Koran Jakarta | January 17 2018
No Comments
JENAK

Valent, Setelah Gonggongan 8 Jam

Valent, Setelah Gonggongan 8 Jam

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Kalau Anda pernah, apa lagi kalau masih memiliki binatang kesayangan, Anda bisa bercerita dari pagi sampai pagi lagi. Segala apa bisa diceritakan—lepas itu fakta atau data atau hanya persepsi. Binatang apa saja—termasuk ikan di kolam, atau burung yang sesekali singgah di atap rumah, teristimewanya anjing dan kucing yang dianggap sahabat manusia yang terbaik.

Sahabat dalam artian bisa menjadi teman dan tempat curhat—apa pun reaksi binatangnya. Ini sebagian dari kisah itu. Adalah Valentine, yang biasa disapa Valent, seekor anjing jenis schnauzer pomerian yang menggonggong di dalam mobil yang diparkir lantai 8 di Mal Grand Indonesia. (1/12/17). Valent terdengar menggonggong sekitar jam 16.26—mungkin sudah sebelumnya.

Gonggongan itu kemudian sekali didengar oleh Tommy Prabowo—yang mengaku bukan pencinta anjing, di jam itu dan kemudian sekitar pukul 22.00. Valent lari ke sana kemari karena kepanasan dan kehausan. Tommy dan temannya merasa kasihan, berusaha memberi minum. Juga berusaha menghubungi pengemudi yang meninggalkan lewat car call, lewat petugas keamanan.

Baru lewat tengah malam, pemiliknya yang kemudian dikenal bernama Elishia muncul. Adu suara antara keduanya terjadi: kenapa ditinggal, apa itu tidak menyiksa, dan dijawab sudah sering ditinggal di mobil, juga karena mal tidak mengizinkan anjing dibawa masuk. Tommy sebenarnya pernah berpikir untuk memecahkan kaca, tapi ia memilih bersabar menunggu dan menemukan kenyataan bahwa, menurutnya, anjing ini di tangan yang tidak tepat.

Esoknya berusaha melapor ke Polsek Tanah Abang, dan Elisha pun datang ke tempat yang sama. Saling berhai, namun urusannya masih belum sepenuhnya selesai. Apakah Valent bisa tetap dipelihara pemiliknya yang menyayangi, ataukah dititipkan ke Garda Satwa—yang mampu dan mau merawatnya.

Sayang binatang, adalah sikap mulia manusia—yang memberi perhatian lebih, memelihara, dan menyayangi binatang. Kadang, atau sering, berlebihan, dan kadang malah merugikan atau menyiksa binatang itu sendiri. Kisah pemilik beruang madu yang memotong kuku-kuku adalah kisah pilu yang mengerikan.

Dalam contoh ini, pemilik merasa berkuasa, termasuk menentukan beruang berkuku atau bertaring atau tidak. Valent pastilah tersiksa berada dalam mobil selama lebih dari delapan jam. Dan ini menjadi peringatan bagi pemiliknya—juga bagi yang lain yang merasa sayang binatang . Pemiliknya, menurut saya, bisa tetap memelihara, dan akan terkena sanksi besar jika mengulang, misalnya.

Pada saat yang sama, kepekaan dan rasa sayang pada binatang disosialisasikan. Valent bisa menjadi “duta binatang kesayangan” untuk pengingat ini, dan di titik yang lain lembaga atau organisasi atau apa pun namanya, seperti Garda Satwa perlu lebih mendapat perhatian dan apresiasi.

Garda Satwa, atau juga pribadi-pribadi lain yang cukup mulia hatinya, cukup teguh niatnya dan tetap sabar mengayomi dan melindungi binatang. Mereka ini menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang luntur, yang terobek dalam kehidupan kota besar. Mereka ini mengingatkan bahwa yang namanya peduli, yang namanya menolong, yang namanya berbuat baik itu masih ada.

Dan membuat pelakunya tetap senyum, tetap bahagia. Melalui “Valent 8 jam” ini kiranya mampu mengetuk kesadaran kita bersama, membangkitkan kembali hal-hal yang baik. Kepekaan Tommy dan teman-temannya adalah sikap yang bisa menjadi contoh. Pengakuan salah dan tidak mengulangi pemilik Valent juga bagian dari memperbaiki diri—tanpa harus kehilangan binatang kesayangannya.

Dengan pendekatan ini, banyak sekali Valent, atau yang tak bernama, yang ada di jalanan, di pasar—entah kenapa jadi pusat pembuangan binatang, di semua tempat juga mendapat perhatian, mendapat pertolongan. Gonggonan atau rintihan itu bisa lebih lama, di mana-mana, sebelum akhirnya tak mampu merintih lagi.

Gonggongan Valent bisa mengusik kembali kesadaran kita, dalam arti lebih luas. Dan menjadikan kita lebih baik serta bergun. Bukan semata demi binatang, melainkan demi kemanusiaan kita.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment