Koran Jakarta | July 17 2018
No Comments
SAINSTEK

Residu Tanaman untuk Produksi Bioetanol

Residu Tanaman untuk Produksi Bioetanol

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Berkat proses yang lebih mutakhir, industri bisa menjadi lebih berkelanjutan dan bisa menggunakan limbah pertanian atau industri untuk memroduksi bioetanol.

Sebuah proyek penelitian yang dilakukan Ramkumar Nair, mahasiswa program doktoral di University of Borås, Swedia, menghasilkan temuan baru. Yakni sebuah proses baru yang memungkinkan untuk menghasilkan bioetanol dari limbah pertanian dan industri pabrik.

“Saya sudah menguji sebuah proses yang kami harap bisa bekerja pada skala industri, ketika teknologi ini digunakan pada pabrik etanol yang sudah ada,” kata Nair. “Berkat proses baru ini, industri bisa menjadi lebih berkelanjutan dan menggunakan limbah pertanian atau industri untuk produksi bioetanol,” tambah Nair. Bioetanol digunakan antara lain untuk bahan bakar untuk mobil etanol.

Untuk memperoduksi bioetanol biasanya menggunakan sejumlah bahan seperti gandum, tebu, ataupun dari jagung. Di Swedia, sendiri biasanya produk bioetanol menggunakan gandum sebagai bahan baku yang paling umum digunakan “Tapi ini (Gandum, Tebu, jangung dan lain-lain, Red) adalah hasil panen yang bisa dijadikan nutrisi untuk manusia,” kata Ramkumar Nair.

“Kami rasa apa yang kami kembangkan ini lebih berkelanjutan jika kita bisa menggunakan limbah untuk menghasilkan bahan bakar, dan ini adalah sesuatu yang telah kita kerjakan di beberapa proyek di University of Borås ini,” tambah Nair. Ramkumar Nair mengatakan bahwa penelitian dan proyek pilot mereka disebut sebagai proses etanol generasi kedua, sedangkan produksi industri saat ini disebut proses etanol generasi pertama.

Ramkumar sekarang sudah menguji sebuah proses yang mengintegrasikan proses etanol generasi pertama dan kedua tersebut. Tidak Perlu Investasi Besar “Ini berarti residu pertanian, seperti jerami, dedak, atau sejenisnya dapat digunakan untuk membuat etanol tanpa melakukan investasi besar di pabrik-pabrik. Yang kita butuhkan sudah ada di sana.

Anda bisa menggunakan pabrik-pabrik reaktor yang ada. Ini juga menghilangkan beban penggunaan bahan makanan untuk menghasilkan bahan bakar kendaraan,” kata Nair. Dalam penelitiannya, Ramkumar telah menganalisis struktur proses etanol generasi pertama dan menemukan di mana fokusnya seharusnya ia kembangkan.

Tantangan terbesar adalah tidak menambahkan bahan kimia untuk memecah bahan limbah untuk proses etanol, karena residu dari pabrik etanol antara lain akan digunakan untuk pakan ternak. “Apa yang kami tambahkan seharusnya tidak menghentikan fermentasi,” kata Ramkumar Nair. “Setelah beberapa tes, pilihannya adalah menambahkan asam fosfat. Ini bagus untuk hewan yang memakan sisa makanan dan memberi hasil bagus dalam proses fermentasi etanol,” jelasnya lagi.

Seluruh metode ini pertama kali diuji dalam skala kecil di laboratorium di University of Borås, kemudian di fasilitas yang lebih besar di Borås Energi och Miljö, dan akhirnya pada skala yang lebih besar lagi di SEKAB di Örnsköldsvik. Jamur untuk Integrasi Agar berhasil dengan integrasi, digunakan jamur filamen yang dapat dimakan, Neurospora intermedia, yang merupakan jamur yang digunakan untuk konsumsi manusia, salah satunya di Indonesia.

Jamur memiliki kemampuan memproduksi etanol yang baik dan juga merupakan bahan makanan yang baik karena kandungan proteinnya yang tinggi. Jamur ini mudah tumbuh di lingkungan laboratorium. “Salah satu kesulitan saat menggunakan jamur adalah gumpalan yang menjadi tantangan dalam proses industri, namun saya telah berhasil membuat jamur ini untuk membentuk bola kecil atau pelet/ baturian, bukan benjolan.

Ada jamur lain yang membentuk butiran, tapi saya yang pertama membuat intermedia Neurospora untuk melakukannya diaman butiran-butiran ini tidak terjebak, mereka berguling, dan dalam beberapa kasus, lebih baik untuk proses fermentasi,” tambah Nair. Rasanya rumit untuk mengetahui bagaimana melakukannya, tapi begitu itu dilakukan metode pembuatan jamur berupa pelet bukan benjolan yang cukup sederhana.

Kini proyek ini diharapkan akan terus berlanjut ke industri untuk mengembangkan dan menyempurnakan prosesnya dalam skala yang lebih besar. Seluruh konsep integrasi dan hasilnya sekarang termasuk dalam paten yang dimiliki oleh Lantmännen Agroetanol, yang merupakan salah satu mitra proyek penelitian Ramkumar Nair.

Sekarang ada pembuktian berbasis penelitian untuk prosesnya, agar industri dapat terus berlanjut dan terus mengembangkannya. “Saya berharap dalam beberapa tahun ini, saya akan melihat pabrik etanol generasi pertama berskala besar yang memproduksi bioetanol dari limbah pertanian, dengan menggunakan model integrasi ini,” terang Nair.

Proyek penelitian ini terutama dibiayai oleh Formas, A Swedish Research Council for Sustainable Development, dan Swedish Energy Agency. Proyek ini telah dilaksanakan di Swedish Center for Resource Recovery di University of Borås, Swedia. 

 

nik/berbagai sumber/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment