Koran Jakarta | November 22 2019
No Comments
PERADA

Warisan Spiritual Anthony de Mello

Warisan Spiritual Anthony de Mello

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

 

 

Siapa pun yang mencintai warisan spiritual Pastor Anthony de Mello, buku ini akan memperlihatkan dan menghadirkan kekayaan yang selama ini tersembunyi dari karya-karyanya yang telah dipublikasikan. Isinya, pengalaman spiritual pribadi sebagai Jesuit. Jesuit adalah anggota Ordo Serikat Yesus yang didirikan oleh St Ignatius Loyola.

Sebelum masuk pada ajaran spiritual de Mello, bab awal buku mengisahkan tentang St Ignatius Loyola. Dia bungsu dari 13 bersaudara. Nama kecilnya adalah Inigo. Dia mengubah nama baptisnya itu menjadi Ignatius bertahun-tahun kemudian setelah tinggal di Roma. Saat dewasa, dia memutuskan menjadi tentara.

Pada tahun 1521, saat mempertahankan kota Pamplona dari serangan tentara Prancis, ia terkena hantaman peluru meriam yang melukai salah satu kakinya dan mematahkan kaki lain.“Selama masa penyembuhan, dia mengisi waktu dengan membaca buku tentang kisah kehidupan orang kudus dan Yesus Kristus. Berkat refleksi dalam buku-buku tersebut, Inigo mengalami pertobatan mendalam,” (hlm xii).

Pengalaman rohani selama masa penyembuhan tersebut bertahuntahun kemudian sangat mewarnai ajaran latihan rohani (LR) yang disusun. Inigo menghabiskan waktu selama hampir 20 tahun untuk menyusun LR.

Menurut pengamatan de Mello, buku manual Ignatius ini seperti buku masak. Tidak ada yang lebih kering dari buku masak. Tetapi, jika seseorang memasukkan semua bumbu dan bahan bersamasama dalam porsi tepat, akan menghasilkan sesuatu. Bahkan bagi mereka yang bukan pembimbing rohani, LR adalah koleksi wawasan rohani amat kaya.

LR telah digunakan para Jesuit serta awam selama ratusan tahun. LR dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama, meditasi untuk mengenal dosa dan akibat-akibatnya dengan tujuan mengalami penyesalan mendalam dan pembalikan arah total menuju Tuhan. Bagian kedua, berfokus pada kehidupan Yesus Kristus.

Bagian ketiga, bicara sengsara dan wafat Kristus. Bagian keempat, berkontemplasi mengenai kebangkitan Kristus dan kehidupan setelah kebangkitan-Nya. Latihan terakhir disebut konsentrasi untuk mendapat cinta. Tujuannya, memperoleh anugerah menemukan Tuhan dalam segala. LR memungkinkan orang mencintai Allah dan tak satu pun ciptaan di Bumi menjadi pusat gravitasi hidup. Mencintai Allah tidak berarti orang harus meninggalkan cinta-cinta lain. Hanya harus memindahkan pusat gravitasi hati manusia kepada Kristus.

Kemudian yang lain akan menjadi relatif. Tidak satu pun kedekatan pada ciptaan yang boleh menjadi pusat cinta. De Mello menekankan peran keheningan dan kesendirian sebagai syarat mencapai pertumbuhan rohani sepeti itu. Keheningan merupakan kekayaan paling berharga. Dia bisa menyakitkan, tetapi dapat membawa pemurnian dan membuat orang berhadapan dengan diri sendiri dan Tuhan.

Dia memperingatkan agar retretan atau seseorang yang sedang melakukan LR tidak banyak membaca karena dapat menjadi alat pembelaan diri saat berhadapan dengan Tuhan. Orang yang membaca dalam situasi LR hanya akan membaca segala sesuatu tentang Tuhan, namun tidak membuka diri kepada-Nya.

Dia menekankan pentingnya kesetiaan pada tiap program doa selama LR dengan menentukan waktu dan mematuhi jadwal. Doa ada pasang surutnya. Kadang-kadang orang enggan, tetapi sekaligus bergairah. Kadang merasakan keduanya pada waktu sama. Tidak ada doa instan seperti tidak ada juga yang namanya cinta instan. Semua membutuhkan waktu.

Untuk berhubungan dengan Tuhan harus menyediakan waktu. De Mello menjanjikan, mereka yang melakukan LR tulus dan setia akan dibawa pada suatu pengalaman mistis. Mereka akan disatukan yang mendalam dengan Tuhan. 

 

Diresensi Moh Zammil Rosi, Alumnus STKIP Sumenep

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment