Residu Antibiotik Ayam | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 11 2019
No Comments

Residu Antibiotik Ayam

Residu Antibiotik Ayam

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh drh setyo yudhanto, msc

Produk-produk olahan ayam merupa­kan sum­ber protein hewani yang digemari ma­syarakat. Dia memiliki gizi tinggi dan lezat. Harganya pun terjangkau. Namun, bela­kangan berkembang kekhawa­tiran, konsumsi produk tersebut dapat menyebabkan efek nega­tif pada hewan maupun manu­sia. Produk olahan ayam yang tidak ditangani dengan baik dapat memba­hayakan kesehatan. Maka, keamanan pa­ngan berbasis ternak tak bisa ditawar (Wi­narno, 1996).

Bahayanya an­tara lain penularan penyakit melalui pangan serta kon­taminan bahan kimia dan bahan toksik, termasuk residu an­tibiotik. Secara tidak sadar, konsumsi te­rus menerus produk dengan cemaran an­tibiotic, tubuh dapat resisten antibiotik.

Kekebalan antibiotik di­sebabkan pemakaian antibi­otik yang tidak bijaksana pada ayam sebagai pemacu pertum­buhan (Antibiotic Growth Pro­moters/AGP). Beberapa anti­biotik yang banyak dipakai sebagai AGP antara lain dari golongan tetracyclin, penicil­lin, macrolida, lincomysin, dan virginiamycin. Pada hewan ternak yang ha­nya hidup kurang lebih satu bulan seperti ayam pedaging, sisa antibi­totik dalam tubuhnya terakumulasi karena be­lum melewati waktu paruh un­tuk dikeluarkan dari tubuh.

Jika terus-menerus berbagai antibiotik terakumulasi dalam tubuh, dapat berkontribusi terjadinya resistensi antibiotik baik hewan maupun manusia. Umumnya, manusia resistensi antibiotik dari konsumsi lang­sung pangan olahan asal he­wan atau bakteri lingkungan.

Resistensi antibiotik dapat menjadikan bakteri penyebab penyakit, seperti campy­lobacter dan salmonella men­jadi kebal terhadap beberapa jenis antibiotik. Ini menyebab­kan sulitnya pengobatan in­feksi bakteri pada manusia. Hal ini dapat membahayakan jiwa seseorang. Sebab jika ter­jadi infeksi karena bakteri tersebut akan sulit disem­buhkan dan dapat mema­tikan.

Sampai tahun 2013, WHO melaporkan total kematian akibat resistensi terhadap antibiotik men­capai 700 ribu jiwa. Diprediksi pada 2050 mendatang ada 10 juta jiwa per tahun berisiko terkena resistensi antibiotik. Kerugian­nya 100 triliun dollar AS.

Untuk mengurangi risiko resistensi an­tibiotik terhadap bakteri pada produk pangan asal hewan, WHO dan Uni Eropa mene­rapkan peraturan penggunaan antibiotik sebagai feed additive (pakan imbuhan) maksimum dan minimum. Pemakaian an­tiobiotik pada pakan harus be­refek pada produksi ternak, ti­dak membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Level an­tibiotika terkontrol. Tidak boleh melebihi dosis pengobatan dan pencegahan penyakit hewan. Kemudian, tidak boleh dipakai sebagai pengobatan hewan.

Sebelum dilarang di Indo­nesia, AGP biasa digunakan pada pemeliharaan ayam. Pemberian antibiotik dalam pakan berguna untuk mence­gah tumbuhnya bakteri me­rugikan pada saluran pencer­naan. Efeknya, konversi pakan menjadi bobot badan dan efek­tifitas produksi secara keselu­ruhan meningkat.

Larangan AGP diberlakukan Kementan tahun 2017. Dari sisi peternak, larangan pengguna­an AGP, produksi turun drastis. Industri peternakan tertekan karena industri maupun pe­merintah belum siap dengan penggantinya. Peternak sulit menghasilkan ayam berbobot sama saat menggunakan AGP.

Harga bahan baku pakan yang semakin melambung tinggi pun mengakibatkan pe­ternak ayam kian merugi. Tam­bah lagi, adanya permainan harga. Harga jual ayam dari peternak turun, di pasar tetap mahal. Larangan AGP harus di­selesaikan pemerintah, indus­tri peternakan, akademisi, dan peternak.

Sinergi tersebut akan me­ningkatkan kembali kondisi peternakan. Pemerin­tah dapat membuat kebijakan tentang tata cara budi daya untuk mengurangi residu antibiotik serta mengawasi praktik di lapangan. Pemerintah juga harus mendorong inovasi-inovasi un­tuk menciptakan pakan yang setara kualitasnya de­ngan penggunaan AGP.

Praktik per­mainan harga yang akan mem­perkeruh kondisi industri peternakan harus diberantas. Peternak juga da­pat mengubah pola budi daya, dengan mempraktikkan good farming practice. Saat ini, peternak belum dapat beradaptasi dengan baik ter­hadap larangan AGP. Belum ada panduan standar operasional.

Larangan menggu­nakan AGP sejatinya dapat diantisipasi dengan mening­katkan biosecurity dan me­nambah vitamin serta feed supplement. Perusahaan besar harus mengubah formula pa­kan untuk meningkatkan daya tahan ternak dengan feedmill. Namun, biaya akan naik.

Fungsional

Bisa alternatif pakan fung­sional untuk ternak ayam de­ngan memanfaatkan bahan tambahan dari zat-zat bersi­fat obat alami dari tumbuh­an. Imbuhan pakan fitogenik biasanya didefinisikan sebagai senyawa tambahan sebagai hasil metabolisme sekunder tanaman. Dia mengandung se­nyawa bernilai nutrisi dicam­purkan ke dalam pakan untuk meningkatkan produktivitas ternak. Caranya, memperbaiki pakan dan meningkatkan ke­sehatan saluran pencernaan dengan mengkontrol bakteri pathogen. Kemudian, mening­katkan produksi dan kualitas produk ternak.

Para peneliti terus berusaha mencari alternatif pemacu per­tumbuhan seperti antibiotik dalam meningkatkan kese­hatan dan produktivitas ayam (Barreto et al, 2008). Pemacu pertumbuhan alternatif yang sering digunakan dalam pakan adalah probiotik, prebiotik, en­zim, acidifier, antioksidan, dan imbuhan pakan asal tumbuhan (Peri et al, 2009).

Tumbuhan yang mengan­dung komponen bioaktif dapat dioptimalkan sebagai pakan imbuhan untuk menunjang produktivitas ternak. Tumbuh­an yang mempunyai potensi untuk menjadi pakan fung­sional menggantikan AGP, di antaranya jahe yang memiliki zat antioksidan, ekstrak daun jambu biji, kunyit dan cengkeh yang dapat menekan pertum­buhan bakteri. Juga biji wijen, tomat, jinten hitam, daun sir­sak dan virgin coconut oil dari kelapa.

Bahan-bahan tersebut me­ngandung zat alami. Dalam dosis yang tepat memiliki ke­mampuan meningkatkan pe­nyerapan pakan pada tubuh. Dia juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti antibiotik, menjaga kesehatan saluran pencernaan unggas, dan meningkatkan kekebalan tubuh. Tentu saja dia tidak me­nimbulkan residu antibiotik, sehingga aman bagi ternak maupun manusia meski dikon­sumsi jangka panjang.

Namun, sangat disayangkan banyak potensi pakan fung­sional tersebut belum diopti­malkan, hanya berupa riset. Anjuran penggunaan ramuan kunyit seperti dilakukan Dinas Peternakan dan Kesehatan He­wan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, juga hanya bersifat lo­kal. Potensi pakan fungsional masih perlu dikembangkan agar dapat diproduksi secara luas dalam skala industri.

Indonesia sangat kaya ba­han-bahan alami yang berpo­tensi sebagai pengganti anti­biotik pakan. Pemanfaatannya sangat tergantung pada ke­mauan untuk dikembangkan. Sayang andai ini tidak diman­faatkan secara optimal untuk kebaikan bersama. Penulis Dokter Hewan Lulusan Tsukuba Life Science Innovation, University of Tsu­kuba, Jepang

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment