Koran Jakarta | August 26 2019
No Comments

Tuan Guru Seiring Zaman yang Berubah

Tuan Guru Seiring Zaman yang Berubah
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Religious Authority and Local Governance in Eastern Indonesia

Penulis : Jeremy J. Kingsley

Penerbit : Melbourne University Press

Terbitan : 2018

Bahasa : Inggris

Tebal : x + 197 hlm.

ISBN : 9780522873054

Tuan guru (TG) menempati posisi penting dalam khazanah Islam Indonesia. Bermodal karisma, otoritas keagamaan, dan dukungan komunitas lokal, dia berhasil membentuk infrastruktur sosial yang mendukung struktur tata kelola pemerintahan di Pulau Lombok.

Demikian salah satu argumen penting buku Religious Authority and Local Governance in Eastern Indonesia. Pondok pesantren Darul Falah sebagai studi kasus. Pesantren ini berdiri tahun 1950 atas jasa Tuan Guru Haji (TGH) Abhar Muhyiddin, ayah TGH Mustiadi Abhar, tokoh dengan karisma luar biasa. Aura surgawi membuat banyak orang taat kepadanya (hal 14).

Mustiadi juga berpengaruh dalam dunia politik, yang membuat Aburizal Bakrie (2009–2014) kerap mendatanginya dalam rangka konsolidasi politik Partai Golkar (hal 28–29).

Sebagai aktor utama perajut jejaring komunitas lokal, Mustiadi menghubungkan sekitar 160.000 orang, terdiri dari alumni, tokoh agama, pemilik pesantren, termasuk 20 TG Mataram dan Lombok Barat. Jejaring inilah yang memungkinkan mereka saling bekerja sama, memperkuat ikatan solidaritas dan membentuk struktur sosial politik dan keagamaan Lombok (hal 81–82).

Peran Mustiadi tak berbeda jauh dengan posisi kiai di Jawa sebagai pemelihara stabilitas sosial dan solidaritas kolektif masyarakat. Bagi masyarakat Lombok, kuatnya pengaruh tuan guru dalam struktur sosial politik dan keagamaan sudah lama. Pada akhir 1800-an dan khususnya selama era kolonial, TG sebagai aktor sosio politik terkemuka di pulau Lombok, mengalahkan bangsawan Sasak. Mereka menentang Belanda, mendirikan jejaring sosial, dan kelembagaan alternatif di luar pemerintah kolonial.

Berlangsung hingga saat ini, hegemoni politik TG sangat menentukan transformasi masyarakat Lombok dan berhasil memanfaatkan pluralisme hukum untuk, misalnya, menyelesaikan konflik.

Bekerjasama dengan aktor dan institusi negara di tingkat lokal, Tuan Guru, seperti terurai dalam bab 5 buku ini, mampu memperkecil kekerasan selama pemilihan gubernur NTB tahun 2008. Mereka juga menengahi perselisihan antarkandidat kepala desa di Lombok Barat pada bulan Juli 2008. Kemitraan TG dan institusi negara memperkuat integrasi masyarakat lokal.

Selain menjadi sumber otoritas yang berdampingan dengan otoritas hukum negara, kekuatan TG tak terbantahkan dalam mempengaruhi pandangan masyarakat, termasuk menghentikan konflik. Hal ini memperkuat posisi negara yang dalam beberapa aspek masih relatif lemah. Jika institusi pengadilan atau kepolisian tak kuasa melerai konflik warga, TG banyak membantuk mengakhiri konflik.

Melalui laporan mendetail tentang komunitas lokal dan otoritas keagamaan di Pulau Lombok, buku mencoba menguji kekuatan politik dan agama dalam membentuk regulasi sosial maupun struktur tata kelola pemerintahan daerah. Pada sebagian kasus berhasil. Namun sebagian kasus lain sulit terwujud. Hal tersebut menegaskan adanya pergeseran kontinum kepemimpinan TG.

Meskipun tetap menjadi pusat kehidupan sosial keagamaan masyarakat, dalam praktik politik, peran TG mulai bergeser. Kasus terbaru, keputusan seorang TG yang secara penuh mendukung salah satu calon presiden dan berharap diikuti masyarakat Lombok secara umum. Hanya, otoritas agama tidak serta merta dapat dikonversi menjadi suara dukungan politik. Bila masyarakat yakin, cocok, dan setuju dengan tokoh politik dukungan TG, seruan akan dipatuhi.

Bila tidak, masyarakat berani menolak. Telah terjadi perubahan kehidupan sosial politik dan keagamaan masyarakat Lombok. Hal ini besar kemungkinan mempenaruhi transformasi otoritas keagamaan lokal. Peran tokoh agama semakin melemah dan berangsur menghilang. Maka, TG dan tokoh agama terus berupaya meredefinisi peran sosial politik mereka.  Diresensi Setyadi Sulaiman, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment