sering Penuh Makna

Yang Tampak Sepele Sering Penuh Makna
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Bakat Menggonggong

Penulis : Dea Anugrah

Penerbit : Mojok

Cetakan : 2016

ISBN : 978-602-1318-59-1

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek. Kisah awal buku ini berjudul Kemurkaan Pemuda E. Kemarahannya digambarkan secara eksplisit lewat gestur-gestur kecil Pemuda E seperti ketika membuka toples acar.

Cerita-cerita terbagi atas empat kategori. Pertama, cerita-cerita dengan judul Masalah Rumah Tangga, Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada. Ada juga Masalah Rumah Tangga menceritakan suami yang terus mengeluh. Benang utama cerita pendek ini sebenarnya tersurat pada kalimat “Jadi, menurutmu, bantuan apa yang bisa kita berikan kepada orang dewasa yang tidak sanggup menyelesaikan masalahnya. Sementara itu, kita sendiri tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut?”

Selanjutnya, ketegori kedua ada dalam cerita pendek berjudul Kisan Afonso, Penembak Jitu, dan Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu. Yang terakhir paling mengesan karena menceritakan kedekatan seorang wartawan dan narasumbernya. Saat sang narasumber menunjuk foto mantan istrinya pada wartawan yang hanya diam sambil bimbang tak tahu harus bereaksi seperti apa. Normalnya, sebagai wartawan biasa banyak Tanya. Wartawan diam karena ingin berhati-hati.

Dalam ketegori ketiga semua cerita punya judul sama, Kisah Sedih Kontemporer dengan tambahan angka IV, XII, XXIV, dan IX. Mereka menceritakan tentang harta gono-gini dan hak asuh anak dalam rumah tangga. Semuanya dibiarkan tak beraturan, seperti orang mabuk yang limbung ke sana kemari.

Terakhir kategori wejangan dalam judul-judulnya. Karakter santri terlihat dalam Kisah dan Pedoman, Perbedaan Baik dan Buruk, dan Tamasya Pencegah Bunuh Diri. Dalam Kisah dan Pedoman diceritakan penderita ayan yang tengah mendengar cerita pedagang karpet.

Secara keseluruhan, buku menunjukkan tentang hal kecil dalam kehidupan yang kadang sepele, namun bermakna. Buku Bakat Menggonggong seolah tak peduli dengan kaidah penulisan. Misal dengan banyak penggunaan kata ‘dan’ dalam satu kalimat. Hal ini mengingatkan novel karya Ernest Hemingway, Salju Kilimanjaro.

Buku memiliki teknik penceritaannya tersendiri seperti dalam Kisah Sedih Kontemporer XXIV yang dibuat seolah kalimatnya diulang-ulang. Hal ini juga dapat ditemukan dalam salah satu cerita pendek Djenar Maesa Ayu pada bukunya Jangan Main-main. Pengulangan ini sebenarnya membentuk irama dan bermakna kesan penegasan kembali yang mau disampaikan tokoh-tokoh dalam cerita pendek.

Buku ini cocok bagi penikmat diksi yang tidak keberatan dengan kebebasan penulisnya berekspresi dan tidak cocok bagi orang-orang yang belum mampu menginterpretasi, tanpa menghakimi. Ide-ide kebanyakan dari cerita-cerita dalam buku ini ditelurkan dari realitas masyarakat, justru menonjolkan hal kecil yang bisa jadi besar.

Buku ini harus dibaca dengan konsentrasi tinggi dan perenungan setelahnya. Ide, teknik bercerita, penuturan, dan diksi-diksinya memang bereferensi pada penulis-penulis besar. Namun di situ pula penulis membangun jati dirinya dan menjadikan buku ini terbit.
Diresensi Meilita Rinalti, Mahasiswi Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment