Koran Jakarta | July 21 2018
No Comments

Sudirman Haseng

Sudirman Haseng

Foto : Koran Jakarta / Wachyu AP
A   A   A   Pengaturan Font

Indonesia dan Kamboja sepakat untuk memperat hubungan bilateral kedua negara, khususnya pada penguatan mekanisme bilateral. Penguatan hubungan kerja sama tersebut, antara lain di bidang perdagangan dan investasi, pariwisata serta kerja sama regional.

Sebagai negara yang samasama memiliki situs warisan dunia, Indonesia dan Kamboja berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama pariwisata dan kebudayaan. Hal itu diwujudkan, antara lain melalui kerja sama sister temple antara Angkor Wat dan Candi Borobudur. Untuk mengetahui lebih jauh apa yang akan dilakukan jajaran Kedutaan Besar Indonesia di Kamboja dalam mengembangkan kerja sama di sejumlah bidang tersebut, wartawan Koran Jakarta, Frans Ekodhanto, berkesempatan mewawancarai Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Kamboja, Sudirman Haseng, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apakah ada harapan khusus dari Presiden Joko Widodo kepada Anda sebagai Dubes Indonesia untuk Kamboja?

Sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo dan Menlu Retno Marsudi, bagaimana meningkatkan hubungan ekonomi, perdagangan, investasi, dan pariwisata di kedua negara. Yang tidak kalah pentingnya, dari segi politik dan hubungan antarpemerintah serta segi budaya dan sejarah antara Indonesia dan Kamboja, sudah sangat dekat. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menerjemahkan kedekatan itu menjadi sebuah manfaat untuk ekonomi, untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dan Kamboja. Itulah salah satu penekanan program yang akan kami lakukan selama menjadi Dubes Indonesia untuk Kamboja.

Dari program-program itu, program kerja seperti apa yang realistis dikerjasamakan dan hasilnya dapat terukur serta terasa?

Yang paling realistis dilakukan selama saya jadi Dubes di sana adalah meningkatkan investasi Indonesia ke Kamboja. Saat ini sudah waktunya pelaku bisnis Indonesia melakukan ekspansi ke luar, dalam hal ini investasi ke Kamboja. Sebab, kita tidak bisa terlalu mengharapkan Kamboja yang menginvestasi ke Indonesia walaupun itu juga menjadi salah satu target saya.

Sekecil-kecilnya atau serendahrendahnya perekonomian Kamboja, tentu masih ada potensi yang bisa kita manfaatkan agar pengusaha Kamboja juga bisa menanamkan investasi di Indonesia. Idealnya seimbang, tapi dari segi kapasitas ekonomi, pengusaha kita lebih besar, sehingga tentu kita lebih punya peluang menanam investasi di Kamboja.

Target yang potensial dan konkret adalah bagaimana menjual hasil industri-industri atau produkproduk strategis kita seperti yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, termasuk produk-produk bernilai tinggi lainnya, seperti elektronik dan sebagainya. Kita juga punya potensi untuk menjual produk UKM karena Kamboja masih mempunyai kapasitas yang terbatas di dalam mengembangkan produk-produk kreativitas ekonominya.

Kita perlu menjadikan Kamboja sebagai pasar serta pada saat yang bersamaan juga mengembangkan kapasitas dari produk-produk kita. Yang tidak kalah pentingnya adalah menciptakan konektivitas langsung. Selama ini kita belum ada konektivitas langsung dalam artian hubungan udara, sebab selama ini masih melewati negaranegara perantara seperti Malaysia, Singapura, dan lain sebagainya. Konektivitas ini sangat penting dalam menerjemahkan kedekatankedekatan tadi agar memberikan manfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan perekonomian di Tanah Air.

Konektivitas ini akan sangat mendekatkan mobilitas antarmasyarakat (antarpengusaha dan pebisnis). Kalau pemerintah, saya kira sudah cukup dekat.

Jika dibandingkan, baik dari luas wilayah, jumlah penduduk, kekayaan alam, SDM, perekonomian, Indonesia lebih unggul dibanding Kamboja. Lantas, apa yang diinginkan dari Kamboja?

Prinsipnya, untuk lebih berkembang dari yang ada saat ini perlu kemitraan. Sekecil apa pun teman atau mitra kita itu, pasti mempunyai kekuatan. Nah, Kamboja dalam hal ini dari segi pertanian, produksi berasnya lebih dari kita. Walaupun tidak sesering Vietnam dan Thailand, tapi kita juga pernah mengimpor beras dari Kamboja.

Kamboja di bidang garmen dan pariwisatanya sudah lumayan baik dan maju. Di sana ada namanya Angkor Wat, kita ada Borobudur. Jika kita bandingkan jumlah pengunjung mancanegara, Angkor Wat sekitar 4–5 juta pengunjung per tahun, sedangkan pengunjung mancanegara ke Borobudur sekitar 400 ribu per tahun.

Artinya, ada sesuatu yang perlu kita pelajari bagaimana mengelola suatu situs sejarah, nilai budaya, agama menjadi objek yang menarik wisatawan mancanegera. Padahal, Borobudur, dari berbagai segi dan pendapat para pengamat jauh lebih bagus, menarik, dan lebih historis dibanding Angkor Wat.

Ada buku yang mengatakan sebenarnya inspirasi dari Angkor Wat itu dari Borobudur. Jadi, pada abad 15–16 ada salah satu raja pernah tinggal di Yogyakarta (di sekitar Borobudur) selama dua tahun, lalu pulang dan meletakkan batu pertama pembangunan Angkor Wat. Maka perlu itu kita pelajari.

Yang tidak kalah pentingnya, ekonomi Kamboja dari segi pertumbuhan lebih tinggi dari beberapa negara ASEAN, termasuk Indonesia, yaitu dalam kurun waktu 20 tahun terakhir rata-rata 7–10 persen. Berarti ada sesuatu yang harus kita pelajari. Pentingnya kemitraan, pentingnya hubungan antarmasyarakat di situ.

Lantas, target kerja sama di bidang kebudayaan apa?

Untuk target kerja sama di bidang kebudayaan, mengembangkan lebih lanjut kerja sama antara Angkor Wat dan Borobudur agar jumlah pengunjung mancanegara ke Borobudur bisa menyamai Angkor Wat. Maka perlu suatu strategi agar pengunjung mancanegara yang ke Angkor Wat juga pergi ke Borobudur, atau masyarakat Kamboja yang berkiblat ke Angkor Wat, bisa kita tarik agar kiblat keduanya ke Borobudur. Oleh karena itu, harus ada konektivitas langsung, misalnya ada pesawat langsung. Kemudian, ada forum langsung yang mempertemukan. Memang kita sudah ada, namanya joint billateral commission antara Indonesia dan Kamboja, yang dalam 7–8 tahun ini kita tidak aktif. Kali ini kita ingin aktif kembali untuk mengoptimalkan kerja sama itu punya arti dan konkret.

Kerja sama di bidang pendidikan seperti apa?

Tahun depan, hubungan Indonesia dan Kamboja akan memasuki tahun ke-60. Tahun ini kita akan menjadikan sebagai landasan dasar menuju ke tahap yang lebih tinggi hubungannya. Yang tidak kalah pentingnya adalah membuka kesempatan kepada pelajar-pelajar Kamboja untuk belajar di Indonesia. Sebab, peraturan, regulasi bagi orang asing untuk belajar ke Indonesia sudah terbuka. Kamboja mempunyai potensi agar belajar ke Indonesia, baik ke swasta maupun negeri. Pada saat yang sama selain pelajar Kamboja datang belajar secara mandiri, Indonesia juga mempunyai kemampuan untuk menawarkan beasiswa. Salah satunya beasiswa pendidikan vokasi baik dari pemerintah maupun swasta. Pada saat yang sama perusahaanperusahaan besar di Indonesia bisa memberikan pendidikan vokasi kepada pelajar-pelajar Kamboja dalam meningkatkan keterampilannya secara langsung.

Lantas, dampak positifnya buat negara apa?

Efeknya bukan hanya pada perusahaan itu sendiri, tapi ketika pelajar tersebut pulang ke Kamboja, mereka bisa menjadi corong, agen perantara untuk mempromosikan Indonesia. Kebetulan beberapa kementerian, termasuk Kementerian Luar Negeri (Kemlu), ada program mengundang berbagai pemuda atau kelompok masyarakat untuk belajar dalam jangka pendek termasuk budaya.

Apa yang dikagumi pemerintah dan masyarakat Kamboja terkait dengan Indonesia?

Yang mereka kagumi adalah keberagaman kita. Sebab, suku, agama, dan lain sebagainya dari mereka terbatas. Yang mereka kagumi keberagaman kita, budaya, agama, suku, bahasa, pulau, dan sebagainya, kemudian dibingkai oleh Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Kemudian, di tengah keberagaman yang dimiliki Indonesia, kita juga memiliki toleransi. Pemerintah dan masyarakat Kamboja juga mengagumi keindahan alam Indonesia. Mereka alamnya terbatas. Memang ada gunungnya, bukitnya, dan lain sebagainya, tapi terbatas tingginya, lautnya juga terbatas, sedangkan kita memiliki itu semua. Pemerintah dan masyarakat Kamboja melihat, kerja sama yang ditawarkan Indonesia ke Kamboja itu sifatnya tulus. Mereka tidak melihat “udang di balik batu” dari tawaran-tawaran kerja sama yang diberikan Indonesia kepada Kamboja.

Salah satunya, Indonesia mempunyai sumbangan terbesar dalam mendamaikan Kamboja ketika perang saudara yang berkepanjangan. Di Jakarta sempat diadakan Jakarta Informal Meeting sebanyak tiga kali kemudian menemukan kesepakatan. Kemudian Indonesia juga menengahi sengketa antara Kamboja dan Thailand. Hal-hal tersebut masih diingat oleh pemerintah dan masyarakat Kamboja. Mereka selalu menganggap bahwa apa yang kita lakukan untuk Kamboja itu tulus.

Untuk bidang wisata, berapa yang Anda targetkan untuk wisatawan Kamboja datang ke Indonesia?

Sekarang ini pengunjung/ wisatawan Kamboja ke Indonesia baru sekitar 6.000 per tahun. Sebaliknya, dalam kurun waktu satu tahun, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Kamboja sekitar 45.000. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk meningkatkan jumlah wisatawan Kamboja agar datang ke Indonesia.

Cara meningkatkan jumlah wisatawan Kamboja bagaimana?

Masyarakat Kamboja harus mengenal kita lebih baik. Caranya, ada penerbangan langsung. Masyarakat Kamboja yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar, kita tarik agar mereka melanjutkan pendidikan ke Indonesia. Perwakilan kita di Kamboja menargetkan 2–3 kali mengundang wartawan setempat atau agen travel untuk melihat objek-objek wisata Indonesia secara langsung.

Selanjutnya, dari akumulasi kegiatan-kegiatan tersebut kita harapkan dapat meningkatkan pertumbuhan wisatawan Kamboja ke Indonesia. Kalau sekarang anggaplah 3.000–4.000, tahun depan menjadi 7.000–8.000. Tahun berikutnya menjadi 10.000 sampai empat tahun, naik 20–30 persen per tahun.

Untuk acara-acara festival kebudayaan atau kesenian seperti apa?

Selalu ada secara rutin dilaksanakan, baik rutin diadakan KBRI maupun bersama dengan kedutaan-kedutaan ASEAN lain serta mengisi festival-festival kebudayaan yang dilakukan pemerintah setempat. Di KBRI kita juga mengajarkan secara reguler bahasa Indonesia, tarian, nyanyian, dan kesenian lainnya. Mungkin untuk sastra, seperti puisi akan kita coba.

Sudah kebayang, apa tantangan yang akan Anda hadapi selama menjadi Dubes di sana?

Memang ada orang yang melihat bahwa tantangan itu sebagai suatu kendala, akan tetapi saya melihat tantangan sebagai suatu peluang. Justru karena bahasanya (Bahasa Kemer) yang susah. Kita bisa mengenalkan bahwa Indonesia memunyai bahasa yang jumlahnya sampai ribuan. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu peluang yang bisa kita manfaatkan dengan baik. Intinya, hampir tidak ada tantangan, karena kita sudah sangat dekat dengan Kamboja. Apalagi dari segi bentuk fisik, sopan santun, ramah tamah, dan lain sebagainya antara Indonesia dan Kamboja tidak jauh berbeda.

Sebelumnya sudah pernah menjadi Dubes Indonesia untuk Nigeria, sekarang untuk Kamboja. Setelah jadi Dubes ini, apakah masih mau dipilih lagi untuk jadi Dubes?

Kita berikan ke yang muda untuk menjadi Dubes. Setelah ini saya akan mengembangkan hobi yang selama ini saya simpan serta mencari peluang-peluang baru. Salah satu hobi saya adalah berkebun hidroponik yang punya peluang besar untuk dikembangkan. Saat ini melalui hobi berkebun itu, saya sudah bisa memberikan sayuran kepada keluarga dan warga sebanyak 100–200 orang di sekitar lingkungan.

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment