Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Sensasi Gurih Lumpia Malang

Sensasi Gurih Lumpia Malang

Foto : Koran Jakarta/Selocahyo
A   A   A   Pengaturan Font

Lumpia yang selama ini dikenal sebagai kuliner khas dari Semarang, sejatinya adalah jajanan tradisional Tionghoa. Oleh karena itu jangan heran bila anda akan menemukan masakan berbahan kulit tepung dengan beragam isian di dalamnya ini di daerah-daerah lain yang banyak didiami kaum peranakan.

Malang sebagai salah satu tujuan wisata kuliner yang lengkap di Jawa Timur, juga tak ingin ketinggalan menyajikan menu Klasik Tionghoa. Meski lebih dikenal dengan menu ikon cwimie nya, “Kota Bunga” ini juga punya kue lumpia andalan yang banyak digemari.

Lumpia Hok Lay

Bagi yang penasaran seperti apa rasanya lumpia Malang, silahkan langsung meluncur ke Jalan K.H. Ahmad Dahlan yang hanya berjarak beberapa menit dari Stasiun Kota Malang.

Anda akan menemukan sebuah bangunan lawas berwarna krem, sebagai tempat Lumpia Hok Lay dijajakan. Aroma “vintage” kedai ini bukan untuk mengikuti desain tren kafe-kafe saat ini, namun memang rumah nomor 10 adalah lokasi asli Almarhum Tio Hoo Poo menjual lumpia besutannya di Malang sejak 1946.

Meski mengusung nama Lumpia Hok Lay Semarang di bagian depan, namun dijamin jajanan kebanggaan “kera ngalam” ini memiliki ciri khas tersendiri. Dibandingkan lumpia Semarang yang umumnya berukuran cukup besar, lumpia Hoklay memiliki dimensi sedikit lebih kecil.

Selain soal penampakan, saus tauconya yang berwarna merah kehitaman tidak sekental bumbu lumpia Semarang. Rasanya pun sudah sudah disesuaikan dengan selera orang Malang, tak terlalu manis dengan sedikit sensasi asinasin yang mengintip di lidah.

Sedangkan yang membuat pengunjung ketagihan adalah tekstur kulit dan dagingnya yang sangat empuk dan lembut, hampir menyamai kelembutan bumbu tauconya.

Sementara untuk isian lumpia, lebih banyak mengandung wortel sehingga terasa lebih segar tanpa menutupi rasa rebung lumpia yang khas. Satu porsi lumpia berisi dua lumpia goreng dengan isian ayam dan rebung yang tidak mengeluarkan bau, dengan saus dan acarnya cukup khas.

Pengunjung bisa memilih sesuai selera apakah ingin lumpia goreng atau basah. Ciri lainnya, saat disajikan lumpia tak hanya didampingi bawang prei, namun juga disertakan selada segar berukuran besar. Kombinasi ini membuat pengalaman santap lumpia Hok Lay terasa lebih nikmat.

“Cara memasaknya juga agak berbeda dengan resep asli lumpia semarang, kulitnya tidak menggunakan bahan telur,” kata generasi ketiga dari pengelola Lumpia Hok Lay, Iin, beberapa waktu yang lalu.

Bersama sang kakak Budiman, Iin menjalankan kedai legenda itu dengan ciri aslinya. Hampir seluruh isi bangunan depot masih dipertahankan keasliannya, mulau ubin, kursi rotan, meja makan dari kayu jati dan beberapa lukisan kuno.

Keramahan khas Malang lama pun bisa dirasakan pengunjung dengan layanan ramah yang langsung diberikan oleh pemilik kedai. Tak hanya itu, kedai Lumpia Hok Lay juga mempertahankan jam operasional seperti zaman awal, yakni buka ada jam tutup istirahat pada pada pukul satu siang hingga pukul empat sore.  SB/E-6

Sajian Lomie

Selain lumpia, Kedai Hok Lay juga punya beberapa menu andalan lain. Selain Cwi mie yang merupakan kuliner khas Malang, pilihan lain yang layak dicoba adalah Lomie.

Lomie adalah masakan mie yang berdiameter agak besar seperti Mie Aceh dan hasil olahannya basah dan berkuah saat dihidangkan. Berbeda dengan Ifumie yang menggunakan mie pipih dan hasil masakan berupa mie garing yang disiram sedikit kuah yang agak kental.

Lomie disajikan dengan kuah kental dengan berbagai isian seperti bakso, pangsit, dan sayuran. Kuah kentalnya terbuat dari rebusan seafood yang ditambahkan dengan tepung maizena sebagai pengental.

Disajikan dalam mangkok besar, dijamin Lomie Hok Lay akan membuat pengunjung kekenyangan. Serunya lagi, meski sudah menyantap lumpia atau menu lain, saat mencoba Lomie seperti tak ingin berhenti menyuapkan sendok demi sendok ke mulut. Walau perut terasa penuh, lidah seperti ingin tetap dibelai dengan kuah kanjinya yang kental dengan sensasi manis gurih yang kuat. SB/E-6

Es Fosco

Walau lumpia menjadi menu utama kedai yang terletak tak jauh dari alun-alun Kota Malang ini, bukan berarti menu minuman yang ada hanya sebagai sekedar pelengkap pelepas dahaga. Rasakan minuman legenda Hok Lay, yang selalu dipesan pengunjung, Es Fosco.

Sejatinya Es Fosco adalah minuman susu coklat dingin yang bisa dibuat oleh siapa saja. Menggunakan susu sapi murni dan bubuk coklat sebagai bahan utama, cara penyajian Fosco yang tetap mempertahankan gaya aslinya yang menjadi sensasi unik bagi pengunjung yang mencoba.

Pengunjung menikmati Es Fosco dengan sedotan karena disajikan di dalam botol. Penggunaan botol minuman kola bersoda inilah yang menjadi ciri khasnya. Botol berbahan kaca yang digunakan pun adalah edisi keluaran tahun 80-an, berbeda dengan tampilan botol minuman tersebut sekarang.

“Sejak awal kedai buka sudah menggunakan botol minuman ini, karena zaman itu belun ada botol lain yang ukurannya, namun yang asli sudah rusak, sehingga kita pakai yang keluaran tahun 80-an. Dipertahankan karena pengunjung suka keunikkannya, ada yang ingin beli dibawa pulang tidak kami kasih, karena sudah tidak ada lagi botol ini,” kata Budiman.

Untuk urusan rasa, Es Fosco juga juara. Kandungan coklatnya terasa kuat dalam bercampur susu sapi yang kental, yang memberikan rasa gurih dibelakang. Semakin lengkap, sensasi coklat manis dan gurih ini disajikan dalam keadaan dingin, menyempurnakan kesegaran minuman ini.

Menu minuman lain yang patut dicoba adalah sirup limun dan arbei. Tak sembarangan, Kedai Hok Lay tetap menggunakan sirup jadul “Linggardjati” dari industri tradisional di Pasuruan yang telah ada sejak 1948. Disajikan dalam gelas dengan es batu, minuman ini terasa menyegarkan di siang yang terik.  SB/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment