Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
From Local Go Global

Upaya Mendorong Pemanfaatan PLB E-Commerce

Upaya Mendorong Pemanfaatan PLB E-Commerce

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Untuk dapat mengendalikan maraknya peredaran produk-produk impor yang membanjiri Indonesia, pemerintah mendorong pengusaha importir dan eksportir memanfaatkan Pusat Logistik Berikat (PLB e-commerce).

Alternatif yang dita­warkan kepada para eksportir dan im­portir Industri Kecil Menengah (IKM) – Usaha Kecil Menengah (UKM), terutama dalam pemanfaatan bahan baku, ekspor dan im­por melalui kawasan berikat, yang semuanya dilakukan dengan platform e-commerce secara lebih mudah.

“Saya ingin IKM dan UKM Indonesia bisa lebih maju dan menjadi pemain kelas dunia, seperti yang dilaku­kan Jack Ma lewat Alibaba.com. Dengan mengandalkan pengalaman kami sekitar 30 tahun ini bergerak sebagai perusahaan one stop logistic services, sejak awal Agus­tus, kami sudah mulai soft launching PLB e-commerce di Indonesia,” ungkap Presdir Uniair Indotama Cargo (UIC), Lisa Juliawati, dalam Talk­show From Local Go Global di Jakarta.

Para IKM dan UKM di In­donesia dapat memanfaatkan keberadaan PLB e-commerce dengan menjadikan Indo­nesia sebagai hub, termasuk bagaimana meng-handle cross border e-commerce, sehingga Indonesia bisa men­jadi hub dalam perdagangan internasional.

September dan Oktober ini adalah masa integrasi sistem di dalam PLB e-commerce, sehingga dua bulan ini dimanfaatkan sebagai masa sosialisasi bagi para eksportir, importir, dan para pelaku e-commerce, agar mem­peroleh pengetahuan dan cukup informasi perihal PLB e-commerce.

Hal senada juga diamini Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai DKI Jakarta, Decy Arifinsjah. Ia mengatakan, PLB e-commerce bisa mem­bantu pengusaha Indonesia untuk go to the world. “Ba­rang-barang para IKM/UKM akan lebih banyak dikenal di pasar internasional. Karena itu kami mengharapkan branding dari e-commerce ini menjadi lebih luas lagi,”  ujarnya pada kesempatan yang sama.

Peran PLB e-commerce seb­agai mitra pemerintah, meru­pakan industri yang berbasis teknologi. Dengan reputasi perusahaan yang mapan, semua informasi yang keluar masuk PLB e-commerce juga transparan. “Sehingga dari sisi penerimaan bea cukai dapat dihitung dengan benar, informasinya traceable, sehingga secara finansial juga dapat diperhitungkan,” tukasnya.

Kepastian Selera Pasar

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan In­dustri Indonesia (Kadin) Bidang Perdagangan, Benny Soetrisno, mengemukakan, perlunya para eksportir yang ingin menembus pasar ekspor mengetahui dengan pasti keinginan (selera) pasar, untuk produk ekspor yang akan masuk ke negara tersebut.

“Selain harus tahu pasar itu maunya apa, ada hal lain yang harus dikuasai antara lain produk Indonesia itu harus menggunakan bahan baku dari dalam negeri, supaya dalam siklus produksinya, dapat diukur berapa kebutuhan bahan baku­nya. Hal lainnya adalah dapat mengubah comparative advan­tage menjadi competitive advan­tage, sehingga produk tersebut memiliki nilai tambah yang lebih besar, untuk menembus pasar ekspor. Sarana perdagangannya menggunakan sistem perdagan­gan secara e-commerce,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya mendo­rong agar para pengusaha, khu­susnya perusahaan yang berskala kecil dan menengah, dan mereka yang sistem perdagangannya dilakukan secara e-commerce, dapat memanfaatkan platform PLB e-commerce.

“Kami inginnya kehadiran PLB e-commerce di Indonesia dimanfaatkan para eksportir dan importir, sehingga nantinya kami juga akan mengadakan audit untuk bisa tahu, berapa kapasitas industri perusahaan. Untuk itu kami akan bekerja sama dengan sejumlah kementerian terkait, termasuk Bea dan Cukai, agar volume impor sesuai yang dibu­tuhkan,” urainya.

Dengan demikian, volume impornya akan dikontrol, untuk menghindari terjadinya manipu­lasi data impor, dan juga kode HS (Harmonized System). PLB e-commerce juga akan lebih banyak dioptimalkan untuk usaha kecil mikro dan menengah, melalui pemanfaatan gudang berikat, termasuk pengurusan prosedur ekspor dan impornya secara e-commerce.

Harapan juga muncul dari Koordinator Perhimpunan Pela­jar Indonesia (PPI) Dunia, Fadlan Muzakki. Menurutnya, para pela­jar Indonesia berpotensi menjadi market intelligent Indonesia di negara tempat mereka menuntut ilmu.

“Melalui pemanfaatan perda­gangan dan sistem berdagang secara sederhana, yang tujuan­nya memperoleh dana tambahan biaya kuliah, para siswa dan mahasiswa tersebut, sebenarnya melakukan berbagai pendekatan yang berbeda ke setiap negara. Penggunaan platform digital telah menjadi kebutuhan para milenial saat ini. Karena itu tidak mustahil, apabila sistem perdagangan yang dilakukan para pelajar dan mahasiswa tersebut, tidak hanya didasarkan pada e-commerce, namun lebih luas lagi dengan memanfaatkan para pelajar dan mahasiswa sebagai kepanjangan tangan bagi pemanfaatan komunitas PLB e-commerce,” ujarnya. ima/R-1

Perluas Cakupan Produk

Guna memperluas cakupan produk Indonesia menembus pasar global selama beberapa tahun ke depan, eksportir Indonesia ditantang menjajal pasar tradisional dan alternatifnya pasar non tradisional. Guna mengimplementasikan hal tersebut, para eksportir juga perlu memper­hatikan berbagai hal.

Decy Arifinsjah mengatakan, penguasaan 3C itu penting diketahui para eksportir, selain berbagai ketentuan, aturan, dan standar yang berlaku di setiap negara yang berbeda.

“Untuk melakukan ekspor ada beberapa petunjuk yang perlu dikuasai, antara lain penguasaan 3C yaitu customer (pelanggan) kita; lantas bagaimana caranya agar produk yang diekspor nantinya harus lebih competi­tive (kompetitif), sehingga memiliki daya saing lebih besar dibanding produk sejenis­nya. C ketiga adalah knowing your company, yaitu menguasai pengetahuan tentang produk sendiri,” jelasnya.

Dengan mengetahui perusahaan kita, be­rarti kita memahami kelebihan dan kelema­han produk kita. Itu sebabnya tidak mudah untuk dapat menguasai pasar di suatu negara, apalagi jika kita adalah pemain baru.

Decy menambahkan, ada kalanya pen­guasaan pangsa pasar saja tidak cukup. Itu sebabnya juga, harus diimbangi dengan berbagai kelengkapan dalam pemenuhan syarat seperti pencatatan keuangan dan tertib administrasi, termasuk bagaimana platform dan pagu pembiayaan pihak ketiga yaitu perbankan.

Untuk mengetahui berbagai aturan kepabeanan yang harus diketahui, Bea dan Cukai juga membuka akses pelayanan nomor hotline yang terbuka selama 7 hari kerja dan 24 jam sehari, pada contact centre 1500 – 225. ima/R-1

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment