Koran Jakarta | April 22 2018
No Comments

Serangan ke Suriah

Serangan ke Suriah

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Pasukan militer Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis menggelar serangan militer atas tiga fasilitas pembuatan senjata kimia Suriah. Tiga target itu berada di Ibu Kota Damaskus dan Kota Homs. Serangan Sabtu (14/4) pagi itu melibatkan sekitar seratus rudal misil jelajah Tomahawk dari pesawat jet tempur dan kapal perang.

Operasi militer gabungan ini digelar sepekan setelah sebuah serangan senjata kimia dilancarkan terhadap Kota Douma yang dikuasai gerilyawan. Serangan kota yang tak jauh dari Damaskus itu menewaskan lebih dari 40 warga. Negara-negara barat menuding Presiden Bashar al-Assad berada di balik serangan senjata kimia.

Kini Suriah telah berubah menjadi konflik global. Negara–negara kunci berlomba-lomba menjejakkan kaki di atas wilayah yang dilanda perang saudara selama hampir empat tahun itu. Mereka adalah Amerika Serikat, Uni Eropa, Russia, Arab Saudi, dan beberapa negara Teluk lain seperti Iran serta Turki.

AS dan Russia mempunyai kepentingan berbeda dalam konflik ini. AS bersama sekutunya menginginkan rezim Assad tumbang. Sedangkan Russia dan sekutunya menginginkan Rezim Assad tetap ada. AS ingin memperkuat posisi Israel di Timur Tengah demi mendukung kebijakan politik luar negerinya di kawasan itu. Kedekatan Suriah, Hizbullah, dan Hamas memberi ketakutan tersendiri bagi Israel.

Kejatuhan Bashar al-Assad akan mengubah peta politik AS di Suriah. AS akan semakin leluasa menancapkan kepentingan politik ekonominya. Seperempat pendapatan Suriah berasal dari minyak. Artinya negara ini memiliki cadangan minyak melimpah dan menghasilkan 400.000 barel minyak bumi per hari.

Itu sebabnya, AS tak akan berhenti memperjuangkan Suriah untuk menjadi sebuah negara demokrasi. Demokrasi dianggap sebagai sistem yang tepat untuk menciptakan keadaan kondusif untuk memberangus radikalisme Timur Tengah. Konflik Suriah berawal dari fenomena Arab Spring di Timur Tengah yang awalnya berjalan damai berubah menjadi konflik berdarah menewaskan ratusan ribu orang. Jutaan pengungsi membanjiri negara-negara Eropa.

Situasi di lapangan menjadi semakin rumit dengan munculnya ekstremis ISIS di Suriah dan menjadi kekuatan menakutkan. Mereka berhasil menguasai wilayah yang luas di Suriah, bahkan sebagian wilayah Irak. ISIS menjadi teroris terkaya karena berhasil menguasai ladang minyak Suriah dan Irak.

Kemunculan ISIS membuat was-was AS dan sekutunya. Sejak pertengahan 2014, AS dan sekutunya melancarkan serangan udara untuk melumpuhkan ISIS di Suriah dan Irak. Namun serangan AS itu tidak efektif. Serangan udara yang digadang-gadang bakal mudah menghancurkan ISIS ternyata tidak sesuai dengan realita.

Kepentingan utama Russia berusaha mempertahankan pangkalan angkatan laut di Tartus, satu-satunya pelabuhan air hangat yang dimiliki Russia di Laut Tengah. Dengan hadir di Tartus, menandakan Russia bercokol di Timur Tengah. Jika rezim Assad tumbang, berakhirlah aliansi lama yang dibangun sejak perang dingin dan berakhir pula posisi strategis Russia di Timur Tengah.

Russia juga begitu gencar menyerang ISIS dan kelompok ektremis lainnya karena Russia khawatir paham radikalisme akan menjalar ke wilayah federasinya seperti Chechnya dan Dagestan. Russia mempunyai pengalaman menumpas gerakan ekstremisme di wilayah tersebut.

Di kubu Assad, juga ada Iran yang selama ini merupakan sekutu terdekatnya sebagai sesama Syiah. Iran selama ini telah cukup banyak membantu pasukan pemerintah dalam memerangi gerilyawan. Negara mayoritas muslim Syiah tersebut telah menghabiskan miliaran dollar AS per tahun guna menopang Assad. Suriah tempat transit utama pengiriman senjata Iran bagi gerakan Syiah Islam Libanon, Hizbullah.

Kalau sampai Assad jatuh k etangan AS dan sekutunya, Iran akan terkepung posisinya di Timur Tengah. Arab Saudi dan Turki juga memiliki kepentingan berbeda. Maka, konflik Suriah bukan sekadar perseteruan yang melibatkan pihak di dalam, tapi juga negara-negara lainnya. 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment