Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Penegakan Hukum - Polri Bentuk Tim Investigasi Korban Kerusuhan Aksi 22 Mei

Rusuh 22 Mei Ditunggangi Simpatisan ISIS

Rusuh 22 Mei Ditunggangi Simpatisan ISIS

Foto : ANTARA/YULIUS SATRIA WIJAYA
BERI KETERANGAN - Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal (tengah), Kapuspen Mayjen TNI Sisriadi (kiri) dan Kabag Penum Kombes Pol Asep Adi Saputra memberikan keterangan pers terkait aksi unjuk rasa 22 Mei di Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (23/5).
A   A   A   Pengaturan Font
Demokrasi yang semestinya dilandasi jiwa hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan telah dinodai oleh orang anarkis yang tidak bertanggung jawab.

 

JAKARTA – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengungkapkan terdapat dua kelom­pok yang menunggangi aksi unjuk rasa pada tanggal 21–22 Mei 2019. Kelompok pertama adalah simpatisan ISIS dan kelompok kedua merupakan pemiliki senjata api (senpi).

“Kedua kelompok itu perusuh. Mereka ini berbeda dengan kelompok aksi damai,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Mohammad Iqbal, di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (23/5).

Iqbal menjelaskan, simpatisan ISIS tersebut berasal dari luar Jakarta yang terafiliasi dalam kelompok Gerakan Reformasi Islam (Garis) yang pernah menyatakan sebagai pendukung ISIS Indonesia.

“Mereka sudah mengirimkan kadernya ke Suriah. Hal ini penting saya sampaikan ke­pada publik bahwa fix ada kelompok-kelompok penunggang kegiatan unjuk rasa itu,” jelas Iqbal.

Menurutnya, saat ini, Polri masih terus me­lakukan pengembangan atas pengakuan dua tersangka tersebut, di antaranya mengejar 1–2 tokoh yang terkait dengan kelompok tersebut sebagaimana diakui para tersangka.

Sementara itu, terkait kelompok senpi ber­dasarkan pengakuan sekelompok orang yang sudah ditangkap. Kelompok ini memiliki senpi dengan alat peredam.

“Kami sudah melakukan proses BAP terha­dap beberapa orang yang sudah ditetapkan se­bagai tersangka. Kemarin sudah juga diaman­kan enam tersangka yang juga membawa dua senpi. Yang pertama tadi senpi laras panjang, yang kedua, laras pendek,” jelas Iqbal.

Menurutnya, kelompok senpi punya target ingin membuat kerusuhan. Mereka ingin men­ciptakan martir atau pahlawan. Tujuannya un­tuk menimbulkan kemarahan publik terhadap aparat.

“Ini terus kami dalami dan kejar sesuai stra­tegi penyelidikan. Ada masa perusuh yang di­amankan oleh Polda Metro Jaya yang sudah di­rilis oleh Polda Metro sebanyak 257 orang. Ada tatonya banyak. Kalau enggak salah, empat orang positif narkoba. Bagaimana mau unjuk rasa ka­lau misalnya mereka positif narkoba,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Iqbal mengungkap­kan Mabes Polri telah menangkap sebanyak 442 orang yang diduga sebagai perusuh dalam aksi damai di depan Kantor Bawaslu, Jakarta.

“Jadi, pada aksi massa 21–22 Mei itu ada dua segmen. Pertama, massa peserta aksi damai yang spontanitas. Kedua, massa perusuh yang sengaja menyusup untuk membuat rusuh,” ujar Iqbal.

Para pelaku ditangkap di sejumlah lokasi, seperti depan dan sekitar Kantor Bawaslu RI, Patung Kuda, Sarinah, Slipi, Menteng, dan Pet­amburan. Mereka terbukti melakukan perusak­an dan pembakaran kendaraan di asrama Polri Petamburan, depan Kantor Bawaslu RI, dan di depan Stasiun Gambir. Dari tangan pelaku dite­mukan, di antaranya senjata tajam, busur panah, bom molotov, batu, petasan, dan uang tunai yang diduga untuk membiayai aksi tersebut.

Terkait adanya jatuh korban jiwa sebanyak tujuh orang dan luka-luka, Iqbal mengatakan telah dibentuk tim investigasi. “Kapolri sudah membentuk tim investigasi yang dipimpin oleh Irwasum (Inspektur Pengawasan Umum) Polri untuk mengetahui apa penyebabnya,” katanya.

Hentikan Demo

Sementara itu, Ketua Umum PP Muham­madiyah, Haedar Nashir, mengecam keras aksi unjuk rasa berujung kerusuhan. “Hal ini harus segera dihentikan. Demokrasi yang semestinya dilandasi jiwa hikmah kebijaksanaan dan per­musyawaratan telah dinodai oleh orang anar­kis yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Ia menyerukan semua pihak agar dapat me­nahan diri dan menghentikan semua bentuk kekerasan dan tindakan yang berpotensi mem­ecah belah persatuan.

“Sungguh mahal harganya manakala Indo­nesia mengalami eskalasi kerusuhan dan an­arki karena persengketaan politik Pemilu lima tahunan. Masih banyak permasalahan untuk diselesaikan bersama menuju Indonesia yang bersatu, adil, makmur, bermartabat, berdaulat, dan berkemajuan,” jelas dia.

Sedangkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, me­rasa sangat prihatin dengan terjadinya kericu­han pada 22 Mei. “Kini saatnya semua masyara­kat bermuhasabah dan memandang ke dalam diri sendiri atas peristiwa yang terjadi,” katanya. fdl/Ant/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment