Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Pembangkit Tenaga Surya - Pengembangan EBT di Indonesia Terhambat

Singapura Salurkan Listrik dari Australia via Kabel Bawah Laut

Singapura Salurkan Listrik dari Australia via Kabel Bawah Laut

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Transmisi elektron lewat kabel laut jauh lebih murah daripada transportasi laut energi cair LNG, apalagi batu bara.

 

TENNANT CREEK - Singapura bersedia me­narik kabel di bawah laut sepanjang 4.000 kilo­meter (km) untuk menyalurkan listrik tenaga surya dari pembangkit di Australia ke Negara Singa tersebut. Proyek pengelolaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dari tenaga matahari tersebut dinilai tetap lebih murah dan semakin lebih murah dibandingkan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Singapura.

Lokasi untuk membangun pembangkit listrik bagi Singapura di masa depan itu terletak di ham­paran gurun di luar wilayah Tennant Creek, yang jauh di Northern Territory, Australia. Dikenal se­bagai Sun Cable, kawasan itu berpeluang besar menjadi ladang tenaga surya terbesar di dunia.

Jika dikembangkan sesuai rencana, susunan panel berkapasitas 10 gigawatt (GW) akan ter­sebar lahan seluas 15.000 hektare (ha), dan didukung oleh baterai penyimpan untuk me­mastikan fasilitas itu sepanjang waktu dapat memasok daya.

Saluran transmisi akan mengirimkan lis­trik ke Darwin, dan menyalurkan ke jaringan di wilayah utara. Namun, sebagian besar pa­sokan akan diekspor melalui kabel bawah laut tegangan tinggi berjenis arus searah, mengular melalui pulau-pulau di Indonesia ke Singapu­ra, yang berjarak lebih dari 4.000 kilometer dari Tennant Creek.

Para pengembang mengatakan akan dapat menyediakan seperlima dari kebutuhan listrik negara seluas kota itu, menggantikan listrik ber­bahan bakar gas yang semakin mahal. Setelah 18 bulan dalam pengembangan yang memakan biaya 20 miliar dollar Australia, tiga minggu lalu fasilitas pembangkit Sun Cable melakukan se­rangkaian uji coba di Northern Territory.

Kepala eksekutif Sun Cable, David Griffin, op­timistis kurang dari satu dekade perusahaannya dapat mulai memasok energi untuk Singapura. Dia mengatakan proyek itu akan menggunakan sel surya prefabrikasi. “Untuk menangkap salah satu cadangan sinar matahari terbaik di planet ini,” kata dia, seperti dikutip South China Mor­ning Post (SCMP), Minggu (14/7).

Namun, dia mengatakan transformasi be­sar yang mendukung keberhasilan proyek itu adalah teknologi kabel bawah laut bertegangan tinggi dengan arus searah. Kabel bawah laut Sun Cable ke Singapura akan memakan jarak 3.800 km.

“Ini adalah teknologi luar biasa yang akan mengubah aliran energi antarnegara. Ini akan memiliki implikasi mendalam dan sejauh mana implikasinya belum diidentifikasi secara luas. Jika Anda memiliki transmisi listrik pada jarak yang sangat jauh antarnegara, maka alir­an energi berubah dari bahan bakar cair--LNG atau minyak-ke elektron. Pada akhirnya, itu cara yang jauh lebih efisien untuk mengangkut energi. Kompetitor tidak akan bisa bersaing,” kata Griffin.

Eksekutif Sun Cable yakin Singapura adalah pasar listrik yang potensial, yang selama ini men­dapat pasokan menggunakan pipa gas dari Ma­laysia dan Indonesia, dan dikirim sebagai LNG.

Dihambat Peraturan

Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi Walhi, Dwi Sawung, menilai sangat ironis, In­donesia yang memiliki banyak sumber EBT tidak bisa melakukan hal tersebut. Indonesia sebenarnya memiliki banyak lahan, namun pengembangan EBT dihambat pihak tertentu sehingga tidak terbangun. Pemerintah melalui APBN selalu menyubsidi sumber energi batu bara dan minyak bumi.

“Kita dihambat oleh ESDM yang membuat peraturan, yang memaksa tarif pembelian EBT di bawah biaya produksi. Sedangkan un­tuk batu bara, harga beli bisa floating price. Memang akan sulit kalau pejabat kita punya kepentingan sesaat untuk kelompok maupun pribadi,” tukas Dwi Sawung, ketika dihubungi, Minggu.

Padahal, lanjut dia, dari segi polusi, di In­donesia akan bertambah karena penggunaan PLTU batu bara sangat polutif. Dengan alasan jaminan hukum dan usaha yang lebih pasti, Singapura lebih memilih menyalurkan listrik dari Australia, bukan dari Sumatera. Apalagi, udara di Indonesia makin polutif akibat pema­kaian energi kotor seperti batu bara, sehingga menutupi matahari.

Dwi Sawung mengingatkan semakin pe­merintah menunda keterbukannya pada EBT, akan membuat beban di masa depan bagi PLN dan negara secara umum makin besar. Kelis­trikan Indonesia akan terkunci di energi batu bara seperti Indonesia kini terkunci di energi minyak yang membuat jadi pengimpor minyak.

Dengan cadangan batu bara tersisa Indone­sia di masa depan juga akan menjadi pengim­por batu bara. Sebaliknya, EBT justru makin murah dan Indonesia tidak mau mulai mem­bangunnya sehingga di masa depan pun teran­cam menjadi pengimpor EBT.

“Membangun PLTU batu bara sekarang, maka 20–25 tahun ke depan terkunci di energi kotor dan mahal. Padahal EBT makin hari ma­kin murah. Saat tren dunia di EBT makin mu­rah, PLTU batu bara justru akan jadi beban sangat mahal, termasuk ongkos lingkungan,” papar Dwi Sawung. SB/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment