Koran Jakarta | April 22 2018
No Comments
Evaluasi Belajar | Akun Sosmed Kemdikbud Diserbu Warganet

Soal UN Jenjang SMA Terlalu Sulit

Soal UN Jenjang SMA Terlalu Sulit

Foto : ISTIMEWA
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.
A   A   A   Pengaturan Font
BSNP akan memasukkan keluhan sulitnya soal UN sebagai bahan evaluasi penyelenggaraan UN 2018.

 

JAKARTA - Akun sosial me­dia (sosmed) milik Kementeri­an Pendidikan dan Kebuda­yaan (Kemdikbud) mendapat serbuan ribuan warganet yang mengeluhkan tingginya derajat kesulitan soal Ujian Nasional (UN) jenjang SMA yang digelar 9–12 April. Badan Standar Na­sional Pendidikan (BSNP) akan memasukkan keluhan sulitnya soal UN sebagai bahan evalu­asi panitia penyelenggaraan UN 2018.

Sejak kemarin, akun sosial media milik Kemdikbud, se­perti Instagram dan Twitter kebanjiran protes dari warga­net yang sebagian besar me­rupakan peserta UN. Mereka mengeluhkan atas terlampau sulitnya soal-soal yang mereka harus kerjakan. Ketika admin akun Instagram @Kemdikbud.ri mengunggah foto yang bah­kan tidak ada kaitan dengan UN, misalnya, langsung saja diserbu keluhan siswa tentang soal UN yang jumlahnya bisa menembus 5.000 komentar.

Padahal pada hari-hari biasa, jumlah warganet yang menulis di kolom komentar hanya berkisar puluhan sam­pai ratusan komentar saja.

Serbuan protes tersebut mendapat tanggapan dari Ke­pala BSNP, Bambang Suryadi. Ia mengatakan akan menjadi­kan masukan dari siswa dan warganet ini menjadi bahan evaluasi pelaksanaan UN 2018. “Bahwa soal itu dirasa sulit, akan dijadikan bahan evaluasi pelaksanaan UN,” kata Bam­bang.

Bambang mengakui, se­tiap tahun penyelenggaraan UN selalu ditingkatkan kuali­tasnya, termasuk dari unsur pembuatan soal yang meng­arah pada HOTS (High Order Thinking Skill). “Kualitas soal selalu diperhatikan dan diting­katkan,” ujarnya.

Bambang menyebutkan, soal-soal yang dibuat mengacu kepada SKL (Standar Kompe­tensi Lulusan), SI (Standar Isi) dan KD (Kompetensi Dasar). Unsur tersebut kemudian ditu­runkam ke dalam bentuk kisi-kisi soal.

Meski begitu, diakuinya bahwa proses pembelajaran di sekolah masih sangat beragam sehingga sangat dimungkin­kan sejumlah sekolah kesulitan mengejar kualitas soal UN yang terus ditingkatkan.

Soal berapa banyak jumlah sekolah yang masuk kategori tersebut, kata Bambang, dapat diketahui usai analisis nilai UN selesai dilakukan. “Itu di antara yang dipetakan kondisi seko­lah berdasarkan analisis hasil UN, bisa juga kondisi daerah,” ujarnya.

Keluhan sulitnya soal UN yang masuk kolom komentar salah satu postingan @Kem­dikbud.ri tidak sedikit yang menggelitik dan mengundang tawa. Seperti yang disampai­kam akun @afiffahrudin34: Tolong bantuin jawab, pesawat tempur dengan ketinggian 500 meter akan mengebom. Berapa kecepatan peluncuran bom agar terkena tepat di gedung Kemendikbud.

Komentar senada juga da­tang dari @snowwthecat: Wah parah bgt soal un anak sma masa iya ditanyain diagno­sis gout arthritis yang which is kompetensi dokter umum, belum lagi soal hormon repro­duksi detil bgt udh masuk fisi­ologi yg gw dokter aja bingung jawabin soalnya, ngalah ngala­hin soal UKDI, seriously jaman gw sma soalnya ga gini amat, ini mah buat S1 gw, atau ko­mentar dari akun @yahyair­faan : Pak, saya takut nilainya sekecil amoeba.

Sebagian besar komentar mengeluhkan sulitnya soal pada mata pelajaran Matemati­ka, Fisika, dan Biologi meskipun ada juga mata pelajaran lain.

Akan Dievaluasi

Sementara itu, Mendikbud, Muhadjir Effendy mengatakan pihaknya akan mencari pang­kal masalah UN khususnya soal Matematika yang dinilai sulit oleh siswa. “Kami akan segera evaluasi untuk menemukan pangkal masalah UN khusus­nya soal Matematika,” ujarnya.

Dia mengakui bahwa soal Matematika untuk UN Sekolah Menengah Atas (SMA) sedera­jat memang berbeda karena le­bih pada Matematika terapan.

Muhadjir mengakui mulai tahun ini, pihaknya menggu­nakan soal yang membutuhkan daya nalar tinggi atau HOTS. Selain itu juga pada tahun ini, untuk pertama kalinya sekitar 10 persen dari soal Matematika adalah isian singkat.

Pengamat pendidikan dari Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji, mengatakan apa yang dilakukan Kemdikbud me­rupakan langkah berani. “Saya bilang berani, karena sebagian besar proses pembelajaran be­lum mampu membangkitkan daya nalar siswa. Sehingga ti­dak sesuai antara apa yang diajarkan dan soal yang ada di UN,” ujar Indra. cit/E-3

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment