Koran Jakarta | January 17 2018
No Comments
Strategi Pembiayaan - PINA Bisa Dianggap sebagai Pre-IPO “Financing”

Skema PINA Angkat Saham IPO

Skema PINA Angkat Saham IPO

Foto : Koran Jakarta/Wahyu AP
A   A   A   Pengaturan Font
Bagi perusahaan baru, early stage, dan belum growing stage disarankan menggunakan mekanisme PINA terlebih dahulu sebelum melakukan IPO.

JAKARTA - Skema pembiayaan infrastruktur melalui Pembiayaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA) dapat membantu perusahaan yang berencana melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Langkah ini pun boleh dikatakan sebagai pre-IPO financing atau persiapan IPO.

Corporate Finance & Transaction Support RSM Indonesia, Wiljadi Tan mengatakan tipikal investor yang akan membeli saham adalah memperhatikan stabilitas keuangan perusahaan yang akan IPO, kondisi pendapatan rutin (recurring income), dan kemampuan mencetak keuntungan (profit). Semakin lama rentang waktu perusahaan membukukan profit maka valuasi harga sahamnya akan semakin bagus. “Akan semakin banyak investor yang mau mengambil IPO perusahaan,” kata Wiljadi saat dihubungi, pekan lalu.

Wiljadi kemudian mencontohkan PT Waskita Toll Road (WTR), salah satu anak usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang mendapatkan pendanaan melalui skema PINA. WTR mendapatkan suntikan dana dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau (SMI) dan PT Tabungan dan Asuransi Pensiun (Persero) atau (Taspen).

Sebelumnya “WTR juga berencana IPO. Ini artinya, dengan mendapatkan PINA bukan berarti WTR tidak bisa IPO karena hal tersebut tetap bisa dilakukan,” katanya Hanya saja, imbuh Wiljadi, kalau IPO dilakukan sekarang akan dihargai berapa oleh investor dan sejauh mana diminati pasar. “Kalau sekarang IPO, siapa yang mau beli saham Waskita Toll Road yang belum terbukti kinerja keuangannya? Lebih baik beli saham PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) yang sudah nyata keuangannya stabil,” jelasnya.

Untuk itu, bagi perusahaanperusahaan yang masih baru atau early stage atau belum growing stage, langkah yang lebih bagus adalah menggunakan mekanisme PINA terlebih dahulu. Anggap saja langkah ini pre-IPO financing. Jadi, sebelum perusahaan tersebut IPO, lebih baik undang investor untuk masuk terlebih dahulu.

“Kita beli sekarang dan kita sama-sama besarkan perusahaan dan pada saat IPO, sudah ada keuntungan di situ. Harga sahamnya pun sudah tinggi. Asal tahu saja, pada investor di pasar modal tidak mau mengambil risiko di awal-awal. Investor pasar modal lebih melihat pada perusahaan yang sudah jadi atau matang, baru mau masuk,” jelas Wiljadi.

 

Nilai Meningkat

 

Menurut Wiljadi, ketika perusahaan yang sudah berjalan dan mendapatkan reccuring income lalu melakukan IPO maka nilai saham yang dimiliki sudah meningkat. Misalnya, WTR yang menggunakan skema PIN dari SMI dan Taspen sebesar 3,5 triliun rupiah akan meningkat nilanya menjadi menjadi sekitar tujuh triliun rupiah. Akan tetapi pada saat itu, investor tersebut mempunyai dua pilihan, entah itu bertahan atau keluar dari kepemilikannya.

“Contohnya kalau dia keluar, dia tinggal hitung waktu dia masuk pada 2017 sebesar 3,5 triliun rupiah dan saat exit pada 2020 atau 2022 bisa tiga kali lipat karena ada 300 persen return selama lima tahun. Artinya, per tahun bisa dapat 60 persen,” tutupnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Profindo International Securities, Karman Pamurahardjo, mengatakan PINA merupakan alternatif pembiayaan yang baru, meskipun skema pembiayaan ini bukanlah hal yang baru untuk di luar negeri.

“Jadi, pembiayaan ini perlu edukasi dan sosialisasi karena orang perlu waktu untuk memahaminya,” ujarnya. 

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment