Koran Jakarta | July 24 2017
No Comments

Sepotong Jalan Pengharapan

Sepotong Jalan Pengharapan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Di zaman yang dinamai sandyakalaning surat kabar, atau dengan kata lain senja kala media cetak, saya diyakinkan lagi untuk masih mempercayai kekuatannya. Mungkin ini berlebihan. Tapi selama “ 9 tahun” menulis di rubrik ini, baru kali ini rasanya menulis satu tema berurutan dalam hati bersambung dengan tema: “jalanan” yang di Sabtu lalu (13/4/17) sebagai “jalan penyiksaan”.

Dan ajaib dan heranlah. Sejak Senin kemaren— Minggu tak dihitung karena libur, ujung jalan M Saidi yang menyiksa itu menjadi lengang. Baik Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat. Sangat kosong seolah sudah menjelang Lebaran—ketika sebagian kendaraan mudik. Perubahan yang luar biasa.

“Pak Ogah” yang kemaren meraja lela, hanya ada di jalan yang menuju jalan tol. Sementara yang lainnya aman dan lancar— kecuali masih tersisa motor yang melawan arus. Karena memang penghalangnya mudah digeser. Ada beberapa Satpol PP yang menjagai, tapi lebih banyak duduk, karena tak perlu diteriaki dan sisempriti.

Jalan penyiksaan menjadi jalan yang memberi harapan—bahwa kemacetan bisa diatasi. Bisa jadi, tak terjadinya penumpukan seperti biasanya karena murid Sekolah Dasar sebagian libur—karena ada ujian. Tapi, ujian telah berlalu pun masih sepi. Mungkin karena ulangan—tapi itu tak berarti libur, dan biasanya mereka berangkat lebih pagi.

Saya tak ingin hanyut dalam memuaskan diri karena tulisan di koran ini, melainkan bahwa kalau benar, media cetak masih besar pengaruhnya. Jauh sebelum media sosial memviralkan , tulisan sederhana menemukan gaungnya secara luar biasa. Kisah-kisah penjual kerupuk buta, menimbulkan iba di mana-mana.

Seorang kakek-kakek— walaupun belum setua itu benar, yang berjualan sayur dan dagangannya pas-pasan di sebuah kompleks perumahan, menjadi ditunggu ibu-ibu penghuni kompleks tersebut. Hal yang sebaliknya juga terjadi. Anak-anak yang berjualan cobek batu yang dikatakan dieksploitasi seseorang, bisa runyam dan diemohi.

Atau anak-anak pengemis yang dituliskan suka “ngelem”—cara mabuk dengan menghisap lem, menjadi dijauhi dan tak diberi receh. Tulisan itu bisa keliru alasannya, bisa berlebihan kesimpulannya. Namun akibatnya terasakan. Dan media cetak—yang kadang digambarkan lima tahun yang akan datang sudah sangat berbeda dengan saat ini—masih menyisakan sejarah keunggulannya.

Dalam satu tulisan, sebuah desa gerabah—peralatan dari tanah liat, menjadi desa kerajinan yang unik dengan karya-karya seni yang akhirnya mengubah kemiskinan daerah tersebut. Desa Kasongan menjadi “desa seni keramik” yang menasional.

Hal yang sama terjadi di Bali ketika seniman lukis muda yang tak pernah diperhitungkan karena tak seperti nenek moyangnya yang “khas Bali, mendadak memiliki eksistensi dan diakui sebagai “gaya” tersendiri. Hanya karena tulisan— karena huruf mengubah nasib generasi “young kemasan”.

Sampai di sini, kita menemukan betapa pentingnya mengingatkan adanya Hari Buku Nasional yang kita rayakan. Yang masih bisa diharapkan menjadi “jendela kemanusiaan”, jendela kemajuan. Bahwa membaca buku adalah baik dan benar. Dan segala upaya mempermudah adalah perbuatan mulia. Selama ini pula kita takjub oleh mereka yang terus memperjuangkan:

dengan kuda yang mengantar buku ke kampung-kampung di pegunungan, dengan perahu di kampung-kampung yang terisolasi, di kendaraan umum ketika menumpang kendaraan umum. Atau didirikannya perpustakaan di terminal, di pasar, di rumah-rumah pribadi. Itu yang sudah dilakukan.

Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan, dan diteruskan. Bersama dengan upaya-upaya resmi dari pemerintah. Baik juga diingatkan lagi bahwa dulu ada buku Inpres yang disebarkan gratis ke seluruh sekolah di penjuru Tanah Air ini. Di saat kecemasan akan media cetak menguat, kita justru diingatkan perlunya huruf, perlunya buku, perlunya menulis—dan membaca.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment