Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
Aksi Korporasi - Harga Saham IPO Surya Pertiwi Dibandrol Rp1.160–1.520 per Saham

Surya Pertiwi IPO untuk Bayar Utang

Surya Pertiwi IPO untuk Bayar Utang

Foto : Koran Jakarta/M Fachri
USAI IPO - Presiden Direktur PT. Surya Pertiwi Tbk, Tjahjono Alim (kedua dari kiri) berbincang dengan (dari kiri) : Direktur Irene Hamidjaja, Wakil Direktur Efendy Gojali, dan Wakil Direktur Willianto Alim usai melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO), di Jakarta, Senin (16/4).
A   A   A   Pengaturan Font
Dana hasil penerbitan IPO akan digunakan untuk belanja modal, pembayaran utang, dan modal kerja.

JAKARTA - PT Surya Pertiwi Tbk (Surya Pertiwi) berencana melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan melepas sebanyak 700 juta saham baru melalui mekanisme penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Jumlah saham baru yang dilepas ke publik setara dengan 26 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

Untuk memuluskan aksi korporasi ini, Perseroan akan melakukan roadshow ke beberapa negara. Presiden Direktur Surya Pertiwi, Tjahjono Alim, mengatakan strategi Perseroan masuk ke lantai bursa melalui IPO untuk memperbaiki struktur modal melalui pelunasan utang dan ekspansi bisnis. “Untuk memaksimalkan perolehan dana dari IPO ini, Perseroan akan menawarkan sahamnya hingga ke luar negeri,” ungkap dia, di Jakarta, Senin (16/4).

Dana hasil penerbitan IPO akan digunakan untuk belanja modal, pembayaran utang, dan modal kerja. Menurut Tjahjono, proporsi dana IPO 50 persen akan digunakan untuk melunasi sebagian pokok utang kepada PT Bank Resona Perdania, PT Bank Mizuho Indonesia, dan PT Bank HSBC Indonesia.

Lalu, sekitar 25 persen akan digunakan untuk belanja modal anak usahanya, PT Surya Pertiwi Nusantara (SPN). Dalam hal ini, SPN akan menambah dua lini produksi saniter dan fitting untuk pabrik baru di Gresik, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi 500.000 unit per tahun untuk setiap lini. Sisanya sebesar 25 persen akan digunakan untuk modal kerja.

Untuk diketahui, SPN yang berlokasi di Surabaya Jawa Timur dibentuk pada 2011 merupakan usaha patungan (joint venture) antara Perseroan dan Surya Toto Indonesia. Perseroan memiliki saham sebesar 51 persen dan Surya Toto Indonesia memiliki saham sebesar 49 persen. SPN akan memproduksi produk saniter dengan merek TOTO dan akan melayani daerah Surabaya dan Timur Indonesia. SPN akan mulai melakukan penjualan secara komersial di triwulan kedua tahun 2018.

 

Harga Saham IPO

 

Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan saniter dan fitting, serta memproduksi barang saniter dan pengelolaan gedung melalui perusahaan anaknya, membandrol harga IPO sebesar 1.160-1.520 rupiah per saham. Dengan begitu, Perseroan mengincar dana segar IPO 812 miliar rupiah hingga 1,06 triliun rupiah.

Bertindak sebagai penjamin emisi efek yakni PT Ciptadana Sekuritas. Direktur Utama Ciptadana Sekuritas, Ferry Budiman Tanja, menjelaskan, dalam IPO ini valuasi harga IPO menggunakan Price Earning Ratio (PER) di bawah 13–16 kali. Oleh karena itu untuk menarik minat investor dalam aksi korporasi ini akan dilakukan roadshow.

“Kami akan tawarkan di dalam dan luar negeri seperti ke Singapura, Hong Kong, dan Kuala Lumpur,” jelas dia. Direktur Surya Pertiwi, Irene Hamidjaja, menuturkan total kapasitas pabrik baru SPN sebanyak 10 lini produksi dan satu lini telah beroperasi. Dengan penambahan dua lini produksi pasca IPO, kapasitas produksi pada 2019 akan mencapai 1,5 juta unit.

“Kami optimistis permintaan pasar untuk barang saniter akan semakin meningkat seiring pertumbuhan ekonomi,” ujar Irene. Hingga saat ini, Perseroan merupakan distributor eksklusif di Indonesia untuk produk saniter dan fitting dengan merek Toto. Lebih dari 90 persen produk penjualan Perseroan adalah merek Toto.

Sisanya merupakan produk dari produsen lain, terutama merek Eropa. Perseroan melalui anak perusahaan juga memproduksi barang saniter di pabrik Surabaya dengan kapasitas produksi sekitar 500.000 unit per tahun. Per 31 Desember 2017, Perseroan memiliki 11 distributor tunggal yang mencakup 14 kota besar dan sekitarnya di luar Jabodetabek dan Surabaya, serta lebih dari 100 diler di Jabodetabek dan Surabaya.

Adapun per 31 Desember 2017, penjualan Perseroan mencapai 2,14 triliun rupiah, dengan porsi 89,5 persen penjualan barang lokal, dan 10,5 persen penjualan barang impor, sedangkan per 31 Desember 2016, penjualan mencapai 2,07 triliun rupiah, dengan porsi 90,9 persen barang lokal, dan 9,1 persen penjualan barang impor. 

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment