Virus Korona dan Tantangan Film Indonesia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Covid-19

Virus Korona dan Tantangan Film Indonesia

Virus Korona dan Tantangan Film Indonesia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pandemi virus korona baru, Covid-19, membawa banyak pengaruh pada berbagai segi kehidupan tak terkecuali di dunia film, pada masa ini industri film dunia dan Tanah Air harus melewati banyak tantangan

Sejak wabah virus korona menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia, bioskop-bioskop di seluruh dunia memutuskan untuk tutup sementara waktu guna mencegah penularan virus.

Tak hanya itu tanggal tayang film dan rencana produksi juga terpaksa ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan. “Industri berhenti total tapi bukan kita doang yang harus mengalami seperti ini. Sekarang secara kegiatan syuting juga sudah tidak berjalan.

Bukan hanya film sih tapi teman-teman televisi juga udah mulai distop sama pemerintah,” ujar Ernest Prakasa. Penundaan jadwal rilis film efeknya tidak hanya terjadi pada satu film terkait saja.

Ini juga akan mempengaruhi barisan film lain yang juga sudah memiliki jadwal antrean tayang. Di Hollywood saja setidaknya ada tujuh film besar yang terpaksa menangguhkan peluncuran filmnya. Mereka adalah Mulan, The New Mutants, Antlers, Wonder Woman 1984, Fast and Furious 9, James Bond: No Time to Die dan A Quiet Place.

Sementara di Indonesia ada lebih dari enam film yang menunda jadwal tayangnya, seperti KKN di Desa Penari, Tersanjung The Movie, Jodohku yang Mana?, Roh Mati Paksa, Djoerig Salawe, Bucin, Malik & Elsa, Tarung Sarung, Serigala Langit dan Generasi 90-an: Melankolia. Produser Rapi Films, Sunil Samtani mengatakan Bucin adalah salah satu filmnya yang mengalami penundaan.

Namun tidak ada yang bisa dilakukan olehnya apalagi bioskop yang menjadi tempat penayangan film juga ditutup. “Film yang kena efek ya Bucin. Kita udah promo-promo, secara keuangan kita udah promo kiri-kanan, sudah roadshow, billboard, semua sudah siap tapi kita mau gimana lagi,” ujar Sunil.

Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) telah mengimbau kepada seluruh perusahaan film untuk menghentikan kegiatan produksi film seperti syuting untuk sementara waktu guna menghentikan penyebaran virus corona.

Bagi Sunil, penundaan waktu syuting sangat berpengaruh pada kelangsungan film lainnya. Sebab biasanya, para pemain film dan kru sudah memiliki jadwal yang tidak bisa digantikan. Sunil mengatakan di sinilah tantangan terberatnya sebagai rumah produksi, apalagi Rapi Films memiliki dua judul film yang harus syuting pada April dan Mei.

“Kru dan pemain mereka ambil film udah ada jadwal, syuting April hingga Mei, Juni mereka udah ada jadwal syuting lain, semua mundur. Sebenarnya lebih ke atur schedule, bisa syutingnya kapan. Kita masalahnya lebih di situ,” ujar Sunil. Hentikan Kegiatan Operasional Pada kesempatan berbeda, CGV Cinemas mengumumkan untuk menghentikan sementara kegiatan operasionalnya mulai 23 Maret hingga dua pekan ke depan. Hal yang sama juga dilakukan jaringan Cinema XXI yang menutup bioskopnya mulai 23 Maret hingga 5 April 2020. Meski demikian, Sunil optimistis bila saatnya bioskop dibuka kembali, penonton akan tetap mencari film-film yang sebelumnya sempat ditunda. “Tiongkok juga udah mulai buka bioskop karena mereka benar-benar nunggu sampai clean baru buka tempat-tempat perkumpulan. Jadi saya rasa penonton udah kangen pengin nonton di bioskop lagi, jadi saya optimistis,” kata Sunil. Sementara itu, Ernest berharap agar suasana bisa kembali seperti sediakala. “Harapannya badai segera berlalu dan waktu rehat ini bisa digunakan untuk meluangkan waktu bersama keluarga,” kata Ernest.

Meski demikian, Tiongkok yang pertama kali terdampak korona berangsur-angsur pulih. Perlahan tapi pasti perekonomian di Negeri Tirai Bambu itu mulai menggeliat termasuk industri film. Sebanyak 205 bioskop dari total 308 bioskop di Shanghai, kembali dibuka setelah nyaris tutup dua bulan akibat merebaknya wabah virus korona.

Sebelumnya, kota-kota kecil seperti Provinsi Xinjiang atau Sichuan sudah membuka bioskop mereka pekan lalu. Untuk mendorong agar penonton mau menonton bioskop, Biro Film Shanghai akan bermitra dengan biro propaganda kota untuk mensubsidi tiket film selama sebulan. Hingga 26 April, penonton yang membeli tiket melalui aplikasi tiket online Tao Piao Piao akan dapat subsidi RMB10 (Rp22.500).

Penonton maksimal boleh membeli empat tiket. Program ini akan mengeluarkan maksimum 20.000 tiket bersubsidi. Sebelumnya, Shanghai memberlakukan aturan ketat menonton bioskop di mana penonton wajib mengenakan masker, dicek suhu hingga menunjukkan “kode kesehatan” yang menyatakan dirinya tidak terpapar virus sebelum masuk gedung bioskop.

Bahkan, bioskop harus menjual tiket dengan jarak terpisah dan menjadwalkan pemutaran dengan interval lebih dari 20 menit di antara mereka sehingga memberikan waktu untuk prosedur desinfeksi.

Sejauh ini, pendapatan bioskop di Tiongkok turun karena penonton yang ogah ke bioskop karena khawatir berkumpul bersama untuk menonton konten yang bisa mereka streaming di rumah.

Hari Film Nasional di Tanah Air

Pada Senin (30/3) diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN), ucapan dan harapan pun dilantunkan pekerja film Indonesia hari ini. Melalui akun sosial media masing-masing, para pembuat film memberikan ucapan selamat HFN dan berharap agar industri film Indonesia semakin maju dan kreatif.

“Selamat HFN Indonesia. Semoga para pembuat filmnya semakin bijak dan dewasa dalam bersikap walau tetap liar dan berani dalam melahirkan idenya. Berkarya dengan vibrasi kebaikan di mana pun berada #HariFilmNasional,” ujar sutradara Nia Dinata melalui Twitter Senin.

Berbeda dari Nia, Joko Anwar mengucapkan terima kasih kepada seluruh pekerja film yang sudah mengabdikan hidupnya. Ia juga tak lupa menyapa penonton yang telah bersedia mendukung film Indonesia. Sutradara Gundala itu menuliskan, “Selamat HFN, teman-teman! Terima kasih untuk para pekerja film yang selalu bikin film dengan dedikasi, skill, dan hati. Terima kasih buat penonton yang selalu merayakan film dan pencapaian film Indonesia!”.

Sementara itu, sutradara Garin Nugroho mengungkapkan soal keberadaan film sebagai media yang mampu memberi inspirasi bagi penonton. Menurut Garin, film juga bisa menjadi sarana untuk menggugat suatu keadaan.

“Selamat HFN, dikenal awalnya sebagai Gambar Hidoep, ia akan menemani dan menghidupkan ruang hidup kita lewat beragam media dengan aliran gambar yang membawa inspirasi dan cara melihat hidup dalam beragam cara pandang, baik kenyataan, fiksi ataupun ekspresi pembuat film, tentang cinta, kepahlawanan, kemanusiaan, gugatan, renungan, karakter manusia hingga peristiwa tak tersentuh dalam hidup kita,” kata Garin.  pur/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment