Koran Jakarta | October 15 2018
No Comments

Tidak Terlalu Sulit untuk Berhenti Merokok

Tidak Terlalu Sulit untuk Berhenti Merokok

Foto : ANTARA/Arif Firmansyah
Larangan Merokok l Wali Kota Bogor Bima Arya (kanan) menempelkan stiker larangan merokok di dalam angkot saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Jalan Bangka, Kota Bogor, Jawa Barat, baru-baru ini.
A   A   A   Pengaturan Font

Beribu-ribu, puluhan ribu, bahkan mungkin hingga jutaan orang di Indonesia telah mengeluhkan sulitnya meninggalkan rokok atau berhenti merokok. Meski setiap saat mencoba tidak merokok, beberapa saat kemudian sudah memegang rokok dan menyulutnya dengan korek api di tangan, karena tidak tahan menahan rasa ketagian atau kecanduan yang amat sangat.

Meski setiap saat didamprat anak, istri, hingga ditegur teman kantor atau tetangga di permukiman yang bangunan rumahnya berhimpit, setiap kali pula menyulut rokok lagi yang sudah berada di sela-sela jari tangan. Orang yang kecanduan rokok justru cenderung terus menambah jumlah batang rokok yang diisap.

Biasanya merokok seusai makan nasi dan lainnya atau minum minuman yang manis, seperti kopi dan teh. Berdasarkan data tahun 2017, lebih dari 36,3 persen penduduk Indonesia telah menjadi perokok. Menurut Menteri Kesehatan, Nila Djuwita F Moeloek saat membuka Indonesian Conference on Tobacco or Health, di Balai Kartini, Jakarta, pada Senin (15/5), bahkan 20 persen remaja usia 13-15 tahun yang umumnya pelajar, telah menjadi perokok.

Yang mencengangkan, remaja laki-laki yang merokok bertambah banyak. Data tahun 2016 memperlihatkan peningkatan jumlah perokok remaja laki-laki mencapai 58,8 persen. Bahkan kebiasaan merokok di Indonesia dilaporkan setiap tahun telah membunuh setidaknya 235 ribu jiwa. Dari 36,3 persen atau sekitar sepertiga penduduk Indonesia yang telah menjadi perokok tersebut, yang berkeluarga maupun yang masih berstatus siswa dan mahasiswa, sebagian tentu telah berupaya berhenti merokok.

Apalagi era kini, di berbagai kantor hanya membolehkan merokok di ruang khusus bagi perokok dan di lingkungan sekolah dilarang merokok, serta adanya larangan merokok di tempat umum. Ada juga tuntutan berhenti merokok dari diri sendiri karena alasan kesehatan. Ingin berhenti merokok karena khawatir terkena penyakit yang mematikan.

Paling Efektif

Dari sejumlah cara untuk berhenti merokok tersebut, ternyata metode tiba-tiba menghentikan kebiasaan merokok saat itu juga secara total menjadi cara yang sementara ini dianggap paling efektif. Upaya berhenti merokok secara total saat itu juga, dianggap paling efektif berdasarkan hasil studi perguruan tinggi tertua di Inggris, Universitas Oxford.

Cara tegas berhenti merokok tanpa menunggu kesempatan untuk mempersiapkannya tersebut, menurut penulis studi, Nicola Lindson-Hawley, dianggap paling efektif, asalkan diikuti keseriusan untuk tidak kembali mencoba merokok. Hal ini berbeda dengan upaya berhenti merokok secara bertahap dengan mengurangi jumlah batang rokok yang diisap setiap harinya, yang berdasarkan pengalaman banyak orang, jarang yang berhasil.

Untuk mendukung dan memudahkan upaya berhenti merokok tersebut, ada satu pengalaman moderat yang tampaknya perlu ditiru, yakni sebelum berhenti merokok secara total, berlatih dulu supaya bisa tidak merokok seusai makan atau minum minuman yang manis. Banyak perokok yang mengatakan merokok untuk menghilangkan rasa asam di mulut.

Bagaimana cara berlatih tidak merokok seusai makan dan minum minuman yang manis, yakni dengan mengalihkan perhatian, misalnya menyibukkan diri bekerja, tangan mengetik, dan lainnya tanpa menghiraukan keinginan untuk merokok. Setelah berlatih tidak merokok seusai makan dan minum selama berbulan-bulan, akan terasa biasa saja tanpa menghisap rokok.

Setelah bisa menghentikan rokok seusai makan dan minum, baru rencanakan untuk total tidak merokok. Kenapa berhenti merokok perlu diupayakan dengan berlatih, karena tantangan terberat untuk kembali merokok berdasarkan pengalaman banyak orang adalah seusai makan dan minum biasanya muncul kecanduan merokok. SM/eko/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment