Koran Jakarta | December 13 2017
No Comments

Sail Sabang 2017, Pintu Menuju Golden Triangle Sabang-Phuket-Lengkawi

Sail Sabang 2017, Pintu Menuju Golden Triangle Sabang-Phuket-Lengkawi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

I ndonesia negara maritim, 70% wilayahnya adalah lautan. Sejarah nenek moyang bangsa ini juga dikenal sebagai pengarung samudra, sebagai bangsa bahari. Sail Sabang 2017 adalah pintu masuk membangun wisata berbasis bahari. Menpar Arief Yahya biasa mengulang kata-kata Presiden Joko Widodo, bahwa bangsa kita lahir dalam suasana kepulauan. Lebih dari 17 ribu pulau, sehingga tradisi melaut sudah terbangun sejak lama. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pun membangun Nusantara sebagai kesatuan, terhubung oleh pantai, selat, laut dan samudera.

Dulu, bangsa Indonesia pasti hebat di darat kuat di laut. Memang, dalam perjalanannya, tradisi darat lebih dominan. Sejak Karnaval Kemerdekaan 2015 di Pontianak, Presiden Jokowi mulai membangkitkan tradisi bahari itu. Dari sisi pariwisata, Menpar Arief Yahya menterjemahkan dengan menghidupkan Wisata berbasis bahari.

Karena selama ini, sumbangan bahari dalam pariwisata nasional masih terlalu kecil, hanya 1% saja. Padahal, kekuatan bahari Indonesia begitu luas dan mengagumkan. Sail Sabang 2017 kali ini adalah sail dengan sentuhan wisata bahari. Namanya pariwisata, kata Menpar Arief Yahya, harus menciptakan bisnis baru, agar bisa sustainable dan berdampak ekonomi ke depan.

Karena itu, lebih banyak mengundang perahu pesiar alias yacht, berlabuh di Sabang 2017 ini. Menpar Arief bahkan sudah menandatangi MoU dengan Phuket dan Langkawi, agar pasca Sail Sabang 2017, ada nilai ekonomi dan meng-create bisnis baru berbasis wisata bahari. “Golnya, ada jalur regatta yang rutin dari Sabang Langkawi Phuket, segitiga yang ke depan akan membangun opportunity baru,” tutur Menpar Arief yang asli Banyuwangi itu.

Harus diakui, Indonesia adalah pemain baru di Marine Tourism, terutama di dunia yacht dan super yacht. Dulu, yacht sangat kecil, karena regulasi yang susah. Lalu ada kebijakan pencabutan CAIT, sehingga izin yacht yang hendak masuk ke Indonesia, lebih cepat. “Dari sebelumnya 3 Minggu ke 3 jam! Kita ingin seperti Singapore, yang hanya 1 jam,” kata Arief Yahya.

Berkolaborasi

Dua negara Thailand dan Malaysia sudah sepakat berkolaborasi dalam mengembangkan yachting. Mereka juga senang diajak Triangular Sailing Passage, antara Langkawi, Phuket dan Sabang. “Arahnya memang ke sana. Setelah Sail Sabang, 28 November-5 Desember, kami akan membangun segitiga yacht and cruise antara Sabang-Langkawi-Phuket.

Konsepnya tiga negara dalam satu aktivitas sailing, sekaligus mengimplementasi program regional VisitAsean@50 ,” kata Menpar Arief Yahya, Sabtu (18/11).Program ini harus jalan. Pintu masuknya adalah event Sail Sabang 2017. Event inilah yang menjadi penabuh dimulainya kerjasama jalur Sabang-Phuket-Langkawi.

Setelah sailnya dibuat heboh, aktivitas baharinya akan dilanjutkan dengan yachting tiga negara, Indonesia-Malaysia-Thailand. “Sail Sabang 2017 merupakan proses percepatan wisata bahari kelas dunia. Persiapannya terus kita pantau agar acaranya nanti benar-benar sesuai harapan yaitu wisata bahari berkelas internasional.

Tujuan dari Sail Sabang 2017 ini yakni percepatan,” ujar Menpar Arief Yahya.Penasehat Menteri Pariwisata Bidang Marine Tourism, Dr Marsetio juga seirama. Mimpi besar membuat bisnis marine tourisme yang menghubungkan tiga marina akan dikawal habis-habisan. Sasarannya, mengarah pada poros Phuket, Langkawi dan Sabang.

Tiga titik ini, akan didorong menjadi Triangular Sailing Passage atau segitiga emas.“Jadi Sail Sabang adalah pintu masuknya. Setelah itu nanti tiga negara akan sama-sama mempromosikan Langkawi, Phuket dan Sabang untuk menjadi segitiga emas. Semuanya sudah dibahas bersama komunitas yachter juga pemerintah Thailand dan Malaysia.

Pada intinya semua setuju menjadikan Phuket, Langkawi dan Sabang sebagai kekuatan regional dalammeningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara,” papar Marsetio.Nah, untuk mengarah ke sana, marina di Sabang tentu harus berstandar global. Tolok ukurnya harus sudah level dunia.

Itu artinya, harus ada air bersih, BBM, makan, dan penunjang lainnya. “Nanti kita standarkan dengan mengacu pada standar dunia. Kita akan dorong marina Sabang naik kelas agar kapal-kapal pesiar mewah mau berlabuh ke sana,” ucapnya.Ketua Tim Percepatan Wisata Bahari Indroyono Soesilo juga ikut buka suara. Sebagai pemain baru di Marine Tourism, dia mengaku tak akan ragu untuk terus belajar dari Malaysia Langkawi dan Thailand Phuket.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment