Koran Jakarta | November 22 2019
No Comments

Wendo Wariskan “Keluarga Cemara”

Wendo Wariskan “Keluarga Cemara”

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh andil h siregar

Harta yang paling berharga adalah ke­luarga. Istana yang paling indah adalah ke­luarga,” demikian penggalan lagu Harta Berharga yang dicip­takan mendiang Arswendo. Lagu ini juga dikumandangkan dalam Misa Requiem pelepasan jenazah Arswendo Atmowiloto, Sabtu (20/7/2019) siang.

Saya pribadi mengetahui sosok Arsewendo karena sinet­ronya, Keluarga Cemara. Sine­tron televisi ini sangat terkenal tahun 1996 hingga 2005 lalu. Pemeran utamanya, Novia Kol­opaking, Lia Waroka, serta Adi Kurdi. Nama yang disebut per­tama inilah yang sekaligus me­nyanyikan lagu soundtrack yang sampai sekarang mungkin ma­sih terngiang di telinga peng­gemarnya, “Harta yang Paling Berharga Adalah Keluarga.”

Selanjutnya, pada 3 Janu­ari 2019 yang lalu, Visinema Pictures menayangkan versi re­make layar lebar dari Keluarga Cemara dengan Nirina Zubir (sebagai Emak), Ringgo Agus Rahman (sebagai Abah), serta Zara JKT48 (serta Teh Euis) se­bagai bintang utamanya. Tem­bang yang sama tetap diguna­kan sebagai lagu latar, namun saat itu dibawakan Bunga Citra Lestari dengan judul disederha­nakan, Harta Berharga.

Sosok yang biasa dipanggil Wendo itu, sejalan dengan film Keluarga Cemara. Dia sederha­na dan mencintai keluarga. “Di saat terakhir yang kami rasakan adalah keluarga. Sesederhana apa pun momen saya, adalah berkesan, termasuk makan ber­sama,” demikian ujar Caecilia Tiara, putrinya. Lebih lanjut, putrinya mengatakan bahwa Ayahnya selalu memberikan pesan-pesan kehidupan kepada anak-anak.

Demikianlah Arsewendo. Yang dituliskan dalam Keluarga Cemara berbuah dalam ke­luarga sejatinya atau mungkin terinspirasi dari pengalamanya dalam keluarga. Inilah yang menjadi pelajaran kita. Tu­lisannya seperti selaras dengan karya Pramoedya Ananta Toer dalam Menggelinding 1 (2004). “Keluarga adalah lembaga yang menjadi pangkal mula ke­hidupan manusia. Payung yang melindungi keturun­an manusia dari hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan istri men­dapat atau tidak mendapat kebahagiaan.”

Dewasa ini dengan berbagai alasan banyak dari kita yang ku­rang memperhatikan keluarga karena sibuk. Padahal semua bermula dari keluarga. Akan te­tapi, banyak di antara kita men­jadikan keluarga seperti per­singgahan semata. Inilah yang menjadi tantangan kita dan keluarga-keluarga Indonesia ke depan. Di luar kekurangan har­ta benda, kehidupan dalam film Keluarga Cemara layak sebagai contoh yang ideal bagi keluarga Indonesia.

Lewat film ini, tiap-tiap ang­gota keluarga dipanggil kem­bali agar sadar akan peran ma­sing-masing dalam keluarga. Orang tua hendaklah menya­dari peran utamanya dalam keluarga. Dalam lagu itu di­nyatakan orang tua yang tampil perkasa bagi anak-anak. Tampil perkasa yang dimaksud bukan semata memenuhi kebutuhan anak-anak dengan materi, na­mun kesedian memberi waktu yang cukup buat anak-anak. Ba­nyak orang tua karena mengejar harta dan meteri, sehingga lupa keluarga.

Demikian juga sebagai se­orang anak, hendaknya juga me­nyadari yang harus dilakukan sebagai seorang anak. Dalam li­rik lagunya, Arswendo juga me­nyatakan putra-putri yang siap berbakti. Ini menuntut peran setiap anak dalam keluarga un­tuk senantiasa berbakti kepada orang tua. Seringkali karena persoalan-persoalan kecil da­lam keluarga, anak-anak lupa berbakti kepada orang tua.

Mewujudkan orang tua yang perkasa dan anak berbakti da­pat terbangun jika ada komu­nikasi yang baik antarsesama anggota keluarga. Inilah yang dapat dilihat pada film Keluarga Cemara. Kehidupan Abah dan keluarganya di pelosok Su­kabumi banyak menginspirasi pemirsa. Kejujuran, kerja keras, dan keceriaan seakan-akan jadi penawar kesusahan dalam menjalani hidup pas-pasan. Keluarga Cemara gambaran ke­luarga harmonis yang diharap­kan dapat diteladani.

Tema Keluarga

Dalam keseharian, per­masalahan dalam keluarga tentu bisa saja lebih kompleks. Arswendo juga pernah menu­liskan dalam beberapa buku bertema keluarga dengan per­masalahan lebih beragam, di antaranya Dua Ibu (1980), Projo dan Brojo (1994), dan 3 Cinta 1 Pria (2008). Beberapa karya ini juga menjadi warisan untuk semua agar dapat melihat dan menyikapi keluarga dari sudut pandang berbeda. Kehidupan tak selamanya manis seperti pada film Keluarga Cemara.

Akan tetapi, sekalipun ma­salah cukup beragam, semua tentu bercita-cita untuk me­wujudkan keluarga yang har­monis. Keluarga yang harmonis akan membuat keluarga hebat dan kuat. Jika keluarga kuat, majulah negara. Sebaliknya, jika keluarga rapuh, hancurlah negara. Jadi sebelum berbicara dan membahas menteri yang akan duduk di kabinet Jokowi, baiklah juga membahas yang utama dan dekat yakni: se­jauh mana dan seberapa besar kita telah berperan dalam ke­luarga?

Melihat dan mengevaluasi peran dalam keluarga tentu da­pat dimulai dengan meningkat­kan peran dalam membangun komunikasi yang baik. Dengan pertemuan dan komunikasi ru­tin antarsesama anggota akan dapat membangun keluarga yang harmonis. Hingga nyatalah tulisan Arswendo pada keluarga kita. Keluarga adalah harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara.

Arswendo telah pergi me­ninggalkan semua, akan tetapi karya-karyanya tidak akan per­nah mati. Keluarga Cemara salah satu warisan untuk kelu­arga-keluarga Indonesia. Semo­ga keteladanan dan nilai-nilai baik dari karya-karyamu dapat berbuah juga dalam setiap ke­luarga. Penulis Guru SMP-SMA Budi Murni 3 Medan

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment