Koran Jakarta | June 20 2018
No Comments

Tes Darah untuk Memprediksi Kelahiran Prematur

Tes Darah untuk Memprediksi Kelahiran Prematur

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Dokter juga telah berjuang untuk memprediksi secara akurat tanggal kelahiran untuk semua jenis kehamilan.

Tes darah baru untuk wanita hamil yang dikembangkan oleh para ilmuwan ini mampu mendeteksi potensi persalinan prematur dengan tingkat akurasi antara 75-80 persen. Nantinya teknik ini diharapkan dapat digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan janin atau waktu kelahiran bayi yang sama andalnya dengan USG. Kelebihannya, teknik ini lebih murah dari segi biaya.

Dikembangkan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh para peneliti di Stanford University, tes ini membantu mengurangi masalah yang berkaitan dengan kelahiran prematur. Apalagi masalah ini memengaruhi setidaknya 15 juta bayi di seluruh dunia setiap tahunnya.

Sampai saat ini, dokter tidak memiliki cara yang dapat diandalkan untuk memprediksi apakah kehamilan akan berakhir sebelum waktunya. Dokter juga telah berjuang untuk memprediksi secara akurat tanggal kelahiran untuk semua jenis kehamilan.

Adalah Stephen Quake, profesor bioteknologi dan fisika terapan di Stanford dan beberapa rekannya dari berbagai kampus yang terlibat dalam riset ini. Di antaranya adalah Mads Melbye, pengajar tamu kedokteran, Thuy Ngo mantan sarjana postdoctoral Stanford yang menjadi penulis utama makalah ini bersama denga Mira Moufarrej.

“Pekerjaan ini adalah hasil kerja sama yang luar biasa antara peneliti di seluruh dunia. Kami telah bekerja sama dengan tim di Pusat Penelitian Prematuritas Stanford March of Dimes, dan melibatkan kolaborasi dengan para ilmuwan di Denmark, Pennsylvania dan Alabama. Ini benar-benar tim sains di terbaiknya,” kata Quake.

Tes baru ini mengukur aktivitas gen ibu, plasenta dan janin dengan menilai kadar RNA bebas sel darah ibu, bit kecil dari molekul pembawa pesan yang membawa instruksi genetik tubuh ke pabrik pembuat proteinnya. Tim menggunakan sampel darah yang dikumpulkan selama kehamilan untuk mengidentifikasi gen mana yang memberikan sinyal yang dapat diandalkan tentang usia kehamilan dan risiko prematuritas.

“Kami menemukan bahwa beberapa gen sangat dapat diprediksi mengenai wanita mana yang berisiko untuk melahirkan prematur,” kata Melbye, yang juga presiden dan CEO dari Statens Serum Institute di Kopenhagen. “Saya telah menghabiskan banyak waktu selama bertahun-tahun bekerja untuk memahami kelahiran prematur. Ini adalah kemajuan ilmiah pertama yang nyata dan signifikan dalam masalah ini dalam waktu yang lama,” kata Melbye.

Kematian bayi

Kelahiran prematur, di mana bayi lahir setidaknya tiga minggu lebih awal, memengaruhi setidaknya 9 persen kelahiran AS dan menjadi penyebab kematian bayi terbesar di Amerika Serikat. Kasus bayi prematur juga menjadi penyumbang kematian terbesar pada anak sebelum usia 5 tahun di seluruh dunia.

Dalam dua pertiga kelahiran prematur, ibu melahirkan secara spontan; dokter biasanya tidak tahu mengapa. Sebelumnya, tes terbaik yang tersedia untuk memprediksi kelahiran prematur hanya bekerja pada wanita berisiko tinggi, seperti mereka yang sudah pernah melahirkan prematur.

Awal ketetarikan pada kasus bayi prematur adalah saat putri Quake lahir prematur. “Dia sekarang berusia 16 tahun yang sangat sehat dan aktif, dan sejak itu saya berfikir bahwa ini adalah masalah penting untuk dikerjakan,” kata Quake.

Masih menurut Quake dokter juga perlu metode yang lebih baik untuk mengukur usia kehamilan. Saat ini, ahli kandungan menggunakan scan ultrasound dari trimester pertama kehamilan untuk memperkirakan kelahiran.

Meski demikian, USG memberikan informasi yang kurang dapat diandalkan saat kehamilan berlangsung. Hal ini membuat kurang bermanfaat bagi wanita yang tidak mendapatkan perawatan pralahir sejak awal.

USG juga membutuhkan peralatan mahal dan teknisi terlatih, yang kadang tidak tersedia di sebagian besar negara berkembang. Sebaliknya, para peneliti berharap bahwa tes darah baru ini akan sangat sederhana dan cukup murah untuk digunakan dalam kondisi dimana sumber daya terbatas.

Resolusi super

Para ilmuwan menggunakan sampel darah dari 21 di antaranya untuk membangun model statistik, yang mengidentifikasi sembilan RNA bebas sel yang dihasilkan oleh plasenta yang memprediksi usia kehamilan. Ini juga memvalidasi model menggunakan sampel dari 10 wanita yang tersisa. Perkiraan usia kehamilan yang diberikan oleh model itu akurat sekitar 45 persen untuk perkiraan USG trimester pertama.

“Mengukur RNA bebas sel dalam darah ibu juga bisa memberikan banyak informasi baru tentang pertumbuhan janin. Ini memberikan pandangan resolusi super tinggi kehamilan dan perkembangan manusia,” kata Ngo yang juga terlibat dalam riset ini. “Tidak ada yang pernah melihat sebelumnya. Ini memberitahu kita banyak tentang perkembangan manusia dalam kehamilan normal,” tambah Ngo

Untuk mencari tahu bagaimana memprediksi kelahiran prematur, para peneliti menggunakan sampel darah dari 38 wanita Amerika yang berisiko untuk persalinan prematur karena mereka sudah mengalami kontraksi dini atau pernah melahirkan bayi prematur sebelumnya. Para wanita ini masing-masing memberikan satu sampel darah selama trimester kedua atau ketiga dari kehamilan mereka.

Dari kelompok ini, 13 melahirkan prematur, dan 25 sisanya penuh. Para ilmuwan menemukan bahwa tingkat RNA bebas sel dari tujuh gen dari ibu dan plasenta dapat memprediksi kehamilan mana yang akan berakhir lebih awal. “Ini sebagian besar gen ibu,” kata Moufarrej.

Moufarrej mencatat bahwa gen yang memprediksi prematuritas berbeda dari yang memberikan informasi tentang usia kehamilan. “Kami pikir itu ibu mengirim sinyal bahwa dia siap untuk menarik ripcord,” tambah Moufarrej.

Ya, intinya, mekanisme biologis di balik kelahiran prematur masih menjadi misteri. Karenanya para ilmuwan berencana untuk menyelidiki peran tersebut. gen yang menandakan prematuritas untuk lebih memahami mengapa hal itu terjadi. Mereka juga berharap untuk mengidentifikasi target untuk obat yang dapat menunda kelahiran prematur. nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment