Koran Jakarta | July 19 2018
No Comments
Sampah Impor

Tiongkok Tolak Daur Ulang Sampah dari AS

Tiongkok Tolak Daur Ulang Sampah dari AS

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON DC - Selama beberapa bulan terakhir, fasilitas daur ulang sampah utama di area Baltimore-Washington, Amerika Serikat (AS), mengalami masalah yang amat pelik yaitu bagaimana menyingkirkan sampah kertas dan plastik yang jumlahnya amat besar yang biasanya dijual ke Tiongkok.

“Kami terpaksa harus memperlambat kinerja mesin daur ulang kami dan mempekerjakan lebih banyak orang,” kata Michael Taylor, kepala operasi daru ulang di perusahaan Waste Management di area Baltimore-Washington.

Penumpukan sampah itu terjadi setelah Beijing memutuskan untuk menghentikan membeli sampah dari AS dengan alasan bahwa material yang didaur ulang tersebut telah terkontaminasi.

Sebanyak 900 ton sampah ditampung setiap harinya di fasiltas pengumpulan sampah di Elkridge, Maryland. Dan setiap harinya, tumpukan sampah di sana semakin tinggi hingga menimbulkan masalah besar jika tak segera tertanggulangi.

Walau sudah banyak pekerja yang memilah tumpukan sampah-sampah itu agar bisa didaur ulang, namun saat ini fasilitas daur ulang di AS tak bisa bekerja maksimal karena sampah-sampah yang telah dipilah dan akan didaur ulang sulit untuk didistribusikan.

Pada beberapa tahun lalu, hal itu tak jadi masalah karena sampah-sampah itu akan dikapalkan ke Tiongkok untuk didaur ulang di negeri Tirai Bambu ini dan diubah menjadi bahan dasar bagi sektor industri. “Sejak 1992, 72 persen sampah plastik berakhir di Tiongkok dan Hong Kong,” lapor kajian studi yang diungkapkan di jurnal Science Advances.

Namun sejak Januari lalu, Tiongkok menghentikan impor sampah seiring dengan diberlakukannya kebijakan lingkungan hidup yang baru yang intinya tak ingin agar Tiongkok jadi tempat pembuangan sampah dunia walaupun sampah-sampah itu bisa didaur ulang pada 2020.

 

Kian Mahal

Saat ini Tiongkok masih mengimpor sampah terutama sampah kertas dan logam yang bisa didaur ulang namun dengan persyaratan kadar kontaminasinya tak lebih dari 0,5 persen. Standar itu sulit untuk dipenuhi AS karena negara Paman Sam itu belum menerapkan teknologi untuk memilah sampah dengan batasan kontaminasi pada jumlah yang amat rendah itu.

Karena telah ditutupnya pintu impor sampah oleh Tiongkok, sejumlah fasilitas pengolahan sampah di AS terpaksa ada yang harus membuka lahan untuk menimbun sampah dengan pertimbangan langkah ini lebih cepat mengatasi masalah mereka dan lebih murah. “Tak ada pihak yang ingin menggembar-gemborkan informasi ini karena tak seorangpun suka atas fakta apa yang telah kami perbuat,” kata Bill Caesar, kepala perusahaan pengelolaan sampah WCA yang ada di Houston.

Caesar pun menambahkan bahwa pemerintah AS perlu mengambil langkah untuk membimbing warga negaranya agar mengurangi sampah dengan cara daur ulang, membakar, atau menjadikan sampah menjadi kompos. Saran Caesar ini diutarakan karena biaya daur ulang semakin hari semakin mahal.

“Warga AS harus memulai hal-hal tersebut, jika tidak bersiaplah untuk merogoh kantong lebih dalam untuk membayar biaya daur ulang sampah,” pungkas dia.

 

AFP/I-1/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment