Koran Jakarta | December 13 2017
No Comments
Bayi Gajah

Selamat untuk Si Cantik yang Belum Bernama

Selamat untuk Si Cantik yang Belum Bernama

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Bayi cantik itu belum diberi nama, walau kini sudah berusia tiga bulan. Bayi cantik ini diperkenalkan ke umum saat World Animal Day ( 04/10), ditemani “mamanya”, Tira, usia 23 tahun.

“Papanya” jauh lebih muda, 20 tahun, Andalas, tidak ikut muncul dalam perkenalan itu. Kehadiran bayi cantik belum bernama itu menambah semarak peringatan Hari Satwa Internasional, dan dirayakan meriah di Batu Secret Zoo, Jawa Timur Park II, Batu, Jawa Timur.

Bayi cantik itu bayi gajah, yang lahir dari papa-mama yang juga gajah tentu saja, lahir 24 Juli 2017 kemarin. Cukup menggembirakan, cukup melegakan. Tira berasal dari Pusat Latihan Gajah Lahat dan “suaminya” dari pusat latihan yang sama di Banyuasin, Sumsel.

Saya memilih memakai istilah yang dipakai untuk sebutan manusia— mama, papa, suami, bayi (dan bukan bledhug alias debu atau sebutan bagi bayi gajah) karena merasakan ini berita gembira, menyemangati.

Bisa dimaklumi karena sejak kedua dipacarkan, disandingkan, diupayakan perkawinannya, banyak kemungkinan bisa terjadi. Kawin secara alami untuk binatang seperti gajah, pastilah bukan hal yang mudah.

Termasuk saat kawin, dan perhitungan kandungan 22–23 bulan (hampir dua tahun), untuk memperkirakan kapan si kecil dilahirkan. Ada dokter-dokter khusus memantau, mengawasi dengan ultrasonografi, USG, sebagaimana memantau bayi manusia secara keseluruhan.

Konon, juga dicatat apakah induk dan bapaknya mengalami stres, misalnya. Ibarat kata, kelahiran yang dipantau, diperhatikan dengan cemas dan was-was.

Dan untunglah semua berjalan dengan baik, dan bayi—serta ibunya, selamat, sehat. Rasanya perlu diberikan ucapan selamat kepada pengasuh, perawat, dan semua yang terlibat. Tara dari gadis di kebun binatang dan ini persalinan pertama. Semua menjadi sempurna karena pada saat yang sama ada pasangan orangutan yang melahirkan.

Yang melalui proses pengawasan, perawatan yang sama, termasuk tes urine, hormon dan segala macam pemeriksaan medis lainnya. Anak orangutan yang berkelamin jantan tak bisa dipamerkan ke publik.

Karena mama Toti, 12 tahun, dan papa Bontang, 10 tahun, sangat protektif. Dikhawatirkan bisa merugikan perkembangan si bayi—dan orang tuanya yang adalah orangutan—kalau banyak dilihat dan dijadikan tontonan.

Kelahiran binatang seperti gajah, orangutan—atau badak, atau panda, atau singa, atau “binatang buas” lainnya—menarik perhatian dan menggembirakan.

Di penjuru dunia mana pun, di kebun bintang mana pun, ini menjadi berita gembira. Banyak alasan untuk merayakan suka cinta: karena berkembangnya kehidupan dari spesies yang terancam punah, sampai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.

Lebih dari itu, kadang ada yang mengaitkan dengan “tanda-tanda alam”. Bahwa ini menandai sesuatu yang lebih baik. Karena dulu sebelum kejatuhan Bung Karno ditandai dengan matinya singa di kebun raya—karena kelaparan. Namun saya tak mau masuk “tanda-tanda” dengan tafsir yang berlebihan.

Karena kelahiran gajah dan orangutan ini sendiri sudah berarti baik dalam arti sebenarnya. Ada kehidupan. Dan itulah yang bisa membangun optimisme, memberi semangat bahwa kehidupan masih berlangsung dengan sehat,

alami dan tidak memperbanyak kecurigaan tentang agama-agama yang tidak sesuai dengan Pancasila—seperti yang diteriakkan seseorang dan menambah ketegangan. Bayi cantik yang bahkan belum memiliki nama ini sudah mampu memberi penghiburan. Juga menumbuhkan harapan. Selamat... sehat selalu dan cepat besar.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment