Koran Jakarta | October 23 2018
No Comments
WAWANCARA

Siwi Sukma Adji

Siwi Sukma Adji

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Laksamana TNI Siwi Sukma Adji sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) menggantikan Laksamana Ade Supandi yang sudah memasuki masa pensiun pada 1 Juni 2018. Laksamana Siwi dilantik berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 43/TNI/2018 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan KSAL.

 

Pelantikan Laksamana Siwi dilakukan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/5). Pria kelahiran Kota Cimahi, Jawa Barat, 14 Mei 1962, ini merupakan seorang perwira tinggi TNI Angkatan Laut yang pernah menduduki berbagai posisi strategis, seperti Asisten Perencana Umum Panglima TNI, Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangkoarmabar).

Bahkan, sebelum dilantik menjadi KSAL ke-26, Alumni Akadademi Angkatan Laut (AAL) Tahun 1985 ini juga menjabat posisi strategis sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Akademi TNI sejak 29 September 2017 menggantikan Letnan Jenderal TNI Bayu Purwiyono.

Organisasi TNI Angkatan Laut merupakan bagian dari organisasi kenegaraan yang memiliki tugas sangat penting dalam menegakkan kedaulatan negara di laut dan menjaga keutuhan wilayah NKRI dari segala ancaman dan gangguan. Dalam menjalankan tugas, peran, dan fungsi TNI AL tidak terlepas dari tantangan dan hambatan yang selalu diwarnai oleh dinamika perkembangan lingkungan strategis di sekitar kita.

Supaya dapat menjalankan tugas TNI AL yang cukup berat dalam menjaga kedaulatan NKRI serta memimpin sektor kemaritiman Indonesia, TNI AL membutuhkan penguatan organisasi. Hal ini menjadi salah satu program prioritas Panglima TNI, yaitu membentuk empat satuan baru, dua di antaranya adalah satuan TNI AL yaitu Koarmada III dan Pasmar 3 Korps Marinir di Sorong beberapa waktu yang lalu.

Untuk mengetahui apa yang akan dilakukan orang nomor satu di TNI Angkatan Laut ke depan, wartawan Koran Jakarta, Muhammad Umar Fadloli dan Selocahyo, berkesempatan mewawancarai KSAL, Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, di beberapa kesempatan terpisah, antara lain usai acara pelantikan di Istana Negara Jakarta, serah terima jabatan (Sertijab) di Mabes TNI Angkatan Laut, dan di Pangkalan Udara TNI AL, Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Berikut petikan selengkapnya.

Apa program pertama Anda yang akan dilakukan dalam memimpin TNI Angkatan Laut ke depan?

Kami akan meneruskan apa yang sudah dirancang Laksamana TNI Ade Supandi (KSAL sebelumnya). Program itu kan lima tahun sampai 2019, itu sudah terencana dan sudah berjalan dengan baik, ya kami tinggal meneruskan, seperti di Sorong (Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut XIV) tinggal melengkapi personelnya, tinggal menggeser alutsista yang di sana.

Sebelum dilantik menjadi KSAL, Anda pernah menjabat Pangkoarmabar, jadi sudah memahami apa yang akan dilakukan untuk membangun TNI Angkatan Laut yang andal?

Pada intinya, seluruh wilayah Indonesia kami ciptakan untuk aman dan stabilitasnya terjaga dengan baik. Semua itu untuk hadirnya kondisi yang damai.

Berarti, ke depan akan terus dilanjutkan pembangunan pangkalan, seperti yang ada di Natuna?

Intinya, Natuna secara keseluruhan untuk pangkalan. Yang belum selesai pangkalan kapal selam. Kalau secara keseluruhan sudah selesai, tinggal mungkin pemenuhan personel batalion, mungkin ditambah pasukan untuk Marinir.

Kalau pengamanan pulau terluarnya apakah masih tetap?

Tetap. Saya kira pulau terluar seperti Selaru, Morotai, ada di Samolabi. Saya kira itu prioritas-prioritas yang harus dilaksanakan tahun depan.

Pangkalan kapal selam itu akan diselesaikan kapan?

Saya kira semua itu akan tergantung anggaran ya. Kalau anggarannya tersedia dengan cukup, tentu akan cepat selesai.

Apa sudah ada anggarannya?

Saya kira Anda lebih tahulah soal itu.

Kembali soal pembangunan pangkalan di Natuna, apakah tahun ini akan diresmikan?

Batalion yang ada di sana sudah diawaki. Namun, rumah sakit secara keseluruhan belum lengkap peralatannya. Di sana ada kesatuan darat, laut, dan udara. Rumah sakit secara integratif harus dilengkapi peralatannya.

Alutsista dibutuhkan juga?

Penguatan alutsista ya kita tinggal meneruskan. Untuk program alutsista kita dengan program-program yang sudah jalan diteruskan. Saya kira tinggal bagaimana kita mengawal, karena ada yang lima tahunan, ada yang tahunan, kita lihat semua itu.

Yang terdekat untuk pengadaan alutsista apa?

Kapal selam yang tahap dibangun PT PAL itu yang menjadi prioritas harus diawasi karena itu dibangun di Indonesia full. Ini yang ketiga. Tentunya di situ sarana dan prasarananya, karena membangun kapal selam butuh SDM, sumber teknologinya itu semua kan perlu disiapkan.

Kira-kira pembangunan kapal selam di PT PAL bisa diselesaikan kapan?

Saya kira itu program PT PAL yang jalan, ya secepatnya.

Indonesia ingin jadi poros maritim dunia ke depan, apa yang akan dilakukan TNI Angkatan Laut?

Untuk Indonesia, khususnya TNI Angkatan Laut, poros maritim adalah bagaimana mengamankan jalur distribusi poros maritim itu sendiri, mengamankan perairan kita sehingga aman dan nyaman bagi pengguna laut. Kemudian, situasi keamanan kita ciptakan bahwa semua yang ada di laut, distribusi, keamanan navigasi, keamanan pelayaran. Semua itu tugas penting TNI Angkatan Laut ke depan.

Perlu kerja sama dengan Badan Keamanan Laut (Bakamla)?

Saya kira itu perlu kerja sama yang sinergis, sangat penting dan perlu. Tidak mungkin Bakamla berjalan sendirian. Saya kira stakeholder yang mengawaki Angkatan Laut ini semua, saya kira diperlukan kerja sama yang sinergis.

Setelah dilantik Presiden Joko Widodo, dilakukan serah terima jabatan oleh Panglima TNI. Apa ada pesan khusus dari Panglima TNI?

Tanggal 28 Mei 2018, saya resmi menerima tugas dan wewenang tanggung jawab sebagai KSAL yang baru saja dilakulan oleh Panglima TNI. Apa yang disampaikan oleh Panglima TNI tentang program kegiatan yang menjadi fokus TNI AL ke depan akan saya teruskan dan saya wujudkan sesuai dengan apa yang dilaksanakan oleh Laksamana Ade Supandi.

Hal ini penting sekali saya sampaikan, karena kita tahu tuntutan dan dinamika ke depan yang begitu cepat perubahannya. Dengan begitu, kita harus mengimbangi dan menciptakan stabilitas, politik, serta keamanan di negeri ini.

Kembali ke soal poros maritim, apa yang akan dilakukan TNI AL dalam mendukung visi Indonesia sebagai poros maritim dunia?

TNI Angkatan Laut telah menyiapkan unsurnya dengan maksimal dan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Visi membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia merupakan reorientasi arah pembangunan nasional untuk memanfaatkan potensi kelautan sebagai prioritas utama.

Hal ini diimplementasikan dalam kebijakan pembangunan nasional yang menempatkan sektor kemaritiman sebagai driving force perekonomian bangsa Indonesia. Dalam hal ini kita melaksanakan tugas TNI matra laut di bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga keamanan wilayah laut, pemberdayaan wilayah pertahanan laut, dan pembangunan dan pengembangan kekuatan matra laut.

Bicara soal pembangunan kekuatan, bagaimana dengan unsur penerbangan Angkatan Laut?

Penerbangan TNI AL unsur wajib dalam sistem senjata armada terpadu selain kapal perang, Korps Marinir, dan pangkalan. Selama masa pengabdianya, Penerbangan Angkatan Laut telah berkontribusi terhadap tugas pokok TNI AL sebagai fleet air wing di berbagai penugasan.

Itu dilakukan mulai dari Operasi Trikora, Dwikora, pengusiran kapal Lusitania Expresso, pengamanan jajak pendapat di Timor Timur, hingga Pembebasan MV Sinar Kudus di Somalia. Penerbangan Angkatan Laut dituntut mampu mengembangkan diri seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dirgantara.

Fokus pengembangan seperti apa?

Program pembangunan kekuatan penerbangan difokuskan pada kekuatan pesawat udara baik, fixed wing jenis serbu dan serang yang memiliki kemampuan antikapal permukaan, kemampuan antikapal selam. Pengembangannya berbasis capability dan kebutuhan operasi serta mission combat system,mengedapankan teknologi terkini.

Bagaimana dengan teknologi pesawat tanpa awak?

Penerbangan Angkatan Laut merupakan kepanjangan mata KRI atau unsur-unsur atas air lainnya yang kita miliki, untuk melakukan pengawasan pada wilayah yang cukup luas. Kapal KRI kita mungkin belum mampu mengawasi wilayah laut secara keseluruhan. Karena itu, unsur penerbangan Angkatan Laut akan mampu memberikan informasi yang jangkauannya lebih jauh ke depan.

Untuk itu, akan ada penambahan satu skuadron (unmanned aerial vehicle (UAV) yang dapat membantu sekaligus memberikan efek tunjang yang cukup tinggi pada base operation. Dengan biaya yang tidak terlalu tinggi akan kita maksimalkan skuadron UAV, dikombinasikan unsur patroli maritim guna mengawasi wilayah-wilayah yang selama ini belum ter-cover.

Alokasi kekuatan penerbangan Angkatan Laut?

Mabes TNI sedang mengkaji pengurangan jajaran penerbangan matra laut di Pulau Jawa, untuk dialokasi ke pangkalan terluar. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment