Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
Nilai Tukar - Tren Pengetatan Moneter Global Membayangi Rupiah

Rupiah Masih Akan Melemah usai Libur Lebaran

Rupiah Masih Akan Melemah usai Libur Lebaran

Foto : Sumber: Bank Indonesia – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>>Pasar tunggu sinyal berapa kali lagi The Fed akan naikkan bunga acuan di sisa tahun ini.

>>Kenaikan bunga The Fed meningkatkan nilai persepsi risiko investasi (CDS) di Indonesia.

 

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi masih tetap dalam tekanan depresiasi usai libur panjang Lebaran pada 20 Juni nanti.

Sebab, saat pasar keuangan Indonesia tutup lebih dari sepekan, ada sejumlah kejadian penting global yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan mata uang RI itu.

Yang terutama adalah kemungkinan besar kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Fund Rate atau FFR, pada sidang Federal Open Market Committee (FOMC) 12–13 Juni 2018.

Kemudian, disusul rilis kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) yang diprediksi juga memunculkan atmosfer pengetatan moneter di Eropa.

Pengamat pasar modal, Farial Anwar, mengingatkan kurs rupiah sejatinya masih dibayangi volatilias yang cukup tinggi. Apalagi, saat penutupan pada perdagangan akhir pekan lalu mata uang RI itu melemah.

“Meskipun pasar di Indonesia libur, tapi di luar sana itu banyak aktivitas yang akan mempengaruhi pergerakan pasar,” kata dia, di Jakarta, Minggu (10/6).

Pada hari terakhir perdagangan, sebelum libur panjang Lebaran 2018, nilai tukar rupiah di pasar spot, Jumat (8/6), diakhiri 57 poin (0,41 persen) lebih rendah dibandingkan penutupan hari sebelumnya, menjadi 13.932 rupiah per dollar AS.

Sepanjang tahun ini, mata uang RI itu masih terkikis sebesar 2,78 persen. Mengantisipasi libur panjang Lebaran, pemodal mengamankan dana dengan melepas portofolio investasi dalam rupiah dan beralih ke dollar AS atau berinvestasi di pasar lain.

Farial menambahkan besarnya pengaruh kenaikan FFR terhadap pergerakan rupiah setelah libur Lebaran nanti bergantung pada pernyataan The Fed soal arah kebijakan moneter AS ke depan. Pasar menunggu sinyal berapa kali lagi The Fed akan menaikkan suku bunga acuan di sisa tahun ini.

“Tekanan dari global lebih dominan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga hingga tiga kali itu faktor utamanya,” papar dia.

Sementara itu, berdasarkan CME Fedwatch kemarin, probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin ke kisaran 1,75–2,00 persen pada bulan ini mencapai 91,3 persen.

Sedangkan ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail, menyatakan tren pelemahan nilai tukar mata uang jelang agenda FOMC berpotensi terjadi pada negara emerging market yang memilki defisit transaksi berjalan.

Alhasil, sekalipun perdagangan di Indonesia libur, rupiah berpeluang besar kembali mengalami tren pelemahan.

Menurut dia, pada dasarnya kenaikan suku bunga acuan AS bakal menjadi sentimen utama yang berpotensi melemahkan rupiah setelah libur Lebaran berakhir nanti.

Apalagi, kenaikan tersebut juga berdampak pada naiknya nilai Credit Default Swap (CDS) atau persepsi risiko investasi Indonesia dan emerging market lainnya.

“Efek kenaikan Fed Fund Rate cukup besar bagi rupiah karena sekitar 40 persen utang Indonesia berdenominasi dollar AS,” ungkap Ahmad.

Cadangan Devisa

Dia menambahkan apabila rilis neraca perdagangan Indonesia pada 25 Juni nanti menunjukkan surplus maka ada potensi tekanan terhadap rupiah akan berkurang.

Sentimen seperti itu dibutuhkan mengingat cadangan devisa Indonesia sudah cukup terkuras akibat digunakan oleh Bank Indonesia (BI) untuk mengintervensi rupiah.

Akhir pekan lalu, ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengemukakan pelemahan terhadap rupiah juga disebabkan pemodal bereaksi negatif terhadap pengumuman cadangan devisa Indonesia per Mei 2018 yang terkikis 2 miliar dollar AS menjadi 122,9 miliar dollar AS.

Dengan demikian, sejak Januari– Mei 2018, cadangan devisa telah terkuras sembilan miliar dollar AS, terutama untuk stabilisasi rupiah.

Menurut Bhima, hal ini menjawab asumsi bahwa bukan hanya kenaikan bunga acuan BI yang berpotensi stabilkan kurs rupiah, tapi juga konsistensi BI untuk intervensi dengan menggunakan cadangan devisa.

Penurunan cadangan devisa mengindikasikan kemampuan bank sentral untuk intervensi rupiah makin berkurang. Dia juga memperkirakan suku bunga acuan BI akan dinaikkan lagi, paling tidak 0,25 persen, jika The Fed menaikkan bunga acuan.

“Pada momen ini biasanya rupiah bergejolak. Bisa jadi bunga acuan BI naik lagi 25 bps menjadi lima persen,” tukas Bhima. ahm/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment