Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
JENAK

Sabtu Ini, Masih Tersisa Rindu

Sabtu Ini, Masih Tersisa Rindu

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Sabtu, hari ini, 23 Juni 2018, terasa beda dengan Sabtu-Sabtu sebelumnya. Juga sesudahnya. Bukan kebetulan Sabtu ini satu minggu setelah pesta merayakan Idul Fitri, setelah sebulan penuh berpuasa. Rasa-rasanya suasana berlibur masih pekat melekat. Bahkan, libur bersama secara nasional sebenarnya sudah berakhir Rabu lalu, masih melekat rasa liburnya sekarang ini.

Seakan masih ada hal-hal yang belum terselesaikan, masih ada rindu yang harus dituntaskan, masih ada Sabtu yang bisa dinikmati. Suasana yang susah terulang. Terutama Sabtu ini, rangkaian dari libur mudik yang juga berbeda. Belasan tahun, atau puluhan tahun, suasana mudik seakan neraka—meski idiom ini masih ada yang menggunakan dan balik ditertawakan, karena mecet tak “ketulungan”, alias tak tertolong.

Perjalanan dari Jakarta ke daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, saat-saat lalu selalu berarti lebih 24 jam, bermalam di jalanan, kepedihan yang hanya dirasakan mereka yang mudik dan bisa merayakan kegembiraan berkumpul bersama keluarga. Mudik kali ini lancar, mengalir, menyuburkan optimisme bahkan tahun-tahun depan bisa menjadi lebih baik.

Juga merangsang para “veteran mudik” untuk mengulang kembali. Sabtu ini pantas dinikmati. Bahkan, ketika helatan besar sedang menyita perhatian setengah dipaksakan, yaitu pilkada. Di beberapa daerah, minggu depan sudah dilaksanakan. Yang artinya hari-hari ini persiapan, pertarungan, sudah berlangsung seru, termasuk acara blocking time, di sejumlah stasiun siar tv.

Namun, antusiasitasnya tak mengganggu hari Sabtu yang masih bisa leyeh-leyeh, masih bisa “nyantai seperti di pantai”. Terasa betul, bahkan suasana kerja di kantor belum sepenuhnya memihak ke hari kerja. Kalau ada yang bisa mengganggu, barang kali hanya pesta sepak bola dunia yang akbar, mencengangkan, penuh dengan emosi tingkat tinggi.

Pertandingan bola sedunia setiap empat tahun sekali ini memang tetap akbar dalam artian diselenggarakan besar-besaran pada hampir semua kegiatan yang ada—pertandingan, pembukaan, penyelenggaraan. Mencengangkan, bahkan kalau ada makhluk dari planet lain melihat masyarakat di seluruh dunia menyaksikan pertandingan ini.

Sulit dimengerti bagaimana seluruh dunia kesengsem, terkesima dengan dua kesebelasan yang berebut bola. Belum lagi pelibatan emosi yang mencapai tingkat emosional tinggi. Pemain mana yang harus diganti, siapa harus bagaimana, atau seharusnya bagaimana menjadi bahan perbantahan sengit. Dan tentu saja, yang juga sangat menentukan, taruhan yang nilainya sungguh tak terbayangkan, seakan tak ada batasanya.

Namun, olahraga yang memancing semua orang berkomentar dan menjadi pakar ini, tidak juga merusak kesantaian Sabtu, suasana istirahat panjang tak berkurang. Justru melengkapi, menyempurnakan kepenuhan Sabtu yang kali ini benar-benar istimewa. Saya ingin sepenuhnya menikmati Sabtu kali ini, merasakan aura besarnya, menemukan kelegaan untuk tidak memaki—atau mendengar makian makin kasar, untuk tidak tergoda berkomentar mengenai hal-hal yang tak masuk akal, yang menjengkelkan dan merusak rasa nyaman.

Juga rasa aman. Yang semuanyaterasakan, disediakan dengan baik oleh suasana Sabtu. Sabtu ini menyelimutkan rasa syukur di antara iklim yang makin panas, di antara gesekan yang memijar di sana-sini. Sabtu ini, barang kali bisa mengajarkan untuk akhirnya bisa menemukan suasana yang sama, kedamaian yang nyaris sempurna, pada Sabtu lainnya, atau bahkan hari yang berbeda, bulan dan tahun yang berbeda. Sabtu yang pantas dihayati dan diucapi terima kasih.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment