Koran Jakarta | September 20 2018
No Comments

Santorini Destinasi Impian

Santorini Destinasi Impian

Foto : Koran Jakarta / Selo Cahyo Basuki
A   A   A   Pengaturan Font

Yunani yang terletak di ujung selatan Semenanjung Balkan, bagian timur Laut Mediterania, dikenal sebagai asal kelahiran kebudayaan Eropa. Delapan puluh persen wilayah yang punya sejarah panjang dan pengaruh budaya pada tiga benua ini terdiri dari pegunungan. Ditambah banyaknya gugusan kepulauan, menjadikan negara dengan garis pantai terpanjang ke-11 di dunia itu sebagai tujuan pariwisata ke- 12 internasional pada 2004.

Terdapat 1.400 pulau di Yunani, 227 di antaranya berpenghuni. Kondisi alam yang indah, mem­buat sebagian pulau-pulau tersebut menjadi tujuan wisatawan, seperti Pulau Kreta, Kepulauan Ionia, dan Kepulauan Cyclades.

Santorini yang terletak di gu­gusan Kepulauan Cyclades, sekitar 200 kilometer dari daratan Yunani, telah menjadi destinasi impian ba­nyak orang karena pemandangan paduan lanskap Laut Aegea dengan bangunan-bangunannya yang begitu cantik.

Kawasan yang terkenal dengan sejarah gunung meletus itu me­rupakan kumpulan enam pulau yang membentuk lingkaran. Ke­enam pulau itu merupakan sisa kal­dera gunung berapi yang meletus hebat 16 abad sebelum masehi. Saat ini, hanya dua pulau di Laut Aegea itu yang berpenghuni, yakni Santorini atau juga disebut Thira, dan Therasia.

Dengan luas wilayah hanya 73 kilometer persegi, Santorini memi­liki cukup banyak desa yang layak jadi pilihan wisata. Ada Fira yang menjadi ibu kota administratif San­torini, Oia dan Imerovigli yang me­rupakan lokasi ideal untuk melihat pemandangan matahari terbenam, Kamari tempat turis menikmati pasir pantai Laut Aegea, atau wisata sejarah peradaban Bangsa Minoa di Akrotiri.

Seperti yang banyak beredar di dunia media atau brosur biro perjalanan, destinasi yang menjadi maskot dan primadona wisawatan di Santorini adalah Oia. Bangunan milik warga yang berdiri rapat di sisi tebing pantai, tampak seper­ti rumah-rumahan yang mungil. Kebanyakan atap-atap bangunan itu berbentuk melengkung seperti kubah gua sehingga sering disebut sebagai cave houses.

Warna-warni kalem yang menghiasi seluruh dinding yang mengelilingi jalanan kecil berlantai batu halus, menimbulkan nuansa tradisional yang unik dan mengge­maskan. Sejumlah gerai milik warga yang menjajakan makanan, cendera mata, buku, serta obat kecantikan berbahan dasar garam menambah semarak suasana.

Lengkungan ratusan bangunan berdinding halus, bernuansa putih dan pastel, dengan satu-dua tonjo­lan biru dari kubah gereja yang ada, berpadu dengan hamparan laut nan tenang. Seolah hasil karya se­orang maestro pelukis yang andal. Seiring warna langit yang terbakar kala senja, pemandangan pulau itu memiliki suasana romantis yang tak mungkin dilupakan.

Aura romantis semakin terasa saat malam tiba. Di bawah lang­itnya yang cerah, ribuan bintang seolah bersaing dengan gemerlap cahaya lampu dari ratusan bangun­an yang berjajar rapat. Saking rapat dan padatnya, dari atas tebing kelap-kelip lampu terlihat seolah membentuk sebagian bentuk wila­yah pulau itu.

Ya, Santorini memang kerap dijadikan lokasi bulan madu oleh para pasangan muda. Lingkung­annya yang bersih dan tertata rapi menghadirkan suasana tenang, co­cok untuk turis yang ingin berma-las-malasan sambil memadu kasih.

Seperti halnya pasangan muda asal Surabaya, Gede dan Watik, yang melakukan perjalanan ala “backpacker”. Keduanya mengaku sangat menikmati suasana syahdu di pulau itu.

“Suasananya yang tenang dan romantis membuat kami memilih tempat ini untuk bulan madu yang tertunda. Pemandangannya indah dan serba-tertata rapi, rasanya betah kalau disuruh tinggal di sini,” ujar Watik.

Keduanya adalah gambaran betapa wisatawan mancanegara begitu menyukai Santorini. Angka kunjungan wisatawan 2017 di pulau yang tidak terlalu luas itu mencapai dua juta orang. Dikutip dari surat kabar The Guardian, pemerintah setempat sampai-sampai memba­tasi jumlah wisatawan yang ingin datang.

“Ada seribu ranjang yang disewakan dalam setiap satu kilometet persegi konsumsi air naik sampai 46 persen, tapi kami meng­alami kesulitan soal biaya dan ahli untuk studi kelayakan menambah pasokan,” kata Wali Kota Santorini, Nikos Zorzos.

Untuk menemukan “Blue Church”, ikon lanskap Santorini cu­kup mudah. Tak perlu repot-repot membuka Google Map, wisatawan tinggal mengikuti kubah birunya yang terlihat menyembul di an­tara bangunan berarsitektur khas Cyclades di sekelilingnya. Model gereja putih berkubah biru sebe­narnya banyak tersebar di Yunani, namun hanya satu-satunya yang ada di Oia. Memaksa para wisata­wan berebut sudut paling strategis di Serenade Point untuk menda­patkan foto terindah saat matahari terbenam.

Selain Gereja Panagia, pengun­jung juga dapat menikmati sejarah Pano Meria, sebutan penduduk lokal untuk Desa Oia, dan kehidup­an masa lalu Pulau Santorini di Mu­seum Maritim Thira, Weaving Mill, dan Captain’s House. Sebagai buah tangan, banyak cenderamata khas Yunani yang dapat kita beli dari penjaja suvenir di Santorini. Mulai yang umum seperti magnet kulkas, hiasan keramik Evil Eye, produk kecantikan dari buah zaitun, kartu pos dan prangko, sampai sandal kulit ala para gladiator.

Kendarai Keledai

Wisatawan yang berkunjung ke Santorini merasa kurang lengkap jika mereka belum mengendarai keledai. Ya, hewan yang kerap digu­nakan sebagai tenaga pengangkut itu merupakan favorit sekali­gus maskot pulau itu. Terbukti, ba­nyak patung keledai yang tersebar dan mudah dijumpai.

Sejak ratusan tahun, keledai memang digunakan sebagai sarana angkutan manusia dan barang menuju Fira dari pelabuhan pe­labuhan di Athinios. Letak Fira yang berada di ketinggian tebing sekitar 400 meter memang membutuhkan sarana angkut khusus. Bagi yang masih muda dan segar, dapat me­nempuh perjalanan lewat 600 anak tangga yang berliku. Namun sejak pemerintah Santorini membangun kereta gantung pada 1979, penggu­naan keledai jauh berkurang. Keledai banyak digunakan oleh para backpacker yang membawa uang terbatas, atau sekadar ditung­gangi untuk foto kenang-kenangan para turis. SB/E-3

Tersedia Beragam Penginapan

Ada dua cara untuk mencapai Santorini dari Ibu Kota Yunani, Athena, yang terletak di da­ratan utama. Wisatawan yang punya banyak waktu dan ingin menikmati indahnya Laut Aegea dapat meng­gunakan kapal ferry yang beroperasi rutin dengan rute pelabuhan Piraeus (Athena)– Paros–Naxos–Ios–Santorini.

Dengan ferry, jarak antara Athena dengan Santorini sejauh 200 kilometer akan ditempuh dalam waktu sekitar 4 sampai 9 jam bergantung kondisi cuaca. Sarana transportasi berikut­nya adalah pesawat terbang yang tentu cocok untuk turis berkantong tebal atau mudah kena mabuk laut. Maskapai Aegean Airlines melayani rute Athena–Santorini de­ngan jadwal penerbangan 3 kali sehari.

Sementara untuk trans­portasi lokal, wisatawan pu­nya beberapa pilihan, sesuai selera dan isi dompet. Mulai jalan kaki yang melelahkan, tapi pas untuk menikmati seluruh sudut-sudut desa, bus yang menghubungkan desa-desa, sampai menyewa mobil.

Bagi kalangan backpacker, bus menjadi kendaraan transportasi favorit. Dengan jadwal rutin siap mengantar wisatawan dari desa ke desa di seluruh pulau mulai dari pelabuhan di Athinios, ke Ibu Kota Fira, ke Desa Oia lokasi “blue church” atau sampai ke pantai-pantai yang ada di sisi luar kaldera.

Adapun untuk peng­inapan, tersedia beragam pilihan akomodasi dengan tarifnya masing-masing. Ho­tel atau penginapan di Desa Oia dikenal memiliki tarif paling mahal terutama pada peak season karena memang menjadi tujuan favorit turis. Wisatawan “pas-pasan” bisa mencoba memilih peng­inapan di Desa Finikia yang berjarak dua kilometer dari Oia. Pilihan hemat lain ada­lah menginap di Fira, karena sebagai pusat administrasi Santorini memiliki jadwal bus yang rutin ke seluruh penjuru pulau.

Strategi berhemat lainnya adalah dalam jurus memilih tempat makan. Harga makan­an di restoran atau kafe yang menjual pemandang­an umumnya cukup mahal. Sambil menjelajah pedesaan Santorini, wisatawan dapat mencoba bersantap ria di rumah makan yang berada di belakang jalan utama. SB/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment