Koran Jakarta | June 18 2019
1 Comment

Tanwir Muhammadiyah

Tanwir Muhammadiyah

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Siswanto Rusdi

Persyarikatan Muhammadiyah menggelar sidangTanwir bulan ini, tepatnya 15-17 Februari 2019. Forum tertinggi setelah Muktamar ini dihelat di Bengkulu dan membahas isu-isu strategis bagi persyarikatan, keagamaan, dan kebangsaan. Peserta yang dating dari seluruh provinsi di Tanah Air, bahkan perwakilan Muhammadiyah di luar negeri, akan membahas isu-isu tersebut yang hasilnya dituangkan kedalam rekomendasi Tanwir.

Dengan waktu pelaksanaan pileg dan pilpres yang semakin mendekat, dapat dipastikan center of gravity rekomendasi siding Tanwir adalah isu politik, wabilkhusus terkait kedua paslon capres dan cawapres. Dua pasang calon ini malah diagendakan bicara di depan forum Tanwir. Namun, isu lain juga tak kalah menarik, kemaritiman contohnya. Persoalannya, apakah isu kemaritiman/kelautan akan dibahas olehTanwir. Mari sama-sama kita lihat nantinya.
Pembaca barangkali mencari hubungan yang signifikan antara Muhammadiyah dan kemaritiman.Sekilas memang amatlah jauh hubungan gerakan pembaharuan Islam di Indonesia itu dengan isu-isu kemaritiman. Namun, jika sejarah persyarikatan didalami dengan seksama, ada hubungan erat antara keduanya.Yaitu, semangat pembaharuan atau tajdid yang diusung oleh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan sejatinya adalah semangat kemaritiman kendati bisa jadi yang bersangkutan tidak menyadari hal itu.

Semangat kemaritiman adalah elan yang mengisi relung kesadaran para penduduk yang mendiami pesisir, laut ataupun sungai. Kualitas psikis ini ditandai oleh kecenderungan alam pemikiran mereka yang sangat terbuka (receptive) terhadap berbagai gagasan baru, baik yang dibawa oleh pendatang ataupun yang berasal dari komunitas mereka sendiri. Sejarah dunia telah membuktikan keberadaan semangat ini. Hampir semua peradaban besar dunia, Mesir, India dan Persia misalnya, merupakan kota-kota yang dibangun di pesisir. Dan, masyarakatnya sangat receptive terhadap gagasan dan pendatang. Jika tidak, manalah mungkin mereka menjadi saudagar di bandar-bandar tadi.

Muhammad Darwisj, nama asli KH Ahmad Dahlan, juga seorang pedagang di samping sebagai khatib amin di keraton Yogyakarta. Ia mewarisi jabatan ini dari ayahnya KH Abu Bakar yang wafat pada 1896. Pengurus dan aktifis Muhammadiyah yang semasa maupun setelah era KH Ahmad Dahlan tak sedikit yang berlatarbelakang saudagar pula. Malah, KH Faqih Usman, ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1968-1971, memiliki galangan kapal di Gresik, Jawa Timur, sebagai usaha pribadinya. Selain itu, ia memiliki pabrik tenun dan toko alat-alat bangunan.

Sementara itu, dari sisi geografis, Kauman di Yogyakarta, tempat tinggal KH Ahmad Dahlan dan sekaligus home basegerakan Muhammadiyah, dapat dikategorikan sebagai kawasan pesisir jika pantai selatan dijadikan pangkal ukurannya. Jadi, rasanya tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa antara persyarikatan Muhammadiyah dan kemaritiman itu terjalin hubungan yang sangat signifikan.

Kedekatan Muhammadiyah dan kemaritiman makin diteguhkan oleh (kala itu) kongres ke-19 yang diadakan di kota Padang, Sumatera Barat, pada 1930. Inilah pertemuan berskala besar pertama yang diadakan oleh persyarikatan di luar pulau Jawa. Seluruh peserta kongres berangkat ke Padang menggunakan kapal laut. Last but not least,adalah Muhammadiyah, melalui tokoh-tokohnya, memelopori naik haji dengan kapal laut pada era 1950-an.

Universitas Maritim

Kini, setelah satu abad lebih berkiprah di mana lingkungan strategis kemaritiman mengalami perubahan yang cukup drastis, apa yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah terkait bidang kemaritiman? Dengan jumlah lembaga pendidikan tinggi – akademi, sekolah tinggi dan universitas – yang mencapai 170 kampus lebih dan tersebar di hampir seluruh Indonesia– Muhammadiyah tak pelak lagi adalah yang terbesar dalam aktifitas penyediaan pendidikan tinggi di Indonesia.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset, saja hanya memiliki kurang dari seratus kampus. Rencananya organisasi keislaman yang jumlah warganya lebih dari 30 juta jiwa itu berencana membangun lagi perguruan tinggi di daerah-daerah hasil pemekaran maupun di wilayah yang sudah ada perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM)-nya.

Aset dan sumber daya sebesar itu membuat Muhammadiyah bisa menjadi sokoguru bagi visi kemaritiman nasional utamanya dalam bidang pendidikan kemaritiman. Tanpa banyak diketahui publik, organisasi ini sebetulnya telah ‘bermaritim ria’ ketika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan seorang guru besar bidang ekonomi maritimpada 2005. Laode M Kamaluddin, sang guru besar, dikukuhkan oleh kampus tersebut sebagai profesor pertama dalam bidang ekonomi maritim dengan judul orasi “Indonesia Sebagai Negara Maritim Dari Sudut Pandang Ekonomi”.Guru besar yang pertama bagi UMM.

Muhammadiyah diharapkan kembali tajdid-nya dalam bidang kemaritiman untuk memperkuat pendidikan kemaritiman di Indonesia. Disebut memperkuat karena pendidikan kemaritiman telah lama berjalan di Tanah Air hanya saja masih parsial, belum holistik. Caranya, antara lain, dengan mendirikan universitas maritim dalam rencana pengembangan lembaga pendidikan tinggi yang sudah disusun. Indonesia saat ini sangat membutuhkan universitas maritim untuk mewujudkan visi kemaritiman nasional sebagai poros maritim dunia.

Tetapi, keberadaan universitas maritim bagi negeri ini tidak hanya untuk keperluan itu. Pemimpin nasional datang dan pergi setiap lima tahun sekali dan visinya bisa jadi tidak dijalankan lagi oleh penerusnya. Kita memerlukan universitas maritim untuk mengisi jatidiri kita sebagai the biggest archipelago state in the world.Kitasaat ini amat sangat membutuhkan kehadiran sebuah universitas maritim atau maritime university dibanding lembaga pendidikan lainnya.

Apakah kampus-kampus yang selama ini memiliki program studi kemaritiman tidak dapat disebut sebagai universitas maritim? Universitas maritime ditandai oleh: Pertama, program yang ditawarkan mencakup seluruh bidang kemaritiman yang ada, tidak terfokus pada satu bidang saja. Misalnya, pelayaran, logistik, kepelabuhanan, teknologi maritim, manajemen maritim, hukum maritim, bisnis maritim dan lain sebagainya.

Kedua, program yang ada diajarkan dalam berbagai sekolah (school) yang disiapkan khusus untuk itu. Sekolah ini menaungi strata pendidikan mulai dari level undergraduate hingga postgraduate. Sebagaimana lazimnya, mahasiswa pada level undergraduate dipersiapkan untuk masuk langsung ke dunia kerja di bidang kemaritiman begitu menyelesaikan masa studinya dengan posisi operator/teknisi di tempat mereka bekerja kelak. Sementara, jebolan graduate dan postgraduate dididik untuk mengisi posisi manajer hingga jabatan puncak. Salah satu contoh universitas maritim yang terkenal adalah Shanghai Maritime University di Tiongkok.

Semoga siding Tanwir Muhammadiyah yang akan diadakan di Bengkulu nanti bisa menangkap kebutuhan akan universitas maritim dan membahasnya dalam forum Tanwir. Semoga. 

Penulis Pengurus MPI PP Muhammadiyah 2015-2020

View Comments

Darul Makmur
Minggu 17/3/2019 | 23:24
Universitas maritim sangat dibutuhkan dinegara yg 70% teritorialnya adalah laut, dan dipersimpangan perdagangan dunia dilaut lagi.

Submit a Comment