Siaga Bencana | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 25 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Siaga Bencana

Siaga Bencana

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Dalam Rakornas yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Sentul, Bogor, Selasa (4/2) dengan tema “Penanggulangan Bencana Urusan Bersama’” dan dihadiri sekitar 10.000 peserta dari berbagai lembaga di Indonesia, termasuk relawan difabel, Presiden Joko Widodo menekankan bahwa sebagian besar ancaman-ancaman bencana di Indonesia terjadi secara berulang, seperti banjir dan longsor.

Di samping memberikan solusi pembangunan infrastruktur terdampak bencana, Presiden Jokowi juga berujar diperlukan solusi yang permanen khususnya perbaikan ekosistem untuk menanggulangi bencana berulang tersebut. Salah satu solusi permanen yang ditawarkannya melalui pendekatan vegetatif yakni menanam tanaman akar wangi (vetiver).

Selain itu, Presiden Jokowi juga mengimbau kepada seluruh instansi pemerintah baik pusat maupun daerah untuk terus bersinergi dalam melakukan pencegahan, mitigasi, dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana, termasuk pengendalian tata ruang berbasis risiko bencana. Jokowi pun memerintahkan para kepala daerah baik gubernur maupun bupati dan wali kota harus segera menyusun rencana kontinjensi termasuk penyediaan sarana dan prasarana kesiapsiagaan yang dapat dilaksanakan semua pihak.

Arahan Presiden itu sangat relevan dengan fakta bahwa bencana alam dalam berbagai bentuk, kerap menghantui negara ini. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sebanyak 203 bencana alam yang terjadi di tanah air dalam periode 1 hingga 20 Januari 2020. Adapun bencana yang terjadi yakni puting beliung yang diikuti bencana banjir, dan tanah longsor.

Akibat bencana tersebut, sebanyak 800.124 jiwa mengungsi, 74 orang meninggal dan luka-luka sebanyak 83 orang, sementara 8 orang dinyatakan hilang. Sementara itu, untuk kerugian material, sebanyak 12.148 rumah rusak, dengan rincian 3.175 rumah rusak berat, 2.187 rumah rusak sedang, dan 6.786 rumah rusak ringan. Selain itu, juga ada 93 jembatan rusak akibat dari bencana tersebut.

Bahkan, perkiraan BNPB seperti diungkapkan Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo pada akhir tahun lalu, pada tahun 2020 ini, diperkirakan sebanyak 3.000 bencana hidrometeorologi, meliputi banjir, longsor dan puting beliung masih mendominasi beberapa wilayah di Tanah Air.

Dalam konteks kesiapan menghadapi berbagai bencana yang diprediksi akan terjadi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengeluarkan surat edaran terkait antisipasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana bagi seluruh Gubernur dan Walikota/Bupati. Edaran tersebut dikeluarkan terkait adanya peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) soal adanya potensi cuaca ekstrem.

Diingatkan Mendagri, langkah-langkah yang harus diambil kepala daerah adalah membentuk posko kesiapsiagaan pemerintah daerah dan melakukan pemantauan secara cermat terhadap informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG, BNPB dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Sedangkan Badan Penanggulangan Bencana Nasional mengimbau masyarakat untuk menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB). Imbauan ini dilakukan untuk mengantisipasi bencana atau kondisi darurat lainnya, sehingga dapat meminimalisir kemungkinan yang tidak diinginkan. Tas yang digunakan sebisa mungkin dapat untuk bertahan hidup selama menunggu Tim SAR datang untuk mengevakuasi.

Kita mengimbau semua lapisan masyarakat mulai menyadari pentingnya mempersiapkan diri menghadapi berbagai bencana. Namun karena umumnya bencana itu bersumber dari perilaku manusia, misalnya melakukan penebangan hutan yang tak terkontrol, membuang sampah di sungai dan selokan, membangun di areal yang merupakan aliran sungai atau wilayah tadah hujan, dan perilaku buruk lainnya yang menyumbang bencana, maka hal itu harus segera dihentikan.

Bersamaan kita siap siaga menghadapi bencana, maka sebelum bencana itu datang, alangkah lebih baik jika kita meminimalisir potensi-potensi penyumbang bencana yakni mengubah perilaku yang selama ini buruk menjadi baik terhadap lingkungan.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment