Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Potensi Krisis - Saat Ini, Utang Perusahaan di AS Capai Hampir 10 Triliun Dollar AS

Utang Swasta AS Nyaris 50% dari PDB

Utang Swasta AS Nyaris 50% dari PDB

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Regulator pasar keuangan AS memperingatkan para pelaku bisnis untuk waspadai dampak Brexit.

WASHINGTON – Ketua regulator pasar keuangan Amerika Serikat (AS), memperingatkan sejumlah risiko pasar, termasuk meningkatnya utang perusahaan, penarikan diri Inggris dari Uni Eropa (UE) atau Brexit, dan transisi jauh dari tingkat suku bunga pinjaman utama.

Saat audiensi di New York, Senin (9/9) waktu setempat, Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), Jay Clayton, mengaku sangat prihatin dengan pertumbuhan utang perusahaanperusahaan. Utang tersebut, lanjutnya, telah dipupuk dalam satu dekade kebijakan moneter yang akomodatif.

Dia mengungkapkan, di AS, utang perusahaan-perusahaan mencapai hampir 10 triliun dollar AS, hampir 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). “Itu angka-angka yang harus menjadi perhatian kita,” kata Clayton. Pasar obligasi korporasi AS, yang terbesar di dunia, telah menawarkan tingkat pengembalian kuat, terutama bagi investor asing.

Meski demikian, Clayton menambahkan ada tanda-tanda bahwa pengembalian itu mungkin melambat. “Kita harus menyadari apa yang dikatakan harga dan pergerakan harga di pasar utang korporasi. Misalnya, berdasarkan total pengembalian, sisi atas menjadi lebih terbatas sementara sisi negatifnya belum membaik,” paparnya.

Menurutnya, SEC bersama dengan regulator lainnya harus memantau aliran modal masuk dan keluar dari dana-dana kredit, dan karakteristik portofolio termasuk konsentrasi, likuiditas, dan leverage. Clayton menambahkan perbankan AS harus menilai eksposur mereka pada tingkat penawaran antarbank London atau Libor, menjelang tenggat waktu 2021 untuk transisi dari suku bunga pinjaman.

Dia mengatakan industri harus memutuskan bagaimana secara aktif mengelola risiko-risiko tersebut. Mantan pengacara Wall Street itu, juga menandai sejumlah potensi risiko akibat Brexit. Dia mengatakan lembaganya sedang menyusun rencana untuk menanggapi setiap dampak potensial dari Brexit tanpa kesepakatan.

Namun, perusahaan-perusahaan juga memiliki peran yang harus disiapkan untuk kejatuhan itu. “Saya mendorong para pelaku sektor keuangan untuk terus mempersiapkan diri dan memberi tahu investor tentang dampak potensial Brexit,” ujarnya.

 

Risiko Resesi

 

Sebelumnya, hasil survei di AS menyebutkan potensi Negeri Paman Sam resesi setahun ke depan meningkat. Pertumbuhan ekonomi AS akan terus kehilangan daya pacunya ke depan, akibat dampak perang dagang dengan Tiongkok. Dalam logika ekonomi, suatu negara mengalami resesi apabila pertumbuhan ekonominya terkontraksi atau minus dalam dua kuartal berturut-turut.

Berdasarkan survei oleh Bloomberg kepada sejumlah ekonom selama 2–7 Agustus lalu, sekitar 35 persen responden memperkirakan terjadinya resesi di AS dalam 12 bulan ke depan. Angka persentase tersebut meningkat dibandingkan survei serupa sebelumnya, yakni 31 persen. “Para ekonom yang disurvei juga menurunkan estimasi mereka untuk ekspansi ekonomi AS tahun ini,” menurut laporan Bloomberg News, bulan lalu.

Rata-rata, mereka memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada 2019 sebesar 2,3 persen. Perkiraan tersebut lebih rendah dibandingkan asumsi yang disampaikan pada Juli lalu sebesar 2,5 persen. Mereka juga memproyeksikan pertumbuhan PDB AS pada kuartal III-2019 sebesar 1,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy). 

 

Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment