Koran Jakarta | October 15 2018
No Comments
KTT AS -Korut

Sikap Buruk Korut Tak Bisa Jadi Patokan Sekarang

Sikap Buruk Korut Tak Bisa Jadi Patokan Sekarang

Foto : AFP/SAUL LOEB
Pertemuan Trump -Kim l Pemimpin Kim Jong-un, bersama delegasi Korut (kiri) saat hendak memulai pertemuan tingkat tinggi di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura, dengan delegasi Amerika Serikat pimpinan Presiden Donald Trump, pada Selasa (12/6).
A   A   A   Pengaturan Font

TOKYO - Perilaku Korea Utara (Korut) di masa lalu tak bisa dijadikan patokan untuk memprediksi perilaku negara itu di masa depan. Hal itu dikatakan Moon Chung-in, Penasihat Keamanan Nasional untuk Presiden Korea Selatan (Korsel), Moon Jae-in, di Tokyo dalam sebuah panel diskusi mengenai Korut.

Pernyataan Moon Chung-in itu disampaikan pada Senin (11/6) sebelum pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dan pemimpin Korut, Kim Jong-un, di Singapura digelar, dimana kedua pemimpin akan fokus berdialog masalah pengakhiran senjata nuklir dan program peluru kendali Korut dengan imbalan insentif diplomatik dan ekonomi.

Moon menyatakan sebelumnya AS selalu menyebut Korut kerap melanggar janjinya sendiri menyangkut program nuklirnya.

“Sekarang saatnya menyingkirkan semua pandangan itu. Mari kita lihat apakah Korut bisa mengirimkan pesan yang diinginkan AS dan seluruh dunia,” kata Moon.

 

Bahasa Tubuh

Sementara saat terjadi pertemuan antara Trump dan Kim, pakar bahasa tubuh menyatakan bahwa awalnya pertemuan mereka di Singapura Selasa (12/6) pagi, Presiden Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong-un, terlihat ingin menampilkan kesan dominan ketika mereka memulai pertemuan.

Karen Leong, Direktur Pelaksana Influence Solutions yang berkantor pusat di Singapura, menyatakan bahwa pada 60 detik pertama kedua pemimpin terlihat ingin tampil lebih dominan terhadap lawan bicaranya satu sama lain.

“Jabat tangan mereka terlihat seperti di antara dua sahabat. Trump terlihat sangat menyadari soal ini bahwa dia perlu meletakkan tangannya di atas (tangan Kim) sehingga terlihat dialah yang memimpin,” kata Leong.

Trump mendominasi pembicaraan, sedangkan Kim menyimak dengan penuh perhatian, menoleh ke arah Trump tiga kali selagi mereka berdua berjalan ke ruang pertemuan. Tetapi dia juga menepuk punggung tangan Presiden AS itu, untuk menunjukkan dia mengendalikan lawannya, kata Leong.

Sebelumnya menjelang pertemuan tingkat tinggi di Singapura itu, Trump sudah berkoar-koar bahwa dalam hitungan satu menit dia akan tahu apakah Kim serius atau tidak menciptakan perdamaian. 

 

Ant/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment