Koran Jakarta | September 19 2019
No Comments
Konflik Korea

Trump Tak Sudi CIA Rekrut Kim Jong-nam

Trump Tak Sudi CIA Rekrut Kim Jong-nam

Foto : AFP/JoongAng ILBO
Kim Jong-nam
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON DC – Pre­siden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan bahwa dirinya tak akan mem­biarkan Central Intelligence Agency (CIA) merekrut sau­dara tiri dari pemimpin Ko­rea Utara (Korut) Kim Jong-un, yang bernama Kim Jong-nam, saat ia memimpin pemerin­tahan AS.

Dalam keterangannya, Pre­siden Trump pun menyata­kan tak akan mengkonfirmasi atau menyangkal laporan bah­wa Kim Jong-nam telah beker­ja untuk CIA sebelum dibunuh di Malaysia pada 2017 lalu, dan mengatakan bahwa ia tidak ta­hu apa-apa tentang hal itu.

“Yang saya tahu bahwa hu­bungan seperti itu tak akan ter­jadi di bawah kepemimpin­an saya, dan saya tak tahu hu­bungan itu tentang apa. Tidak ada yang tahu,” kata Trump, Selasa (12/6).

Kim Jong-nam dibunuh saat berada Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, pa­da 13 Februari 2017, Wajahnya diperciki racun saraf VX oleh dua perempuan asal Vietnam dan Indonesia yang diperdaya agen-agen Korut.

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan Wall Street Jour­nal (WSJ) edisi Senin (10/6), disebutkan bahwa Kim Jong-nam telah menjadi informan bagi CIA dan ia telah bertemu dengan agen CIA beberapa kali sebelum dihabisi.

Klaim bahwa Kim Jong-nam adalah informan CIA dijelas­kan dalam sebuah buku ten­tang Kim Jong-un yang ditulis oleh reporter Washington Post, Anna Fifield, yang terbit pada Selasa (11/6). Dalam buku Fi­field berjudul “The Great Suc­cessor” merinci pertemuan an­tara Kim Jong-nam dan agen lapangan CIA di dua negara.

“Kim Jong-nam menjadi in­forman bagi CIA, sebuah agensi dengan rekam jejak yang ber­usaha menjatuhkan diktator yang tidak disukainya,” tulis Fi­field dalam bukunya.

Fifield pun menulis bah­wa Kim Jong-nam menja­lankan situs-situs perjudian dan ia seperti hidup di bawah bayang-bayang dunia perjua­dian, gangster, dan mata-mata, sambil tetap menjaga beberapa kontaknya di Korut, saat tinggal di pembuangan yaitu di Makau. WSJ menulis bahwa Kim Jong-nam juga diduga melakukan kontak dengan agen intelijen asing seperti dari Tiongkok.

Menurut Fifield, Kim Jong-nam diduga dibunuh karena Kim Jong-un menilai kakak tirinya itu melakukan tindak pengkhianatan karena telah menjalin hubungan dengan agen mata-mata AS.

Surat Kim Jong-un

Pada saat bersamaan, Presi­den Trump, menyatakan bah­wa ia telah menerima surat la­gi dari Kim Jong-un. Surat itu dilayangkan setelah negosia­si antara AS dan Korut terhenti setelah kegagalan dalam pem­bicaraan di KTT Hanoi antara Trump dan Kim Jong-un.

“Saya baru saja menerima surat yang indah dari Kim Jong-un dan saya pikir hubungan ka­mi sangat baik dan saya am­at mengapresiasi surat ini,” ka­ta Trump.

Dalam keterangannya, Trump mengatakan bahwa Kim Jong-un sejauh ini telah menepati janji mengenai uji coba nuklir dan misil balistik, meskipun tidak ada rencana a­kan digelar pembicaraan baru antara AS dan Korut saat ini.

Namun selang beberapa jam sebelumnya di sebuah acara di Washington DC, Penasihat Ke­amanan Nasional AS, John Bol­ton, mengatakan kepada WSJ bahwa Kim Jong-un tidak me­matuhi persyaratan yang dise­pakati pada KTT Singapura.

“Apa yang mereka kata­kan adalah bahwa mereka ti­dak akan menguji misil balistik antarbenua, atau melakukan uji coba nuklir. Tetapi faktanya berlainan,” pungkas Bolton. ang/AFP/CNN/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment