Koran Jakarta | December 13 2017
No Comments

Tukang Sepatu Mengkritik Pebisnis karena Selalu Curang

Tukang Sepatu Mengkritik Pebisnis karena Selalu Curang

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Maut Lebih Kejam daripada Cinta

Penulis : Orhan Pamuk, dkk

Penyusun : Anton Kurnia

Penerbit : Basabasi

Cetakan : Pertama, Agustus 2017

Tebal : 280 halaman

ISBN : 978-602-6651-04-4

Buku ini merupakan kumpulan cerpen karya para penulis peraih Nobel Sastra—sebuah penghargan sastra paling prestesius di dunia. Baru-baru ini telah diumumkan, pemenang Nobel Sastra 2017 adalah penulis Inggris berdarah Jepang, Kazuo Ishiguro.

Selain sebagai hiburan, sastra juga menjadi jembatan mendiskripsikan berbagai peristiwa, masalah psikologis, hingga dinamika penyelesaian masalah. Dari cerita sastra bisa diambil inspirasi tentang suatu kejadian kehidupan sosial masyarakat waktu tertentu. Sastra kadang-kadang juga menjadi pisau tajam dalam mengkritisi masalah politik. Dalam buku ini terdapat 25 cerita cinta kasih keluarga kritik sosial budaya.

Misalnya, cerpen Tukang Sepatu karya John Galsworthy yang mengkritisi para pebisnis, tentang persaingan usaha yang lebih sering curang dalam menjual produk. Diceritakan para tukang sepatu yang tidak memikirkan kenyamanan pemakai. Yang penting untung. Berbeda dengan Gessler bersaudara yang tetap memegang ideologi untuk menjadi tukang sepatu bertanggung jawab. Gessler selalu berusaha membuat sepatu berkualitas baik. “Mereka mencari pelanggan dengan iklan, bukan karya,” katanya (hal 67).

Sedangkan cerpen Maut Lebih Kejam dari Cinta karya Gabriel Garcia Marquez menyindir seorang senator yang mudah disuap dengan wanita cantik. Diceritakan, Senator Onesimo Sanchez divonis segera meninggal. Namun, karena malu mengakui kenyataan itu, dia berusaha mati-matian merahasiakan. Dia tetap kampanye pemilu dan melayani masyarakat.

Hanya satu orang yang selalu dia tolak ketika minta bantuan, namanya Nelson Farina. Dia minta tolong ke Onesimo untuk membuat KTP palsu agar lolos dari jangkauan hukum (hal 138). Namun dengan tegas, Senator Onesimo menolak permintaan Nelson. Hingga di suatu hari, Nelson mengenalkan putrinya, Laura Farina, yang sangat rupawan. Ini membuat Senator bertekuk lutut dan tidak bisa lagi menolak.

Tidak kalah menarik adalah cerpen Gelang Emas karya Naguib Mahfouz yang menunjukkan krisis moral masyarakat. Kejujuran digadaikan. Diceritakan, Hussein akhirnya diterima menjadi juru tulis di sekolah menengah di Tanta. Kabar itu tentu saja membuatnya sangat senang karena akan bisa membantu keuangan keluarga.

Tapi di sisi lain, dia menyadari untuk pergi ke Tanta memerlukan banyak biaya, sedangkan saat itu tidak memiliki uang. Maka, dia mencari saudaranya, Hassan, minta bantuan. Betapa terkejutnya Hussein ketika melihat keadaan Hassan yang ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi dirinya. Namun yang lebih mengejutkan, Hassan tiba-tiba memberikan sebuah gelang emas milik orang lain kepada Hussein untuk dijual (hal 154). Di sinilah dilema Hussein. Dia bingung antara harus menerima gelang emas itu dan menolaknya. Hussein akhirnya menerima demi bertahan hidup.

Masih banyak lagi kisah lain yang tidak kalah menarik dan menggelitik. Seperti Idiot karya Camilo Jose Cela. Perempuan Tak Setia karya Albert Camus. Ketika Dara Jatuh Cinta tulisan Ernest Hemingway. Ada juga Namu Hitam karangan Orhan Pamuk. Buku ini juga dilengkapi sejarah Hadiah Nobel Sastra dan daftar para penulis yang pernah menerimanya periode 1901–2016. 

Diresensi Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment