Koran Jakarta | November 22 2019
No Comments

Teknologi Jaringan 5G Melesat

Teknologi Jaringan 5G Melesat

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

5G yang menawarkan kunggulan pada latensi yang rendah, di beberapa negara maju mengalami perkembangan yang pesat.

Jaringan komunikasi nirkabel 5G yang memiliki keunggulan pada jeda pengiriman data hingga mencapai 1 milidetik (ms), terus berkembang. Jumlah pelanggannya menurut laporan Ericsson Mobility Report terus bertambah dan diperkirakan pada 2024 akan mencapai angkan 400 juta.

Pada laporan Ericsson Mobility Report edisi Juni 2019 diperkirakan koneksi 5G akan mencapai 1,9 miliar, mengalami peningkatan sebesar 27 persen dari 1,5 miliar berdasarkan proyeksi pada November 2018.

Di Asia Tenggara dan Oseania, penggunaan data seluler per bulan diperkirakan akan tumbuh hingga tujuh kali lipat, dari 2,3 exabytes (EB) pada 2018 menjadi 16 EB pada 2024. Sementara dari segi penggunaan data per smartphone, setiap bulannya akan tumbuh dari 3.668 menjadi 17 GB dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) mencapai 29 persen.

Hampir 12 persen langganan di wilayah di Asia Tenggara dan Oseania diperkirakan akan mengadopsi 5G pada akhir 2024. “Pada 2024, nantinya hampir semua band (low, mid, dan high) akan terpakai oleh jaringan 5G,” kata Head of Network Solutions, Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal di Jakarta.

Sementara itu, beberapa proyeksi lain pun meningkat dengan signifikan akibat cepatnya penyerapan 5G. Pada akhir 2024, jangkauan 5G diperkirakan mampu menjangkau 45 persen dari populasi dunia. Angka tersebut dapat meningkat menjadi 65 persen dengan teknologi spectrum sharing yang memungkinkan implementasi 5G pada pita frekuensi LTE (4G).

Ia mengibaratkan 5G dengan 4G seperti gerbong kereta api saat ini. Gerbong kereta api tidak hanya membawa penumpang namun dipakai untuk angkutan logistic berupa barang. Maka dari itu spektrum LTE bisa dipakai untuk 5G, apabila diperlukan.

Salah satu pendorong teknologi 5G adalah ponsel pintar. Hadirnya ponsel pintar G5 berkat chipset 5G dan jaringan operator seluler akan membuat 5G semakin populer. Tidak heran jika tadinya sedikit pesimis, kini operator memasang target yang lebih ambisius untuk cakupan populasi hingga 90 persen di tahun pertama.

Komitmen dari vendor ponsel dan chipset dinilai merupakan kunci untuk percepatan adopsi 5G. Ponsel pintar untuk semua pita spektrum utama, diprediksi akan meramaikan pasar selama tahun ini. Qualcomm misalnya telah memiliki chipset Qualcomm Snapdragon X55 5G yang dirancang untuk menerobos kecepatan pertukaran data nirkabel.

Menurut Head of Ericsson Indonesia, Jerry Soper, 5G benar-benar telah hadir dan berkembang pesat. Hal tersebut mendorong antusiasme operator dan konsumen terhadap teknologi ini. “5G akan menjawab kebutuhan konsumen, perusahaan, serta membawa internet of things ke level yang baru, di mana konektivitas tinggi menjadi syarat utama,” ujar dia.

Jika vendor ponsel menawarkan banyak ponsel 5G dan operator seluler terus memperluas jaringan 5G maka implementasi jaringannya yang semakin masif akan menjadi kenyataan. Jika demikian maka total langganan 5G diproyeksi akan mencapai lebih dari 10 juta pada akhir 2019 secara global.

Wilayah Amerika Utara diprediksi akan menjadi yang tercepat dalam penyerapan 5G, dengan 63 pesen pengguna ponselnya akan terhubung ke 5G pada 2024. Sementara itu, di posisi kedua diduduki negara-negara Asia Timur Laut dengan angka sebsar 47 persen dan diikuti oleh Eropa sebesar 46 persen.

Ericsson Mobility Report memperkirakan pada kuartal pertama 2019, total penggunaan data seluler terus meningkat hingga 82 pesen year-on-year. Angka ini diperkirakan akan mencapai 131 EB per bulan di akhir 2024, di mana pada saat itu jaringan 5G telah diimplementasikan sebesar 35 persen.

Selain konsumen 5G akan banyak diadopsi oleh industri. Saat ini secara global, terdapat 1 miliar koneksi IoT seluler, sebuah angka yang diperkirakan dapat meningkat hingga 4,1 miliar pada akhir 2024, di mana 45 persennya direpresentasikan oleh massive IoT.

Berbagai industri yang menggunakan massive IoT, seperti utility dengan smart metering, healthcare dalam kaitannya dengan medical wearable dan transportasi dengan tracking sensor.

“Massive IoT pada industry tentu saja butuh dukungan dari semua pihak. Dukungan ekosistem yang solid baik dari sisi teknologi, peraturan, keamanan, dan mitra industry,” kata Soper. hay/E-6

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment