Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Lingkungan Hidup

TEPCO Akan Buang Limbah Nuklir Fukushima ke Samudra Pasifik

TEPCO Akan Buang Limbah Nuklir Fukushima ke Samudra Pasifik

Foto : AFP/JAPAN POOL VIA JIJI PRESS JAPAN OUT
INSPEKSI TANGKI LIMBAH NUKLIR I Gubernur Fukushima, Yuhei sato (bertopi orange) melakukan inspeksi tangki tempat penyimpanan air yang terkontasminasi radioaktif di Tokyo Electric Power Co (TEPCO) Fukushima Dai-ichi, Oktober 2013.
A   A   A   Pengaturan Font

TOKYO Menteri Lingkungan Jepang, Yoshiaki Ha­rada, mengatakan Tokyo Elec­tric Power Company Holdings Inc (TEPCO) berencana akan membuang air yang terkon­taminasi radioaktif dari Pem­bangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik.

Setelah pabrik itu lumpuh akibat gempa bumi dan tsu­nami pada 2011, saat ini lebih dari satu juta ton air yang ter­kontaminasi yang disimpan di hampir 1.000 tangki di si­tus Fukushima Daiichi. Air itu digunakan untuk menjaga agar inti bahan bakar tidak meleleh. Utilitas mengatakan mereka akan kehabisan ruang tangki untuk menyimpan air itu pada tahun 2022.

“Satu-satunya pilihan adalah mengalirkannya ke laut dan mencairkannya. Seluruh pemerintah akan membahas ini, tetapi saya ingin menawar­kan pendapat sederhana saya,” kata Yoshiaki dalam jumpa pers di Tokyo, Senin (10/9) waktu sempat.

Pilihan lainnya adalah menguapkannya atau menyimpannya di darat untuk waktu yang lama. Yoshiaki tidak menjelaskan berapa banyak air yang akan dialirkan ke laut apabila pilihan pertama diambil. Para pejabat TEPCO pun belum bersedia untuk memberikan komentar.

Namun, keputusan akhir pemerintah Jepang untuk membuang air kotor tersebut, masih harus menunggu lapo­ran dari panel ahli.

Tepco telah berupaya menghilangkan sebagian be­sar radionuklida dari kelebi­han air, tetapi teknologi itu ti­dak ada untuk menghilangkan air tritium, isotop hidrogen radioaktif. Pembangkit nuklir pantai umumnya membuang air yang mengandung tritium ke laut. Itu terjadi dalam jum­lah kecil di alam.

Ide untuk membuang lim­pah nuklir ke laut itu mendapat tentangan keras dari nelayan setempat yang telah bertahun-tahun menghabiskan waktu mereka untuk membangun kembali industri perikanan mereka pasca-tsunami. Korea Selatan selaku tetangga ter­dekat juga telah menyuarakan keprihatinnya atas dampak yang ditimbulkan oleh limbah itu pada reputasi makanan lautnya sendiri.

Bulan lalu, Seoul memanggil seorang pejabat senior Kedutaan Jepang untuk menjelaskan bagaimana air limbah Fukushima Daiichi akan ditangani. Isu ini makin merenggangkan hubungan Jepang dengan negara-negara Asia Timur, terutama Korea yang telah meruncing karena masalah kompensasi Jepang atas orang-orang Korea yang dipaksa bekerja di pabrik Je­pang pada masa perang.

TEPCO mengakui pada ta­hun lalu bahwa air di bak-bak penampungan mereka masih mengandung kontaminan se­lain tritium.

Salah satu studi yang dilaku­kan oleh Hiroshi Miyano, yang mengepalai sebuah komite yang mempelajari penonakti­fan Fukushima Daiichi di Ma­syarakat Energi Atom Jepang, mengatakan perlu waktu 17 tahun untuk mengeluarkan air yang diolah setelah diencerkan untuk mengurangi zat radioak­tif ke tingkat yang memenuhi standar keamanan pabrik. channelnewsasia/SB/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment