Koran Jakarta | September 16 2019
No Comments
Antisipasi Krisis I Seperempat Emiten BEI Andalkan “Refinancing”

Resesi Besar di Depan Mata

Resesi Besar di Depan Mata

Foto : Sumber: BPS, IMF – Litbang KJ/and - KORAN JAKARTA/ONES
Negara maju adalah sebutan untuk 39 negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi dengan pendapatan per kapita lebih dari US$11.906 Negara berkembang adalah sebutan untuk 155 negara termasuk Indonesia yang memiliki pendapatan per kapita antara US$3.856 dan US$11.905
A   A   A   Pengaturan Font
Utang meningkat tapi ekonomi tidak jalan. Pada akhirnya PHK merebak, kredit macet melesat, dan krisis ekonomi akan menghantam.

 

JAKARTA – Sejumlah kalangan mengingat­kan Indonesia mesti mewaspadai meningkatnya potensi resesi besar ekonomi global, antara lain ditandai dengan tren peningkatan utang global yang justru diikuti oleh penurunan pertum­buhan ekonomi dunia. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dinilai turut memperbesar peluang resesi dunia tersebut.

Sementara itu, gejala krisis akibat ekonomi yang dipompa oleh utang juga dialami Indo­nesia. Bahkan, ekonom menyebutkan hampir seperempat perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu faktor yang dapat memicu krisis tahun depan. Sebab, seba­nyak 24 persen emiten tersebut merupakan per­usahaan “zombie” karena hanya mengandalkan sistem pembiayaan kembali (refinancing).

Ekonom Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng, mengungkapkan sebelum Presiden AS, Donald Trump, meng­obarkan perang dagang, sesungguhnya ekonomi dunia telah mendapati masalah, yakni pertum­buhan ekonomi Tiongkok yang terus menurun, dari dua digit menjadi stagnan di kisaran 6 per­sen. Angka tersebut tidak cukup untuk menggen­jot ekonomi dunia. Masalah makin pelik karena pertumbuhan yang rendah itu ditopang oleh utang global yang meningkat secara fantastis. Utang publik Tiongkok juga meningkat pesat.

“Media ekonomi dunia seperti Financial Times sudah mengungkap bagaimana bahay­anya peningkatan utang dunia dan utang pub­lik Tiongkok. NPL (kredit macet) di bank kecil di Tiongkok melesat sampai 40 persen. Dan hari ini, dunia tengah dibayangi tekanan ter­jadinya resesi global,” jelas Salamuddin, ketika dihubungi, Senin (12/8).

Analis Moody’s Analytics, Steven G Cocrane dan Katrina Ell, akhir pekan lalu juga melapor­kan meningkatnya peluang terjadinya resesi global dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, dari 40 persen menjadi 50 persen. Ini disebabkan perang dagang yang kian memanas hingga bisa beranjak menjadi perang mata uang.

“Perang dagang telah meningkat melampaui perkiraan dan kemungkinannya tinggi untuk me­nekan ekonomi global. Peluang resesi global te­lah meningkat menjadi 50 persen,” kata mereka.

Kondisi RI

Indonesia, menurut Salamuddin, berada da­lam tekanan berat karena defisit transaksi ber­jalan atau current account deficit (CAD) kembali mencetak rekor pada kuartal II-2019 hingga lebih dari 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal sepanjang 2018, CAD telah mencapai 31,06 miliar dollar AS atau setara 441,05 triliun rupiah (pada kurs 14.200 rupiah/dollar AS).

“Ini adalah nilai yang sangat besar yang be­lum pernah terjadi sejak Indonesia berdiri. Ni­lai defisit yang sangat membahayakan masa depan ekonomi dan kedaulatan bangsa Indo­nesia,” tukas dia.

Menurut Salamuddin, bahaya dari melesat­nya CAD adalah untuk menutup defisit ter­sebut utang pemerintah dan juga swasta bakal terus naik. Hingga kuartal I-2019 utang luar ne­geri (ULN) pemerintah dan otoritas moneter mencapai 190,46 miliar dollar AS, sedangkan ULN swasta 197,13 miliar dollar AS.

“Utang meningkat, ekonomi tidak jalan. Pada akhirnya PHK (pemutusan hubungan kerja), NPL bank melesat, krisis ekonomi akan menghantam tanpa kita bisa berbuat apa-apa, karena negara saat ini benar-benar tidak punya uang, tidak seperti pada 1998,” papar dia

Emiten “Zombie”

Ekonom senior, Rizal Ramli, menjelaskan jumlah perusahaan “zombie” di BEI itu ber­dasarkan hasil riset Nikkei Asian Review baru-baru ini. Sejumlah emiten tak mampu menutup utangnya dari laba dan pendapatan, sehingga terpaksa terus melakukan refinancing.

“Itu perusahaan ‘zombie’, perusahaan yang untuk bayar bunganya saja harusnya dari keun­tungan bisa, tapi ini tidak,” tegas Rizal, yang juga mantan Menko Bidang Kemaritiman itu, Senin.

Jika perusahaan terus melakukan refinanc­ing, maka utang semakin menumpuk. Rizal menilai kinerja keuangan perusahaan terkait akan sulit meningkat karena kondisi mak­roekonomi juga belum sepenuhnya membaik.

“Kebanyakan sektor properti, penjualan jatuh. Tapi bunga jalan terus. Diprediksi pertumbuhan ekonomi anjlok ke 4,5 persen, macam-macam bisulnya mulai kelihatan semua. Kalau meledak, terjadilah krisis yang sesungguhnya,” tukas Rizal.

Sebagaimana dikabarkan, outstanding kre­dit properti di perbankan nasional yang tem­bus 900 triliun rupiah juga dinilai mengarah pada bubble properti, sehingga berpotensi me­ningkatkan risiko krisis. YK/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment