Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
Strategi Pembangunan - Harus Ada “Road Map” Bangun Tangga untuk Naik Kelas

RI Harus Perkuat Industri Dasar untuk Naik Kelas Jadi Negara Maju

RI Harus Perkuat Industri Dasar untuk Naik Kelas Jadi Negara Maju

Foto : koran jakarta
A   A   A   Pengaturan Font

>>Industri nasional harus dibela karena menciptakan lapangan kerja dan menghemat devisa.

>>Industri dasar dimatikan, yang dibangun industri biaya tinggi andalkan bahan baku impor.

 

JAKARTA - Indonesia harus membangun industri dasar untuk naik kelas menjadi negara maju. Sebab, pengembangan industri dasar ibarat membangun anak tangga sebagai fondasi untuk naik kelas secara bertahap hingga menjadi negara besar.

Belum terlambat bagi Indonesia untuk bangkit, kalau dimulai dari sekarang. Untuk itu, pemerintah harus menyusun peta jalan (road map) penguatan sektor industri nasional secara bertahap, dimulai dari realita yang ada saat ini.

Industri nasional harus dibela karena menciptakan lapangan kerja, dan menghemat devisa. Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Y Sri Susilo, mengemukakan selama ini industri dasar justru dimatikan, yang dibangun industri biaya tinggi mengandalkan bahan baku impor.

Sistem kronisme menciptakan ekonomi yang bergantung impor, tidak mau ada industri yang kuat.

Pesaingnya dijatuhkan dengan cara melawan hukum. Kondisi seperti ini jelas mengindikasikan tidak ada kepastian hukum.

“Akibatnya, perusahaan di dalam negeri saja tidak bisa berkembang, bagaimana mau menarik masuk investor asing yang tidak mengenal lapangan,” papar dia, ketika dihubungi, Senin (16/4).

Kesulitan menarik investor asing, antara lain, terlihat pada kunjungan Raja Salman di Indonesia beberapa waktu lalu. Raja Arab Saudi itu berkunjung 12 hari, tapi uang yang ditanamkan Arab di Indonesia hanya enam miliar dollar AS.

Nilai itu kalah jauh dibandingkan dengan investasi di Tiongkok, sebesar 65 miliar dollar AS, yang hanya dikunjungi beberapa hari.

Tiongkok kini dinilai menjadi tujuan investasi yang lebih menguntungkan karena memiliki struktur industri yang kuat dan mampu bersaing dengan negara yang lebih dulu maju.

Padahal, awalnya Tiongkok menjadi konsumen teknologi Jerman, dalam waktu belasan tahun, Tiongkok berhasil membangun industri nilai tambah teknologi permesinan tingkat tinggi untuk menjadi pesaing industri Jerman.

Tiongkok yang menjelma menjadi negara hebat itu membuat Jerman kewalahan. Selama puluhan tahun, Jerman jual mesin ke Tiongkok, tapi diam-diam Tiongkok belajar dan membangun industri sendiri. Jerman mengira Tiongkok bakal tergantung, tapi ternyata tidak.

Jerman mau keluar tidak bisa, sudah terlanjur besar. Ini disebut boiled frog syndrome. Artinya, katak yang berada dalam rebusan air, tidak bisa keluar lama-kelamaan akan mati.

Susilo mengingatkan agar pemerintah menyadari bahwa kelemahan Indonesia akan menjadi keuntungan bagi negara lain. Oleh karena itu, pemerintah harus membangun kemandirian, terutama di bidang pangan, energi, industri nasional, dan anggaran negara.

Menurut dia, selama 13 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mengandalkan konsumsi yang sekitar 80 persen berasal dari impor. Semestinya, kesalahan pemerintahan sebelumnya jangan diteruskan pemerintahan sekarang.

“Jika hal ini tidak dirombak total, kita sulit keluar dari ketertinggalan. Jor-joran kredit dan pembangunan properti tidak akan menghasilkan pertumbuhan berkualitas,” tukas Susilo.

Dia pun mencontohkan ketertinggalan Indonesia dalam pengembangan industri otomotif. Sudah 40 tahun Indonesia bergantung impor komponen mobil. Padahal, Tiongkok dalam 10 tahun sudah mampu memproduksi sendiri, bahkan diekspor. Itu baru mobil, belum mesin lainnya.

Bangun Kemandirian

Terkait dengan kemandirian, sebelumnya sejumlah kalangan mengemukakan ekonomi Indonesia bakal bangkit dan menjadi negara maju apabila mampu mewujudkan kemandirian di bidang pangan,

energi, industri nasional, dan kemandirian APBN yang terbebas dari beban obligasi rekapitalisasi perbankan eks Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Pemerintah mesti melakukan reformasi total yang holistik di bidang-bidang tersebut.

Pengamat ekonomi internasional dari Universitas Jember, M Iqbal, menambahkan Indonesia tidak bisa survive dengan window dressing atau hanya mempercantik angkaangka indikator makroekonomi, tanpa membangun industri dasar yang menjadi tangga untuk naik kelas.

Apabila terus mengandalkan impor maka tangga tidak akan dibangun. “Faktanya, tidak ada negara lain yang menginginkan Indonesia maju. Mereka menginginkan kita terus bergantung. Apalagi kalau menteri tidak mau bekerja keras, hanya mengandalkan impor, bagaimana kita mau maju,” tegas dia. SB/YK/ahm/WP

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment