Koran Jakarta | June 18 2019
No Comments

Tips Hadapi Rekan Kerja yang Emosi

Tips Hadapi Rekan Kerja yang Emosi
A   A   A   Pengaturan Font

Pertanyaan:

Bu Rossa, rekan kerja saya adalah orang yang emosional. Bagaimana cara menghadap­inya agar saya tidak terbawa emosi?

Jawaban:

Mendengarkan omelan atau umpatan orang lain memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi jika omelan itu ditujukan pada kita. Kalau bisa ingin rasanya kita ‘membungkam’ mulut si pengomel, apapun caranya. Masalahnya, sesabar apapun anda, pasti hati dan telinga anda akan ‘panas’ mendengar omelan.

Jika kondisi tersebut anda alami di kantor, misalnya bos atau rekan kerja yang marah, tentu masalahnya akan sema­kin ruwet. Karena belum lagi memikirkan pekerjaan, anda sudah harus mendengarkan ‘nyanyian’ yang sama sekali tidak merdu. Tentu perasaan anda akan semakin ‘terbakar’ bukan?

Tapi sebaiknya tahan emosi anda, jangan sampai emosi anda meledak ketika menghadapi orang marah. Karena jika emosi dibalas de­ngan emosi juga, urusannya akan semakin kacau. Menu­rut psikolog di Amrik, Patricia Patton, cara menghadapi orang yang sedang ‘panas’ adalah dengan cara mening­katkan peran EQ (Emotional Quotient) atau kecakapan emosi anda. Berikut ini ada­lah langkah yang bisa anda tempuh dalam menghadapi kemarahan orang lain:

Tetap tenang

Daripada ikut-ikutan emo­si, lebih baik anda tenangkan diri. Tarik nafas dalam-dalam dan ubahlah posisi Anda. Jika Anda sebelumnya berdiri carilah tempat duduk. Jika memungkinkan, pergilah ke kamar mandi untuk memba­sahi muka dan kepala Anda. Segarnya air dapat memad­amkan emosi Anda.

Kontrol diri

Jangan tergesa-gesa me­nyalahkan orang yang sedang marah, apalagi sampai me­lakukan aksi balas marah. Dan jangan sekalipun me­ngeluarkan pernyataan yang dapat memperkeruh suasana. Ingat, kecakapan anda mena­han emosi akan membantu pencapaian solusi daripada ikut-ikutan marah.

Hargai pihak lain

Sebesar apapun amarah­nya, cobalah untuk menyi­mak dan mendengarkan isi omelannya, terlebih jika bos anda. Karena pasti amarah­nya itu cukup beralasan.

Empati

Coba pahami penyebab kemarahannya. Apakah ka­rena kesalahan anda atau dia sendiri yang sedang bermasalah. Umpatan yang dia lontarkan yang seharus­nya tidak boleh dilakukan, anggaplah sebagai salah satu kelemahannya. Dengan de­mikian anda telah berempati padanya. Hal ini bisa mengu­rangi emosinya.

Fokuskan pada masalah, bu­kan pada pribadi

Jangan mencari-cari alas­an pribadi dalam menghada­pi kemarahan orang lain. Jika kemarahan adalah masa­lah kantor, anda tidak bisa merembet ke urusan di luar kantor, sehingga tidak akan terjadi aksi sentimen.

Obyektif

Pikirkan di mana letak persoalannya dan apa yang menjadi penyebab kemarah­annya. Kemudian coba anda introspeksi, apa dan dimana kelemahan anda. Jika anda memang salah, anda harus bersedia mengakui kesalahan anda.

Jangan abaikan kritik

Jika memang anda berada di pihak yang salah, dengarkan pendapat pihak lain sekalipun itu kritik. Dengan demikian anda mampu mengembang­kan diri sekaligus belajar mengatasi setiap permasalah­an termasuk mengatasi stres dan menemukan solusi.

Penting anda ketahui, kecakapan anda menahan dan mengelola emosi mem­buat anda lebih rasional dalam menyelesaikan setiap masalah yang anda hadapi di dunia ker­ja. Dan tentu saja kepiawaian serta kecakapan anda menga­sah emotional quotient akan membantu anda mencapai karir yang menjulang. Selamat bekerja.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment