RI Tahan Hadapi Tekanan bila Ekonomi Perdesaan Kuat | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 30 2020
1 Comment
Antisipasi Krisis I Perlu Dilakukan Pemerataan Pembangunan agar Ekonomi Perdesaan Meningkat

RI Tahan Hadapi Tekanan bila Ekonomi Perdesaan Kuat

RI Tahan Hadapi Tekanan bila Ekonomi Perdesaan Kuat

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

>> Ekonomi perdesaan mesti diperkuat daripada membuang- buang anggaran untuk segelintir importir.

>> Dana pembangunan perdesaan bisa menggunakan alokasi bunga obligasi rekapitalisasi perbankan eks BLBI.

JAKARTA – Perekonomian Indonesia akan tahan menghadapi tekanan akibat penurunan ekonomi global dan ancam­an krisis apabila ekonomi perdesaan kuat. Sebab, ekonomi perdesaan yang kuat berasal dari kegiatan ekonomi pro­duktif, tidak bergantung produk luar ne­geri, dan selalu mengutamakan muatan lokal. Selain itu, pembangunan ekonomi perdesaan juga bisa mendukung sistem industri nasional yang menggunakan lokal konten tinggi guna menciptakan produk substitusi impor.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Masyhuri, mengatakan pemerintah mesti melakukan penguatan ekonomi perdesaan daripada membuang-buang anggaran hanya untuk kepentingan segelintir pengusaha di perkotaan. “Se­perti saat ini, pemerintah mestinya sa­dar bahwa tidak bisa negara besar ini hidup tanpa petani di perdesaan,” kata­nya saat dihubungi, Selasa (10/3).

Masyhuri mengungkapkan, sudah berkali-kali krisis menghadang, na­mun masyarakat perdesaan tetap ber­tahan dengan hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. “Seharusnya perdesaan yang diberikan stimulus un­tuk meningkatkan produksi pertanian dan perkebunan, bukan pengusaha yang di kota, apalagi untuk kepentingan im­portir,” ujarnya.

Masyhuri menying­gung negara-negara maju yang tetap konsis­ten membangun perta­nian sehingga pereko­nomiannya tetap kuat manakala terancam krisis akibat terjadi pe­nurunan ekonomi glo­bal sebagai dampak dari wabah penyakit menular Covid-19. “Ne­gara maju saja selalu mengutamakan pangan untuk kepentingan da­lam negerinya. Artinya, negara maju selalu ber­usaha meningkatkan produksi pertanian agar tidak bergan­tung negara lain. Sementara negara kita malah bergantung negara lain, bahkan tetap impor sekalipun produk pertanian di dalam negeri melimpah,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Pusat Studi Masyarakat (PSM) Yogyakarta, Irsad Ade Irawan, mengatakan kemampuan masyarakat perdesaan bertahan di te­ngah gempuran krisis adalah kunci ke­tahanan nasional.

“Rakyat desa terus bertahan sekali­pun produk impor menyerang. Maka­nya, kalau tidak membangun ekonomi perdesaaan, Indonesia tidak akan bang­kit. Seelama ini kota justru memboros­kan dengan konsumsi dan menciptakan bubble property,” katanya (Koran Jakar­ta, 9 Maret 2020).

Ade menyatakan un­tuk membiayai pembangunan perdesaan, pemerintah bisa menggunakan anggaran dari alokasi pembayaran bunga obligasi rekapi­talisasi perbankan eks Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebe­sar 400 triliun rupiah per tahunnya. Caranya, pembayaran dimoratori­um selama tujuh tahun, kemudian digunakan untuk stimulus indus­tri nasional yang meng­gunakan lokal konten tinggi dan membangun perdesaan.

Nanti, setiap kali berputar akan bertumbuh dan kalau berputar puluhan kali akan bertumbuh puluhan kali lipat. De­ngan kata lain, dana pembayaran obli­gasi rekap dijadikan stimulus untuk sek­tor riil sehingga berputar puluhan kali dan bertumbuh puluhan kali sehingga menghasilkan pajak juga puluhan kali.

Peran Petani

Dihubungi terpisah, pengamat per­tanian dari Serikat Petani Indonesia, Ali Fahmi, mengatakan untuk meningkatkan ekonomi perdesaaan, sudah seharus­nya memberikan peran kepada petani. “Pemerintah harus memberikan kesem­patan kepada petani untuk memproduksi pangan dalam jumlah besar. Pemerintah juga harus masif membuat sawah baru yang dikelola secara maksimal melalui koperasi atau kelompok tani,” jelasnya.

Selain itu, ada kebijakan yang melin­dungi harga pokok produksi pertanian agar kompetitif dan membuat generasi muda mau kembali ke sawah. “Kalau harga produksi pertanian menguntung­kan sudah pasti banyak pemuda yang berminat,” kata Ali.

Sedangkan Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, mengatakan untuk dapat meningkatkan perekonomian desa perlu dilakukan pemerataan pembangunan. “Aktivitas di daerah, terutama di luar Jawa, harus ditingkatkan. Misalnya, de­ngan mempermudah pendirian industri dan memfasilitasi usaha petani agar ter­bangun produktivitas,” ujarnya.

Tauhid menambahkan, kebijakan pemerintah juga harus berpihak pada kepentingan dalam negeri. “Jangan se­tengah-setengah, seperti kebijakan se­tiap impor bawang putih diusahakan 5 persen untuk produksi dalam negeri. Na­mun, faktanya impor makin gencar, peta­ni tak kunjung bisa produksi,” tegasanya. YK/SB/uyo/AR-2

Klik untuk print artikel

View Comments

jessi
Rabu 11/3/2020 | 12:40
Ayoo.. Kunjungi dan bergabung bersama Dupa88 titik net sarana Game online yang memberikan kenyamanan buat para maniac gamers.!! Bonus bonus yang menakjubkan selalu di persiapkan
untuk teman teman yang ingin bergabung bersama yang kami, yuks.. jangan buang waktu segera buktikan kalau Dupa88 titik net paling best ya guys...

Submit a Comment