Koran Jakarta | June 18 2018
No Comments
Pengembangan Ekonomi - Permasalahan Tanah Jadi Kendala Utama di 3 KEK Bitung

Tiga KEK Terancam Dihentikan

Tiga KEK Terancam Dihentikan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

KEK Bitung (Sulawesi Utara), KEK Tanjung Api-Api (Sumatera Selatan), dan KEK Morotai (Maluku Utara) diusulkan untuk dihentikan jika dalam kurun waktu setahun tak ada perkembangan.

Jakarta – Pemerintah mengungkapkan terdapat tiga kawasan ekonomi khusus (KEK) yang telah diusulkan sebagai proyek investasi, tetapi tidak jelas kapan akan beroperasi. Bahkan, pemerintah kemungkinan menghentikan proyek KEK yang terkendala tersebut. “Saya mulai was-was terhadap beberapa KEK yang sebenarnya sudah dalam dua atau tiga tahun ini dirancang dan diharapkan bisa diresmikan. Paling tidak, ada tiga yang tidak jelas kapan beroperasi,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, di Jakarta, Senin (12/2).

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut mengusulkan beberapa proyek investasi KEK yang terkendala tersebut untuk dihentikan saja apabila tidak ada perkembangan dalam kurun satu tahun. “Untuk apa kami menyimpan beberapa KEK yang tidak jelas kapan beroperasi. Nanti kami akan rapat lagi Juli atau Agustus (2018), kalau ada perkembangannya berarti akan terus,” kata Darmin. Dia menjelaskan, KEK akan menghadapi kendala apabila sebagian besar tanahnya belum dibebaskan.

Karena itu, Dewan Nasional KEK sudah mengubah aturan bahwa daerah yang diusulkan menjadi KEK harus sudah jelas urusan lahannya. Darmin mencontohkan apabila ada KEK yang akan mengembangkan wilayah seluas 500 hektare, maka separuh dari total lahan tersebut harus sudah beres. “Kami sudah melihat ada beberapa KEK tidak bisa terwujud dan tidak bisa beroperasi karena lahannya tidak selesai-selesai. Makin lama harga tanahnya makin mahal begitu pemiliknya tahu lahannya masuk ke rencana KEK,” ucap dia.

Sekretaris Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus, Enoh Suharto Pranoto, mengungkapkan tiga KEK yang mengalami hambatan adalah KEK Bitung (Sulawesi Utara), KEK Tanjung Api-Api (Sumatera Selatan), dan KEK Morotai (Maluku Utara). “Tanjung Api- Api sudah ada perkembangan baru dan investornya sudah ada juga. Yang masih kurang itu Bitung dan Morotai,” ujar dia. Enoh mengatakan permasalahan tanah menjadi kendala utama di kawasankawasan tersebut, seperti masih ada pihak yang melakukan klaim di pengadilan menyangkut masalah sertifikasi sehingga hak pengelolaannya terhambat. “Yang Morotai itu pembebasan sudah dilakukan 200 hektare, kendalanya sertifikasi juga dari total 1.100 hektare. Tapi, untuk Morotai ini kami optimistis bisa, pemerintah daerahnya sudah komitmen,” tuturnya.

Arun Diminati

Sementara itu, KEK Arun Lhokseumawe di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, sudah mulai dimasuki investor setelah dilakukannya penandatanganan perjanjian kerja sama operasional dan investasi. “KEK Arun Lhokseumawe beruntung karena lahannya dari awal sudah beres. Ini adalah lahan negara yang kemudian dimasukkan untuk dikembangkan menjadi KEK,” kata Darmin dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama operasional dan investasi KEK Arun Lhokseumawe di Jakarta, kemarin. Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment