Koran Jakarta | June 22 2018
No Comments

Tembus Pasar Global dengan Desain Inovatif

Tembus Pasar Global dengan Desain Inovatif

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Desain inovatif menjadi kekuatan furnitur dalam negeri untuk bersaing di pasar global.

Perkembangan dan tren gaya hidup selalu menuntut perubahan. Hal tersebut juga terjadi pada perkembangan konsep furnitur. Ranah desain furnitur maupun mebel terus berkembang pesat. Artinya, ragam bentuk furnitur menjadi tuntutan masyarakat global yang selalu ingin mencari kebaharuan. Furnitur dibeli bukan sekadar memerhatikan kualitas material bahkan keterampilan sumber daya manusianya.

Adhie Nugraha, Wakil Ketua Umum Bidang Inovasi dan Desain, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mengatakan kekuatan desain menjadi faktor yang tidak dapat dipungkiri untuk masuk ke pasar global.

“Banyak penelitian, terutama di negara maju, perusahan yang cuma mengandalkan teknologi dan material, perusahaan tersebut susah bersaing kalau desainnya kurang baik,” ujar Adhie, dalam CASA Talk bertema Kesiapan Industri Furniture Indonesia Menghadapi Persaingan Global, CASA Indonesia 2018, Pasific Place, Jakarta, belum lama ini.

Bagi Adhie, inovasi yang ditawarkan dapat berupa inovasi yang bersumber pada budaya lokal, bisa berupa materialnya ataupun ornamennya. Mengingat, Tanah Air memiliki sumber kekayaan desain yang tidak dimiliki negara lain.

Meski begitu, yang perlu diperhatikan adalah pembuatan desain perlu dibarengi dengan manajemen pemasaran dan teknologi terbaru. “Supaya powerful,” ujar laki-laki yang juga merupakan Desen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Sinergi desainer dan industri furnitur menjadi jalan untuk menghasilkan produkproduk yang kompetitif. Sinergi tersebut dapat berupa, adanya in house design dalam industri furnitur. Dalam hal ini, industri dapat mempekerjakan para desainer dalam sebuah studio.

“Sehingga, model-model baru bisa diciptakan di industry itu,” ujar dia. Langkah lainnya, desainer dapat bekerja secara independent lalu berkolaborasi dengan industri furnitur.

Belakangan, yang tengah marak, para desainer berkumpul lalu membuat penelitian dan menawarkan pada kalangan industri. Yang perlu diingat juga, para desainer perlu memahami pasar yang akan dituju.

Hal tersebut akan mempengaruhi bentuk desain yang dibuatnya serta harga. Di Timur Tengah menyukai desain penuh ornamen dan tidak mempermasalahkan besaran harga jual, bahkan bisa di mark up. Berbeda dengan pasar Eropa yang lebih menyukai bentuk menimalis dengan harga yang amat bersaing.

Beberapa strategi dapat dilakukan untuk mencapai pasar global, yaitu kreatifitas. Tanpa kreatifitas, desain teranyar tidak akan pernah tercipta. Faktor lainnya networking, supaya desainer dan industri tidak bekerja sendirian. Yang terakhir kolaborasi, masing-masing pihak perlu berkolaborasi sesuai dengan ranah kerjanya.

Kolaborasi harus dilakukan untuk semua stakeholders. Sampai saat ini, desain dalam negeri masih terganjal permasalahan HAKI atau hak kekayaan intelektual.

Masih banyak karya desain yang belum di daftarkan sehingga rentan untuk ditiru pihak lain. Basuki Kurniawan, CEO Indoexim Internasional, perusahaan furnitur mengatakan bahwa UU tentang HAKI masih sulit dalam prakteknya. Karena untuk menyatakan bahwa produk desain dimiliki perseorangan atau perusahaan, desain tersebut belum pernah dibuat sebelumnya. Syarat lainnya, produk belum boleh di pasarkan sebelum memiliki sertifikat. “Padahal sertifikat perlindungan desain baru keluar dua tahun (kurang lebih),” ujar dia.

Sementara, pesanan buyer perlu segera dipenuhi agar tidak beralih ke produsen lainnya. Kalau, perusahaan menjual atau mempromosikan produk yang tengah dalam pengajuan perlindungan HAKI maka upaya tersebut gugur karena tidak memenuhi persyaratan. Sehingga, HAKI masih menjadi dilematis di tengah industri perkembangan industri mebel. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment