Target IHSG Akhir Tahun Direvisi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 12 2019
No Comments
Prospek Pasar

Target IHSG Akhir Tahun Direvisi

Target IHSG Akhir Tahun Direvisi

Foto : ANTARA/Aditya Pradana Putra
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Menuju penghujung tahun 2019, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum memperlihatkan kebangkitannya yang cukup signifikan. Banyak pihak merevisi target IHSG di akhir tahun bahkan diperkirakan akan sulit mencapai level 6.500. Sebagai informasi pada penutupan perdagangan, Kamis (21/11), IHSG ditutup di level 6.117,36. Sejalan dengan itu, capaian kapitalisasi pasar juga merosot menjadi 7.060,04 triliun rupiah, jauh dari target Bursa sebesar 9 triliun rupiah.

Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, mengatakan melemahnya laju IHSG dikarenakan banyak faktor, terutama dari sentimen global. Pertama, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang belum mereda. Kedua, pemakzulan Presiden Donald Trump di Senat. Ketiga, pasar kehilangan sentimen positif The Fed yang diharapkan bisa menurunkan suku bunga di akhir tahun namun ternyata tidak. Keempat, polemik Brexit yang berkepanjangan. “Jadi tidak banyak berita positif di pasar. Kita pikir indeks hanya mungkin di level 6.200. Indeks akan turun dulu dan baru rebound di Desember,” ungkapnya kepada Koran Jakarta, Kamis (21/11).

Hans mengungkapkan, pada Desember biasanya terjadi window dressing sehingga ketika November pasar tidak mendapatkan kejelasan maka bisa terperosok turun ke bawah, dan di Desember bisa rebound lalu balik ke level 6.200. Ia pun merevisi target IHSG yang di awal tahun bisa di level 6.700.

Sementara itu, Kepala riset PT Koneksi Kapital Indonesia, Alfred Nainggolan, memperkirakan IHSG pada akhir tahun ini akan ditutup di level 6.100. Namun, Alfred berharap akan adanya window dressing terjadi di akhir tahun bis memberi angin segar.

“Artinya, bila diikuti dengan redemption oleh pasar maka akan menyulitkan, padahal saat ini masih bisa ditahan sehingga hanya turun portofolionya. Akan tetapi bila terjadi redemption maka itu berita-berita negatif harus dikurangi. Sebab bila masyarakat panik bisa berpengaruh,” ujarnya.

Kondisi pasar setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden maupun pembentukan kabinetnya seharusnya bergerak positif. Namun, kondisi yang terjadi saat ini berbanding terbalik. Bahkan untuk BUMN saja sudah semakin sulit diprediksi. Apalagi Menteri BUMN, Erick Thohir menyampaikan bahwa ada 140 direksi BUMN yang akan dirombak. Kalau sudah seperti itu suasananya juga menjadi kurang kondusif. “Diharapkan pada kuartal I-2020, akan berubah. Apalagi Presiden Trump juga sering membuat surprise,” kata dia.

 

yni/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment