Tagar “Indonesia Terserah” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
No Comments

Tagar “Indonesia Terserah”

Tagar “Indonesia Terserah”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Tanda pagar (tagar) #Indonesia Terserah menjadi topik yang ramai dibicarakan publik di media sosial akhir-akhir ini. Tagar tersebut di antaranya dibagikan oleh para tenaga medis. Mereka kecewa dengan ulah warga dan kebijakan pemerintah yang cenderung seperti tidak lagi mempedulikan adanya pandemi korona. Tagar “Indonesia Terserah” ini adalah bentuk perlawanan simbolik dari warga dan menjadi penanda kepercayaan mereka pada para pemimpin yang mulai tergerus.

Topik itu semakin menggema sejak Jumat (15/5), usai viral kerumunan warga saat penutupan McD Sarinah, Jakarta Pusat, dan adanya keramaian calon penumpang pesawat di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (17/5), di tengah berlangsungnya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mereka mengabaikan social distancing dan tak disiplin dengan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus korona. Akhir-akhir ini, publik memang cenderung bingung memahami kebijakan pemerintah pusat saat berlakunya PSBB di sejumlah wilayah.

Beberapa kebijakan terlihat bertolak belakang dengan tujuan dari PSBB itu sendiri. Di satu sisi pemerintah tegas melarang warga mudik atau pulang kampung, tetapi di sisi lain pemerintah membuka operasional transportasi umum. Kepercayaan publik terhadap keseriusan pemerintah dalam mencegah penyebaran korona itu semakin menurun setelah pemerintah terus mewacanakan relaksasi atau pelonggaran PSBB.

Apalagi wacana relaksasi atau pelonggaran PSBB itu dilontarkan di tengah masih tingginya angka warga yang terjangkit Covid-19. Penyebaran Covid-19 belum berakhir dan terus terjadi. Hingga Senin (18/5) pukul 12.00 WIB, terjadi penambahan 496 warga yang terjangkit Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Hingga kini, akumulasi warga yang positif korona sebanyak 18.010 orang, terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.

Tren penambahan korban Covid- 19 masih cukup tinggi per harinya. Bahkan sejak beberapa waktu yang lalu, peningkatan mencapai 400-an setiap hari. Wacana pelonggaran PSBB itu telah bergulir sejak dua minggu lalu. Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, menyampaikan pemerintah memprediksi kasus akan menurun pada Juli. Maka, saat ini sedang disiapkan rencana relaksasi PSBB. Pelonggaran ini, menurut Mahfud, perlu dilakukan agar terjadi keseimbangan antara pelayanan kesehatan dan ekonomi masyarakat.

Wacana pelonggaran PSBB ini kembali digaungkan oleh Presiden Jokowi saat memberikan pengantar Rapat Terbatas (Ratas) melalui Video Conference mengenai Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19, Senin (18/5), dari Istana Merdeka, Provinsi DKI Jakarta. Presiden mengatakan pemerintah memang tengah menyiapkan pelonggaran. Namun, hal itu baru sebatas rencana atau skenario pelonggaran. Keputusan akhirnya baru akan diambil jika data di lapangan sudah kuat.

Untuk pekan ini maupun pekan-pekan berikutnya, pemerintah akan tetap berfokus pada larangan mudik dan mengendalikan arus balik. Padahal hingga saat ini belum terdapat tanda-tanda bahwa pemerintah telah berhasil mengendalikan penyebaran virus korona. Malahan dari hari ke hari jumlah pasien positif korona terus bertambah. Pertambahannya pun cukup signikan.

Kita perlu mengingatkan pemerintah bahwa kecepatan penularan Covid-19 itu hanya bisa dikendalikan bila pemerintah menerapkan PSBB secara tegas dan disiplin, bukan malah memberikan relaksasi. Relaksasi PSBB itu boleh dilakukan jika telah terjadi penurunan kasus korona secara signifikan. Marilah kita kembali fokus pada implementasi PSBB dengan konsisten dan tepat sasaran agar cepat menang melawan pandemi global ini. PSBB yang dilaksanakan secara maksimal oleh pemerintah dan masyarakat cukup efektif untuk menekan penyebaran Covid-19. Itu dapat dilihat dari pengalaman empirik di DKI Jakarta. Sayangnya, masih banyak daerah yang belum maksimal dalam penerapan PSBB.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment