Koran Jakarta | October 18 2019
No Comments
Strategi Bisnis - Indonesian Tobacco Akan Ekspansi Produk ke Tiongkok

Tingkatkan Stok Bahan Baku, Indonesian Tobacco Gelar IPO

Tingkatkan Stok Bahan Baku, Indonesian Tobacco Gelar IPO

Foto : KORAN JAKARTA/M. FACHRI
PAPARAN PUBLIK - Direktur Utama PT Indonesian Tobacco Tbk. Djonny Saksono (kanan) bersama Direktur Helly Ardiani dan Komisaris Utama Shirley Suwantinna (tengah) memberikan keterangan usai melakukan paparan publik terkait rencana penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di Jakarta, Selasa (28/5).
A   A   A   Pengaturan Font
Seluruh dana dari IPO akan digunakan Indonesian Tobacco untuk meningkatkan stok bahan baku di saat penetrasi pasar yang semakin luas.

JAKARTA – PT Indonesian Tobacco Tbk melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sebanyak 274,06 juta saham baru atau 29,13 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga IPO ditawarkan antara 180–230 rupiah per saham. Dengan begitu, Perseroan berharap akan meraup dana segar dari pelepasan saham ke publik sebesar 49,33– 63,03 miliar rupiah.

Bertindak selaku penjamin emisi efek PT Phillip Sekuritas Indonesia. Presiden Direktur Phillip Sekuritas Indonesia, Daniel Tedja, mengatakan valuasi pembentukan harga IPO mencerminkan price earning ratio (PER) antara 20,5–26,23 kali. Untuk PER industri di segmen ini pun berada pada kisaran angka tersebut.

Meski PER pada perusahaan di industri ini ada juga yang berada di antara 12–30 kali. “Jadi PER kami 20,5–26,23 kali,” ungkapnya di Jakarta, Selasa (28/5). Pembentukan harga ini mengacu pada PER tahun 2018 sesuai dengan penggunaan laporan keuangan tahun buku 2018 ketika melakukan IPO. “Biasanya orang ambil di tengah- tengah untuk pembentukan harga,” ujar Daniel.

Adapun price book value (PBV) sekitar satu kali. Pembobotan valuasi harga IPO ini tidak lepas dari langkah Perseroan yang telah melakukan revaluasi aset, sehingga berpengaruh pada peningkatan jumlah aset disertai ekuitas. “Revaluasi aset ini turut membentuk PER IPO perusahaan. IPO ini kami tawarkan pada investor lokal saja,” imbuh Daniel.

Sementara itu, Direktur Utama Indonesian Tobacco, Djonny Saksono, mengatakan seluruh dana dari IPO akan digunakan untuk meningkatkan stok bahan baku, sebab penetrasi pasar Perseroan semakin luas. Apalagi dalam tiga tahun terakhir ini, penetrasi pasar Perseroan terus tumbuh sehingga penjualan juga ikut terkerek naik.

“Dana IPO 100 persen untuk stok bahan baku,” kata dia. Saat ini, Perseroan telah mengekspor produk ke Malaysia, Singapura, dan Jepang. Ke depan akan menyusul ekspor ke India.

 

Ekspansi ke Tiongkok

 

Menurut Djonny, India merupakan negara yang sangat besar dengan jumlah penduduk 1,5 miliar jiwa, sehingga Perseroan perlu mempersiapkan diri dengan benar untuk bahan baku yang sesuai dengan campurannya (blending) yang disuka dan dibutuhkan. Perseroan pun telah memiliki rekan yang akan diajak untuk bekerja sama.

Namun, Djonny tidak bisa menjelaskan lebih rinci lagi karena menunggu kesepakatan antar-kedua belah pihak. Selain itu, Perseroan juga berencana untuk ekspansi ke Tiongkok bekerja sama dengan perusahaan di sana.

“Saya perlu sekali untuk menyiapkan bahan bakunya. Apalagi bahan baku di industri tembakau dan rokok ini perlu izin selama satu tahun, dan ketika panen dalam setahun itu hanya sekali. Jadi, kita beli pada saat panen sebanyak mungkin dan kita simpan minimal satu tahun sebelum digunakan,” jelas Djonny.

Sementara untuk mesin, saat ini kapasitasnya masih cukup dan bisa dioptimalkan lagi sehingga Perseroan belum perlu untuk membeli mesin baru. Hingga akhir tahun ini, Perseroan berharap angka pertumbuhan bisa tetap 20 persen atau bahkan 25 persen. Sementara laba usaha diproyeksikan akan meningkat lebih besar daripada nilai penjualan sekitar 25–30 persen. Dalam lima bulan ini, omzet penjualan tumbuh sekitar 20 persen.

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment