Usai Gejala Hilang Virus Korona Masih Tinggal di Tubuh Pasien | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Pandemi Covid-19

Usai Gejala Hilang Virus Korona Masih Tinggal di Tubuh Pasien

Usai Gejala Hilang Virus Korona Masih Tinggal di Tubuh Pasien

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Para peneliti menemukan bahwa setengah dari pasien yang mereka rawat untuk infeksi Covid-19 ringan masih menyimpan virus korona hingga delapan hari setelah gejala hilang.

Dalam Time Kinetics of Viral Clearance and Resolution of Symptoms in Novel Coronavirus Infection, Lixin Xie, Lokesh Sharma, dan sejumlah peneliti melaporkan terkait studi 16 pasien dengan Covid-19, yang dirawat dan dipulangkan dari The Treatment Center of People’s Liberation Army (PLA) General Hospital di Beijing antara 28 Januari dan 9 Februari 2020. Pasien yang diteliti memiliki usia rata-rata 35,5 tahun.

Para peneliti mengumpulkan sampel dari lendir tenggorokan yang diambil dari semua pasien pada hari-hari alternatif dan dianalisis. Pasien dipulangkan setelah pemulihan dan konfirmasi status virus negatif dengan setidaknya dua tes reaksi berantai polimerase (polymerase chain reaction-PCR).

“Temuan paling signifikan dari penelitian kami adalah bahwa setengah dari pasien terus menumpahkan virus bahkan setelah penyelesaian gejala mereka. Infeksi yang lebih parah mungkin memiliki waktu sheding yang lebih lama,” kata Lokesh Sharma, Instructor of Medicine, Section of Pulmonary, Critical Care & Sleep Medicine, Department of Medicine, Yale School of Medicine.

Gejala utama pada pasien ini termasuk demam, batuk, nyeri di faring (pharyngalgia) dan sulit atau kesulitan bernafas (dispnea). Dan pasien telah diobati dengan berbagai obat. Waktu dari infeksi hingga timbulnya gejala (masa inkubasi) adalah lima hari di antara semua kecuali satu pasien.

Durasi rata-rata gejala adalah delapan hari, sedangkan lamanya waktu pasien tetap menular setelah akhir gejala mereka berkisar dari satu hingga delapan hari. Dua pasien memiliki diabetes dan satu memiliki TB, tidak ada yang mempengaruhi waktu perjalanan infeksi Covid-19.

“Jika Anda memiliki gejala pernapasan ringan dari Covid-19 dan tinggal di rumah agar tidak menulari orang, perpanjang karantina Anda selama dua minggu setelah pemulihan untuk memastikan bahwa Anda tidak menulari orang lain,” ungkap Profesor Lixin Xie, College of Pulmonary and Critical Care Medicine, Chinese PLA General Hospital, Beijing. Lixin Xie menambahkan pesan khusus untuk komunitas medis bahwa pasien Covid-19 dapat menular bahkan setelah pemulihan simptomatiknya.

“Jadi obati pasien yang asimptomatik/yang baru pulih dengan hati-hati seperti pasien simptomatik,” tambahnya.

Xie menekankan bahwa semua pasien ini memiliki infeksi yang lebih ringan dan pulih dari penyakit, dan bahwa penelitian ini mengamati sejumlah kecil pasien. Mereka mencatat bahwa tidak jelas apakah hasil yang sama akan berlaku untuk pasien yang lebih rentan seperti orang tua, mereka yang sistem kekebalannya ditekan dan pasien yang menjalani terapi imunosupresif.

“Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki apakah virus yang terdeteksi PCR real-time mampu menular pada tahap selanjutnya dari infeksi Covid-19,” tambah Xie.

Mengapa Bisa Kambuh Lagi?

Pasien yang sudah sembuh dari virus korona (Covid-19) bisa kambuh lagi setelah beberapa hari. Karena itu, perlu dilakukan pengawasan serta pemulihan kesehatan total. Contohnya, seorang pria Jepang berumur 70 tahun terkena Covid-19 pada 14 Februari 2020 yang dirujuk ke rumah sakit di Tokyo dan dirawat di sana hingga sembuh.

Ia kembali ke kehidupan wajar bahkan naik angkutan umum. Namun beberapa hari kemudian ia sakit lagi, demam. Kembali ke rumah sakit ia diperiksa dan dites dengan hasil mengejutkan: virus yang sempat ada di tubuhnya muncul kembali. Kasus ini – dilaporkan oleh media publik Jepang NHK – membuat waspada para ahli, peneliti dan ilmuwan karena hingga kini banyak yang beranggapan bahwa seseorang tak bisa terinfeksi Covid-19 dua kali (setidaknya dalam waktu berdekatan).

Beberapa negara seperti Inggris bahkan sempat mendasarkan strategi penanganan mereka untuk mengalahkan pandemi dengan pendekatan herd immunity.

Dengan pendekatan ini diharapkan sebagian besar populasi akan mengembangkan kekebalan alami sesudah terpapar virus tersebut. Namun dengan adanya kasus pria Jepang tersebut, rencana seperti ini jadi sangat diragukan.

Oleh sebab itu, kini komunitas ilmuwan lebih fokus pada memecahkan permasalahan seberapa benar bahwa tubuh mengembangkan kekebalan alami sesudah sembuh dari penyakit tersebut?

Virus yang Hidup Kembali

Kasus Covid-19 meningkat setiap harinya, ratusan peneliti berpacu mempelajari dampak virus ini pada manusia. Pertanyaan soal kekebalan adalah salah satu faktor utama yang tak hanya membantu memahami perilaku panedmi ini, tetapi juga menyediakan jawaban tipe vaksin apa yang dibutuhkan untuk memeranginya.

Pan American Health Organization (PAHO) mengatakan bahwa karena ini adalah virus baru dan kita masih mempelajarinya setiap hari. “Saat ini kita tak bisa mengatakan dengan yakin bahwa seseorang yang pernah terinfeksi dan sembuh, tak dapat terinfeksi lagi.”

Pendapat serupa dipegang oleh ahli virologi Spanyol, Luis Enjuanes, yang memastikan bahwa ada sejumlah pasien, setidaknya 14 persen, yang sudah dites negatif, dites kembali dengan hasil positif. Namun, peneliti pada Dewan Riset Nasional Spanyol (CSIC) menjelaskan kasus-kasus ini bisa jadi virus yang hidup kembali ketimbang terulangnya infeksi.

“Penjelasan saya, di antara beberapa yang mungkin, secara umum virus korona ini memang membuat orang mengembangkan kekebalan, tapi respons kekebalan itu tampaknya tidak terlalu kuat.

Maka ketika respons kekebalan melonggar, virus yang masih ada di beberapa saluran tubuh muncul kembali,” papar Enjuanes. Untuk lebih paham teori ini, Enrico Fals, salah seorang ahli virus yang paling banyak meneliti tentang Covid-19 di Spanyol, mengatakan perlu diperkirakan bahwa virus itu tertinggal di tubuh selama tiga bulan atau lebih.

“Standarnya, seseorang yang telah terinfeksi seharusnya menjadi 0 positif, atau telah mengembangkan kekebalan. Dan jika ia telah kebal, virus seharusnya tidak muncul lagi. Namun penginfeksinya bisa tetap ada di jaringan khusus yang mungkin tidak terpapar sistem pertahanan tubuh sebagaimana organ tubuh lainnya,” jelasnya.  pur/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment