Uji Coba Obat untuk Pemberantasan Covid-19 | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments
Virus Korona

Uji Coba Obat untuk Pemberantasan Covid-19

Uji Coba Obat untuk Pemberantasan Covid-19

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Lebih dari 70 obat-obatan dan senyawa eksperimen yang diduga berkemungkinan efektif untuk menyembuhkan Covid-19 yang disebabkan dari virus korona. Beberapa pengobatan telah dilakukan untuk mengobati penyakit lainnya dan digunakan juga untuk mengobati pasien Covid-19 dengan harapan bisa lebih cepat disembuhkan dibandingkan mencoba menemukan antivirus baru dari awal

Daftar kandidat obat-obatan itu pun nampak dari sebuah penelitian yang muncul dalam situs bioRxiv. Para peneliti telah memasukan makalah pada jurnal tersebut untuk publikasi. Untuk mendapatkan daftar obat-obatan itu, ratusan peneliti telah melakukan penelitian tidak biasa terkait gen dari virus korona yang bernama SARS-CoV-2 ini.

Untuk menginfeksi sel paru-paru, virus korona harus memasukkan gennya sendiri, yang dilakukan melalui mesin genetik sel itu sendiri. Sel kemudian mulai untuk memproduksi protein virus yang digunakan untuk memproduksi jutaan virus baru. Setiap dari protein virus itu ha19rus mampu menghalangi protein manusia agar dapat berproses dan bekerja.

Dalam penelitian terbaru, peneliti melakukan penyelidikan terhadap 26 dari 29 gen virus korona yang secara langsung berhubungan dengan produksi protein virus. Peneliti menemukan bahwa 332 protein manusia menjadi target dari virus korona ini. Beberapa protein virus tampaknya hanya menyerang satu protein manusia. Namun protein virus lainnya mampu menyerang selusin protein sel manusia. Peneliti pun kemudian mencari obat-obatan yang dapat mengunci pada protein manusia. Karena sepertinya itu yang dibutuhkan oleh virus korona untuk bisa masuk ke dalam dan menggantikan sel manusia.

Tim peneliti mengidentifikasi ada 24 obat-obatan yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat yang biasanya digunakan untuk mengobati penyakit seperti kanker, penyakit Parkinson dan hipertensi.

Di dalam daftar tersebut juga ada kandidat obat-obatan yang tidak terduga seperti haloperidol yang digunakan untuk mengobati schizophrenia dan metformin yang dikonsumsi pada orang diabetes tipe dua.

Ada juga di antara kandidat obat-obat itu komponen senyawa yang saat ini tengah dilakukan uji klinis. Beberapa di antaranya adalah obat yang digunakan untuk melawan parasit. Dan ada juga antibiotik yang digunakan untuk membunuh bakteri dengan cara mengeraskan produksi sel untuk digunakan dalam membangun protein. Beberapa dari obat-obatan ini pun melekat pada protein manusia.

Penelitian terbaru mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa efek samping dari obat-obatan ini bisa menjadi pengobatan antivirus. Salah satu obat-obatan dalam daftar itu adalah chloroquine, yang membunuh parasit sel tunggal yang menyebabkan penyakit malaria. Chloroquine banyak diperbincangkan karena ada spekulasi yang membuatnya bisa digunakan dalam mengalahkan virus korona. Anthony Fauci, Director National Institute of Allergy and Infectious Diseases mengatakan bahwa itu hanya sebuah bukti anekdot apabila chloroquine bisa bekerja dengan baik.

Selain itu, Nevan Krogan, biologist dari Universitas California, San Fransisco memperingatkan apabila chloroquine berkemungkinan memiliki efek samping berbahaya karena menargetkan pada banyak sel protein manusia. “Anda harus berhati-hati. Kami membutuhkan banyak data pada saat ini,” katanya. 

NASA Pinjamkan Komputer Super

Sementara itu, untuk merespon menyebarnya Covid-19 di seluruh dunia, NASA pun turut membantu. Komputer super NASA akan bergabung untuk bekerja mencari pengobatan yang berpotensial guna memberantas Covid-19 dan juga kandidat vaksinnya.

Inisiatif ini muncul ketika Gedung Putih mengumumkan untuk meluangkan sumber daya komputer dalam penelitian guna memperlambat pandemik ini. NASA pun bekerja sama dengan National Science Foundation dan laboratorium Departemen Energi dan institusi lainnya dalam kolaborasi ini.

“Saya bangga NASA meminjamkan keahlian komputer super ini untuk membantu dunia dalam melawan Covid-19,” ujar Jim Bridenstine, administrator NASA dalam unggahan Twitter dikutip dalam Space.

Ia melanjutkan, lebih dari enam puluh tahun NASA telah menggunakan keahliannya itu untuk melewati tantangan yang bermanfaat bagi orang di seluruh dunia dengan cara yang tidak biasa.

Salah satu komputer super NASA yang nantinya akan dipergunakan adalah yang ada pada divisi sains Bumi, menurut Thomas Zurbuchen, direktorat misi sains.

Komputer super tersebut biasanya digunakan para peneliti untuk memasukan data satelit guna menjalankan model iklim untuk memprediksi iklim Bumi di masa depan.

Para peneliti yang ingin bergabung dengan proyek tersebut dipersilahkan selagi mempersiapkan komputer super tersebut. Yang menurut Gedung Putih bisa mempercepat kalkulasi untuk memperlambat penyebaran pandemik ini.

Layanan Digital Mandiri

Terkait perkembangan penyebaran virus korona Covid-19 di Indonesia, pemerintah pun membutuhkan langkah-langkah nyata yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai virus tersebut guna mengurangi kekhawatiran serta kepanikan di tengah masyarakat.

Belum lagi mengingat penyebarannya yang begitu cepat, seringkali membuat masyarakat menjadi resah dan ingin berbondong-bondong melakukan pengecekan tes swab Covid-19.

Untuk mengatasi hal itu, Alodokter pun meluncurkan sebuah layanan digital yang mampu melakukan pengujian mandiri risiko tertular virus korona. Layanan ini dapat diakses secara gratis bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang mendukung program Komunikasi, Informasi dan Edukasi Kementerian Kesehatan dalam menghadapi Covid-19.

Pengujian mandiri risiko tertular virus korona ini dikembangkan dengan sistem interaksi digital sesuai dengan guideline yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Harapannya, bisa memfasilitasi masyarakat Indonesia dengan informasi yang dapat memberikan arah dan edukasi yang tepat terkait Covid-19.

“Diharapkan, dengan mengembangkan teknologi sistem interaksi digital guna membantu masyarakat Indonesia mendapatkan gambaran jelas mengenai gejala-gejala dasar virus korona yang mereka mungkin rasakan, sehingga dapat segera mengambil langkah terbaik. Sejak diaktifkan, layanan digital ini sudah diakses lebih dari 900 ribu orang,” kata Suci Arumsari, Co-Founder sekaligus Director Alodokter. gma/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment