Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
emo Antiekstradisi I 22 Orang Terluka dalam Aksi Unjuk Rasa Rabu (12/6)

Unjuk Rasa di Hong Kong Rusuh

Unjuk Rasa di Hong Kong Rusuh

Foto : AFP/Anthony WALLACE
Lawan Polisi l Pengunjuk rasa mencoba melawan polisi yang bertahan di kompleks Dewan Legislatif Hong Kong saat terjadi aksi demonstrasi menentang RUU ekstradisi pada Rabu (12/6). Aksi unjuk rasa ini menutup sejumlah jalan arteri hingga melumpuhkan seluruh aktivitas di kota itu.
A   A   A   Pengaturan Font

Aksi unjuk rasa yang menentang RUU ekstradisi berujung dengan kerusuhan setelah pengunjuk rasa yang mencoba menyerbu gedung parlemen.

HONG KONG – Situasi di Hong Kong genting setelah pa­da Rabu (12/6) kembali digun­cang oleh kerusuhan politik ter­buruk sejak penyerahan kem­bali kota itu ke Tiongkok pada 1997, setelah aparat polisi me­nembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubar­kan pengunjuk rasa yang men­coba menyerbu gedung par­lemen dan memblokir jalan-jalan di pusat keuangan.

Aksi unjuk rasa yang ber­ujung kekerasan itu adalah aki­bat dari kemarahan masyara­kat luas atas rencana rancang­an undang-undang (RUU) kontroversial pemerintah kota itu yang didukung Beijing un­tuk memungkinkan ekstradisi ke Tiongkok.

Bentrokan terjadi selama berjam-jam setelah puluhan ri­bu orang berkumpul di jalan ar­teri utama pada jam-jam sibuk pagi hari dan mengepung ge­dung parlemen kota. Pengun­juk rasa memaksa anggota par­lemen untuk menunda debat mengenai RUU ekstradisi yang diusulkan.

Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, yang mem­perjuangkan agar RUU ini lo­los, menyatakan bahwa aksi protes itu sebagai sebuah keru­suhan terorganisir dan menye­rukan agar ketentraman segera dipulihkan.

“Tindakan kerusuhan yang merusak masyarakat yang da­mai, mengabaikan hukum dan disiplin, tidak dapat diterima oleh masyarakat yang beradab,” kata Lam.

Polisi menggunakan gas air mata, peluru karet, dan pen­tungan, untuk memerangi ke­rumunan demonstran ber­pakaian hitam yang kebanyak­an dari mereka adalah kaum muda dan mahasiswa, yang menuntut pihak berwenang membatalkan RUU ekstradisi yang didukung Beijing itu.

Aksi unjuk rasa itu meng­ingatkan kita pada aksi pro­demokrasi “Gerakan Payung” pada 2014, di mana para pem­rotes yang menyerukan hak-hak demokrasi yang lebih be­sar, menutup sejumlah blok kota itu selama dua bulan.

Dalam aksi unjuk rasa yang rusuh kemarin, pihak berwe­nang di Hong Kong mengata­kan ada 22 orang terluka, baik dari pihak kepolisian maupun dari pengunjuk rasa.

RUU ekstradisi yang di­usulkan, akan memungkinkan Hong Kong untuk mengirim tersangka ke yurisdiksi lain di seluruh dunia, termasuk me­ngirimkan tersangka ke Tiong­kok. RUU itu sangat tidak po­puler bagi warga Hong Kong karena muncul kekhawatir­an setiap orang akan rentan terjerat di sistem pengadilan Tiongkok yang tak jelas buram karena bertindak atas perintah Partai Komunis Tiongkok.

Lanjutkan Aksi

Penentangan terhadap RUU tersebut telah menyatukan ba­gian kota yang sangat luas da­lam beberapa pekan terak­hir, mulai dari pengusaha dan pengacara yang berpengaruh, hingga kelompok agama, seri­kat pelajar, dan pekerja. Aksi unjuk rasa untuk menentang RUU ekstradisi mencapai pun­caknya pada Minggu (9/6) se­telah sekitar satu juta warga ko­ta turun ke jalan.

Para pengunjuk rasa bertekad untuk terus mem­blokade jalan-jalan sampai RUU ini ditangguhkan.

Banyak negara Barat men­dukung aksi pengunjuk rasa dan mengkritik RUU tersebut. Di bawah perjanjian penye­rahan kembali Hong Kong dari Inggris ke Tiongkok, Beijing ha­rus mengizinkan Hong Kong untuk mempertahankan kebe­basan dan peradilan indepen­den yang merupakan bagian integral dari keberhasilan eko­nomi selama 50 tahun.

Sayangnya saat ini ada ke­khawatiran Beijing mengingkari perjanjian dan kondisinya sema­kin memburuk sejak Presiden Xi Jinping berkuasa di Tiongkok daratan.  ang/AFP/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment