Koran Jakarta | July 21 2018
No Comments
Kampung Sasak Ende, Lombok

Tradisionalisme di Tengah Modernitas

Tradisionalisme di Tengah Modernitas

Foto : koran jakarta/sriyono faqoth
A   A   A   Pengaturan Font

Nusa Tenggara Barat (NTB) yang disebut-sebut sebagai destinasi wisata kedua di Indonesia setelah Bali, memang memiliki suguhan pariwisata yang beragam. Di Provinsi ini, para pelancong domestik maupun mancanegara tidak hanya disuguhi oleh indah dan asrinya wisata pantai, tetapi juga wisata kekhasan daerah tersebut.

Salah satu yang patut dijadikan rekomendasi untuk dikunjungi adalah wisata tradisional Kampung Sasak Ende, Sengkol, Lombok. Kampung Sasak Ende ini merupakan replika atas perwujudan masyarakat asli Lombok yang masih ada hingga saat ini. Nilai-nilai tradisionalnya masih lestari dan tak tergerus oleh modernisasi.

Nilai-nilai tradisional yang masih terjaga itu terlihat dari semua sisi kehidupan warga Kampung Sasak Ende. Rumah penduduknya dibangun dengan bahan tanah liat dicampur “semen alami” yakni kotoran kerbau. “Kami menyebutnya semen empat kaki,” ungkap pemandu wisata, Ama Cilis, saat Koran Jakarta, mengunjungi Kampung Sasak Ende, beberapa waktu lalu.

Menurut Ama Cilis, warga Kampung Sasak Ende memang memiliki “pabrik semen kaki empat” sendiri. “Warga memang memiliki pabrik semen empat kaki ini di sana,” ungkap Ama Cilis seraya menunjuk ke arah pojokan Kampung Sasak Ende di mana beberapa kerbau berada di kandangnya.

Seminggu sekali lantai yang terbuat dari tanah liat dan campuran kotoran kerbau itu dipel atau dibersihkan apabila sudah mulai pecah-pecah. Uniknya, untuk mengepel, warga setempat juga menggunakan kotoran kerbau yang masih baru dengan tangan. Mereka tidak merasa jijik atau lainnya karena mereka berpegang pada filisofi menghormati kerbau yang rela mereka ajak untuk bekerja keras, membajak sawah.

Karena itulah, kotoran kerbau mereka gunakan untuk mengepel lantai rumahnya. Selain itu, konon, kotoran kerbau bermanfaat untuk menghangatkan saat musim penghujan dan menghilangkan gangguan nyamuk.

Sedangkan di dalam rumah, hanya ada satu ruang dengan tiang penyangga tepat di tengah. Tak ada jendela. Cuma ada sedikit cahaya matahari yang berhasil menembus bilik-bilik. Beberapa peralatan rumah tangga diletakkan sekenanya di lantai dan papan yang dipasang di dinding bilik. Dapur dan kamar mandi berada di luar. Listrik memang telah masuk desa ini, namun sepertinya mereka hanya menggunakannya sekenanya. Tidak tampak juga ada peralatan elektronik lainnya, seperti televisi, dan radio.

Penduduk kampung ini menjalani aktivitas sehari-hari dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhurnya. Memulai perjalanan dari Kota Mataram, menempuh jarak 40 km atau 60 menit waktu tempuh, Anda akan disambut hangat oleh masyarakat Kampung Ende.

Memiliki luas sekitar dua hektare, maka untuk mengitari Perkampungan Sasak Ende tidak memakan waktu yang lama. Melihat rumah yang beratapkan dari daun alang-alang yang menjadi ciri Suku Sasak tentu menjadi pemandangan yang menarik. Jumlah warga yang menempati rumah-rumah beratap daun ilalang itu sekitar 135 orang atau sekitar 30 kepala keluarga. Di dalam rumah ini, satu keluarga akan tidur terpisah. Wanita di dalam dan pria akan tidur di luar. Namun, setelah anak pertama lahir dan mereka menginginkan anak kedua, barulah mereka para pria tidur di dalam.

Jika satu keluarga tersebut belum dikaruniai anak lelaki, mereka akan terus mencoba peruntungan karena memiliki anak lelaki sangat penting untuk meneruskan garis keluarga. Jika anak perempuan keluarga tersebut telah beranjak remaja, akan dibuat sekat pemisah di dalam rumah. Bang Ama Cilis melanjutkan, anak perempuan di desa ini juga telah diajari ilmu tenun turun-menurun sejak kecil karena keterampilan ini merupakan syarat mutlak sebelum menikah.

Ada tradisi unik yang dimiliki Suku Sasak Ende, yaitu kawin lari. Dalam tradisi ini, pihak pria membawa lari wanita yang disukainya. Ini dilakukan tanpa diketahui oleh orang tua si wanita. Pelarian yang dilakukan biasanya berlangsung selama tiga hari. Setelah itu, orang tua wanita akan menebus untuk membicarakan kelanjutan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Jika ada seseorang yang ingin menikah dengan pihak luar dusun, orang tersebut diharuskan membayar denda yang nilainya cukup besar untuk kalangan masyarakat setempat.

Khusus untuk wanita harus bisa menenun, karena itu merupakan syarat mutlak ketika wanita Sasak akan menikah. Dan untuk lelaki, sebelum menikah harus sudah membangun rumah untuk tempat tinggal keluarga baru nantinya.

Bagi keluarga baru, mereka tidak boleh membuat bangunan rumah modern. Apabila membuat rumah modern, pasangan tersebut harus keluar dari Kampung Sasak Ende.

Pada zaman dulu, Suku Sasak memiliki ritual khusus yang digunakan untuk meminta hujan, yang disebut Presean, yaitu pertempuran dua pria menggunakan rotan sebagai senjata pemukul dan kulit sapi sebagai perisainya. Mereka bertempur tentunya sampai salah satu dari mereka kalah. Uniknya, di sela-sela waktu istirahat mereka malah menari-nari. Dan setelah pertempuran pun bukannya muncul rasa permusuhan, tetapi mereka malah lebih bersahabat.

Meski agama Islam menjadi agama mayoritas warga Kampung Sasak Ende, namun tak membuat tradisi yang telah berumur ratusan tahun ini menjadi luntur. Percampuran tradisi dan agama Islam yang membaur menjadikan Kampung Sasak Ende menjadi salah satu dusun yang wajib Anda kunjungi ketika berada di Pulau Lombok. ion/E-3

Sumber Air Awet Muda di Taman Narmada

Taman Narmada merupakan salah satu taman terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Luas areanya sekitar dua hektare dan memiliki kemudahan akses dari segala penjuru di NTB. Jika Anda berkunjung ke Mataram, lokasi taman ini cukup mudah untuk dijangkau, terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Provinsi NTB.

Salah satu tempat berlibur yang menarik di Lombok adalah Taman Narmada ini, yang memiliki pemandangan dan suasana yang sangat indah. Peninggalan kerajaan yang dikenal sebagai kolam pemandian raja ini merupakan wisata spesial yang terlihat berbeda, di antara objek liburan yang ada di pulau ini. Jika selama ini wilayah NTB dikenal dengan keindahan lautnya yang unik, pemandangan khas tropis dan alam yang natural, maka untuk Narmada, keindahan penataan taman buatan yang tetap terlihat modern dan indah walau berusia ratusan tahun adalah daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang berlibur ke Lombok.

Taman yang indah di Lombok ini didirikan di Kecamatan Narmada oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, pada tahun 1727. “Tempat ini difungsikan sebagai tempat upacara Pekelan yaitu ritual pengorbanan, yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Saka (Oktober–November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau,” ungkap pemandu Wisata, Edi Wijaya.

Nama tempat ini mengacu pada nama sebuah sungai di India. Wujud dari taman ini menyerupai Gunung Rinjani dengan Danau Segara Anak. Karena memang ini sebagai replika dari Gunung Rinjangi. Konon, ketika sang raja sudah terlalu tua untuk melakukan ritual upacara kurban (pekelan) ke puncak gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 meter, maka beliau memerintahkan seluruh penghuni kerajaan untuk membawa suasana Gunung Rinjani ke pusat kota. Akhirnya di pinggir Kota Mataram Lombok, mereka bersepakat untuk membuat duplikatnya yaitu Taman Narmada.

Di masa lalu, jelas Edi Wijaya, selain sebagai tempat untuk memuja dewa Shiwa, Taman indah ini juga digunakan sebagai tempat peristirahatan dan pemandian sang raja. Saat ini Taman Narmada terbuka untuk umum dan menjadi pusat rekreasi wisatawan lokal dan mancanegara.

Konsep taman ini berciri khaskan nuansa alam yang eksotik, ditata menyerupai bentuk gunung. Di bagian bawah dari Taman Narmada Lombok ini terdapat tiga kolam yang yang mendapat air dari sumber mata air jernih dan wujudnya seperti danau yang indah. Berjumlah tiga, sama seperti jumlah danau Segara Anak di puncak Gunung Rinjani. Selain itu, di dalam taman ini terdapat Pura Kalasa yang berada di bagian paling atas. Untuk sampai ke pura yang megah ini, anda harus melewati puluhan anak tangga yang dibuat agar tampak seolah-olah menaiki gunung.

Dalam satu tahun sekali antara bulan November dan Desember taman ini akan tampak seperti pusat ibadah. Para penduduk asli Lombok penganut agama Hindu pada bulan tersebut biasanya merayakan Hari Pujawali dengan menaiki Gunung Rinjani dan melakukan ritual pekelan dengan melempar barang-barang dan perhiasan kecil untuk menghormati Dewa yang menjaga Gunung Rinjani. Namun bagi yang tidak mampu pergi ke gunung, mereka cukup datang menuju pura di taman ini.

Hal menarik lainnya di obyek wisata ini adalah, keberadaan berbagai alat permainan seperti flying fox yang melintas di atas air kolam di Taman Narmada, yang sumbernya berasal dari mata air yang ada di gunung Rinjani dan dipercaya bisa membuat awet muda. “Percaya atau tidak, sebagian masyarakat setempat maupun wisatawan yang datang ke taman ini biasanya melakukan mencuci muka atau meminum air kolam tersebut,” kata Edi Wijaya.  ion/E-3

Pantai Tanjung Aan, “Bak Kolam Renang Pribadi”

Nusa Tenggara Barat memang kaya akan wisata baharinya. Laut biru kehijauan dan jernih dengan pasir putih merupakan wajah cantik dari Pantai Tanjung Aan, salah satu pantai di kawasan Mandalika, Lombok Tengah. Saat kaki menjejak di atasnya, pasir putihnya terasa lembut. Kata warga lokal yang saya temui, Pantai Tanjung Aan memang sudah lama menjadi destinasi wisata primadona di Pulau Lombok.

Pantai Tanjung Aan hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari Bandara Internasional Lombok. Dari jauh, pantai ini seperti kolam renang pribadi karena sekelilingnya berupa perbukitan hijau berketinggian rendah.

Pantai Tanjung Aan memang memiliki pemandangan indah, namun masih terbilang sepi. Lebih banyak turis mancanegara dibandingkan turis lokal. Ketika ditanya mereka sangat senang berada di sini, karena alamnya masih terasa sangat lestari dan asri. Berjemur, berselancar, sampai menyelam, semua bisa dilakukan di Pantai Tanjung Aan.

Bagi yang ingin berpetualang lebih jauh untuk menyelam atau mampir ke Kepulauan Gili, ada kapal-kapal kecil yang juga siap mengantar. Menurut warga lokal, selain Pantai Tanjung Aan, ada beberapa pantai yang juga sering dikunjungi turis, seperti Pantai Kuta, Pantai Seger, Pantai Serenting, dan Pantai Gerupuk.

Namun, bila mengunjungi Pantai Tanjung Aan, terasa belum lengkap kalau tidak sekalian mengunjungi Bukit Merese dan Batu Payung. Bukit Merese terletak di sisi kanan pantai. Bukit berumput hijau tersebut dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 30 menit. Satu tempat lagi yakni Batu Payung, hanya saja untuk ke sana harus menumpang kapal kecil dengan rute pulang dan pergi dari Pantai Tanjung Aan. Di lokasi ini akan disuguhi panorama indah berupa pulau dengan bebatuan berbentuk unik. ion/E-3

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment