Koran Jakarta | October 22 2017
No Comments

Warga di Bukit Matantimali Itu Segera Dapat Aliran Listrik

Warga di Bukit Matantimali Itu Segera Dapat Aliran Listrik

Foto : istimewa
Bantu Membangun PLTMH - Sejumlah warga Desa Lewara, Kecamatan Marawola Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, membantu membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), di daerah tersebut, baru-baru ini.
A   A   A   Pengaturan Font

Sebagian warga Desa Lewara, Kecamatan Marawola Barat, Kabupa­ten Sigi, Sulawesi Tengah, akan segera menikmati aliran listrik. Desa yang berada di bukit Matantimali dengan ketinggi­an sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut ini memang belum dapat aliran listrik PLN karena memang kondisinya terpencil. Desa ini berjarak se­kitar 90 kilometer dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah, Palu.

Untuk mencapai lokasi tersebut dapat dijangkau de­ngan perjalanan darat selama satu jam menggunakan mobil dari pusat Kota Palu hingga akses jalan terakhir yang dapat dilewati mobil di Desa Matan­timali. Selanjutnya, perjalanan ke Lewara harus ditempuh dengan ojek khusus selama 30 menit melalui jalan setapak berbatu selebar satu meter.

Menyusuri jalanan yang tidak rata penuh dengan tanjakan, turunan, dan kelokan tajam di sepanjang lereng Gunung Matantimali dan sisi lain jurang yang cukup dalam menambah berat perjalanan menuju Desa Lewara. Semen­tara pada musim hujan, jalanan semakin sulit dilewati karena bukit rawan longsor.

Kondisi ini mendorong tim peneliti Fakultas Teknik Uni­versitas Gadjah Mada (UGM) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di daerah tersebut. Pembangunan PLTMH dilaku­kan untuk memenuhi kebutuh­an listrik yang selama ini belum terlayani oleh PLN karena lokasi yang terpencil.

Tim dari UGM tersebut adalah Suprapto Siswosukarto, Bambang Yulistiyanto, Aris Sunantyo, dan Prajitno. Mereka memulai membangun PLTMH dengan memanfaatkan aliran Sungai Lewara sebagai pem­bangkit listrik. Pengembangan PLTMH dimulai Februari 2017, ditargetkan selesai pada akhir Desember 2017.

Desa Lewara terdiri dari lima dusun yang seluruhnya belum mendapatkan aliran lis­trik dari pemerintah. Pembang­kit listrik yang dibangun UGM ini berada sekitar 200 meter dari pemukiman penduduk, tepatnya di Dusun I Lewara yang memiliki 100 keluarga dengan penduduk sekitar 300 jiwa. Memanfaatkan aliran Sungai Lewara yang memiliki debit kritis 90-100 liter per detik dirancang dapat mengaliri lis­trik untuk 100 keluarga.

“Kami manfaatkan aliran Sungai Lewara untuk pem­bangkit listrik dengan kapasitas 10 Kilowatt. Dalam tahap awal akan dialirkan ke 100 rumah sehingga masing-masing men­dapat aliran listrik sebasar 100 watt,” kata Ketua Tim Peneliti UGM, Suprapto Siswosukarto, di Yogyakarta, belum lama ini.

Bekerja Sama

Prapto menyampaikan warga Lewara telah lama memimpikan menikmati aliran listrik. Untuk itu, melalui pro­gram Community Resilience and Economic Development, UGM bekerja sama dengan pemerintah Selandia Baru berupaya membangun daerah tertinggal di Indonesia timur, salah satunya menghadirkan listrik bagi masyarakat Lewara.

“Adanya PLTMH ini tidak hanya untuk menghadirkan listrik bagi warga saja, namun mampu meningkatkan pe­ngembangan potensi ekonomi masyarakat,” kata Prapto.

Masyarakat Lewara tergo­long miskin dengan tingkat pendidikan rendah. Mayoritas bekerja sebagai petani kakao, kopi, jagung, dan cengkeh dengan penghasilan kurang dari satu juta rupiah per bu­lan. Ketiadaan listrik semakin mempersulit warga untuk berkembang. Dengan ada­nya listrik diharapkan dapat mendukung kegiatan warga se­hingga mampu meningkatkan perekonomian mereka.

Warga Kampung I Lewara, Naji (53 tahun), menuturkan warga Lewara sudah lama mengharapkan kehadiran listrik. Namun hingga saat ini, mereka belum dapat menik­mati listrik secara langsung. Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tetapi Lewara belum merdeka. Setiap malam warga hidup dalam gelap, hanya bisa memandang dari kejauhan kelap-kelip lampu di Kota Palu.

Untuk penerangan di malam hari, selama ini warga menggunakan lampu dari minyak tanah. Dalam bebe­rapa tahun terakhir, sebagian kecil ada yang menggunakan genset dan panel surya. De­ngan genset untuk menyalakan lampu dari pukul 18.00–23.00 Wita membutuhkan dua liter bensin, sementara harga bensin di wilayah ini 10 ribu per liter.

Dengan demikian, pemilik genset harus mengeluarkan 600 ribu per bulan untuk pene­rangan. “Kami senang dan ber­syukur dengan pembangunan PLTMH ini, semoga bisa segera menikmati listrik,” kata Naji.

Kepala Desa Lewara, Yude, menyambut gembira pemba­ngunan PLTMH yang dilaku­kan UGM. Dengan adanya lis­trik akan membawa kemajuan dan mengembangkan potensi usaha di masyarakat, seperti pengolahan hasil perkebunan, bengkel sepeda, dan lainnya.

n YK/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment