Koran Jakarta | December 13 2017
No Comments
Dugaan Penyuapan

Tewasnya Saksi Kunci Tak Ganggu Penyidikan E-KTP

Tewasnya Saksi Kunci Tak Ganggu Penyidikan E-KTP

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Penyidikan kasus korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) tidak akan terganggu dan terhentikan dengan meninggalnya salah satu saksi kasus besar ini, Johannes Marliem. Saksi kunci Marliem diduga tewas bunuh diri, di Los Angeles, Amerika Serikat.


“Kasus ini tidak terhenti dan terganggu karena kami punya bukti kuat dan penyidikan akan tetap berjalan terus,” kata Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah yang dihubungi, Jumat (11/8).


Ketika disinggung terkait apakah kematian tersebut ada hubungannya dengan kasus yang tengah menjeratnya, Febri enggan berandai-andai apakah kematian Johannes terkait dengan penyidikan kasus korupsi e-KTP tersebut.


Informasi Mendetail


Febri menyebutkan jika pihaknya belum mendapatkan informasi mendetail terkait meninggalnya salah satu kasus yang menyedot banyak perhatian tersebut, karena peristiwanya terjadi di Amerika Serikat. Dan kasus kematian Johannes sepenuhnya menjadi otoritas penegak hukum setempat.


“Walaupun demikian penyidik KPK berencana akan terbang ke Amerika Serikat untuk mendalami kematian Johannes tersebut. Untuk ini kami akan bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak-pihak terkait di sana,” kata Febri.


Seperti yang diketahui Johannes merupakan pemasok alat pengenal sidik jari atau automated fingerprint identification system (AFIS) ke konsorsium penggarap e-KTP tahun 2011-2013. Dari Johannes, penyidik KPK banyak mendapatkan bukti-bukti rekaman dan aliran uang e-KTP ke DPR dan pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).


Pada perkara ini, tim KPK sebelumnya telah mendatangi Johannes dua kali di Amerika Serikat. Namun, dia menolak untuk diperiksa, kecuali diberikan penggantian akibat kerugian dialaminya terkait proyek e-KTP.


Johannes Marliem merupakan Direktur Biomorf Lone LCC Amerika Serikat, perusahaan penyedia layanan teknologi biometrik. Dalam dakwaan penuntut umum KPK kepada terdakwa Irman dan Sugiharto, Johanes Marliem juga disebut menerima sejumlah 14,88 juta dollar Amerika Serikat dan 25,24 miliar rupiah terkait proyek sebesar 5,95 triliun rupiah tersebut. mza/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment